Mendikbudristek Temukan 817 Bahasa Daerah di Indonesia, Kekayaan Budaya yang Perlu Dilestarikan
Mendikbudristek mengungkapkan kekayaan bahasa daerah Indonesia mencapai 817 jenis, terutama di Papua, dan mendorong integrasi muatan lokal dalam kurikulum untuk pelestariannya.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Abdul Mu'ti, baru-baru ini mengumumkan temuan mengejutkan terkait kekayaan bahasa daerah Indonesia. Dalam kunjungannya ke Bengkulu, beliau menyatakan bahwa terdapat 817 bahasa daerah di seluruh Indonesia. Jumlah ini menunjukkan betapa kayanya keragaman budaya Indonesia, dengan Papua sebagai provinsi dengan jumlah bahasa daerah terbanyak, mencapai 400 bahasa. Pengumuman ini disampaikan setelah peresmian Balai Bahasa Bengkulu pada Kamis, 27 Februari.
Penemuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan di Indonesia. Mendikbudristek menekankan pentingnya integrasi bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam kurikulum pendidikan. Dengan menjadikan bahasa daerah sebagai muatan lokal, pembelajaran akan lebih intensif, dan upaya pelestarian bahasa daerah dapat dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk melestarikan warisan budaya bangsa.
Lebih lanjut, Mendikbudristek menjelaskan bahwa kurikulum muatan lokal bahasa daerah yang wajib di setiap daerah akan memiliki standar dan pencapaian yang jelas. Standar ini tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguasaan bahasa daerah sebagai identitas suatu daerah. Dengan demikian, bahasa daerah tidak hanya dilihat sebagai bagian dari budaya, tetapi juga sebagai alat komunikasi yang penting dalam kehidupan masyarakat.
Kekayaan Bahasa Daerah Bengkulu dan Upaya Pelestariannya
Provinsi Bengkulu sendiri, menurut Kepala Balai Bahasa Bengkulu, Dwi Laily Sukmawati, memiliki tiga bahasa daerah utama: bahasa Bengkulu, bahasa Enggano, dan bahasa Rejang. Namun, kekayaan bahasa Bengkulu tidak berhenti sampai di situ. Provinsi ini juga memiliki beragam dialek, seperti dialek Pekal, Nasal, Lembak, Melayu Kota, Mukomuko, Serawai, dan Kaur. Keberagaman ini menunjukkan kekayaan budaya lokal yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Balai Bahasa Bengkulu telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan bahasa daerah di wilayah tersebut. Upaya-upaya tersebut meliputi revitalisasi bahasa daerah melalui koordinasi dengan pemangku kebijakan, penyusunan materi pembelajaran untuk guru, dan pelaksanaan festival bahasa daerah. Selain itu, Balai Bahasa Bengkulu juga aktif dalam menyusun kamus bahasa daerah, menyediakan literasi bahasa, menerjemahkan teks dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia, dan membuat konten digital menggunakan bahasa daerah.
Dengan beragam kegiatan tersebut, Balai Bahasa Bengkulu berharap dapat menjaga kelangsungan hidup bahasa daerah di Bengkulu. Upaya ini sejalan dengan visi pemerintah untuk melestarikan kekayaan budaya Indonesia, termasuk keragaman bahasanya. Pelestarian bahasa daerah bukan hanya sekadar menjaga identitas budaya, tetapi juga menjaga keberagaman dan kekayaan intelektual bangsa.
Kesimpulannya, temuan 817 bahasa daerah di Indonesia menjadi bukti nyata betapa kayanya keragaman budaya Indonesia. Integrasi bahasa daerah ke dalam kurikulum pendidikan dan upaya pelestarian yang dilakukan oleh berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga warisan budaya tak benda ini untuk generasi mendatang. Upaya-upaya ini menunjukkan komitmen pemerintah dan masyarakat dalam menjaga keberagaman dan kekayaan budaya Indonesia.