Meriahnya Adat Tiu di Lombok Timur: Ratusan Kuda Ramaikan Lebaran
Warga Desa Jantuk, Lombok Timur, merayakan Idul Fitri dengan tradisi Adat Tiu, yaitu pawai ratusan kuda yang melibatkan warga lokal dan luar daerah, sebagai ajang silaturahmi dan kebersamaan.

Ratusan kuda berarak di Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada perayaan Idul Fitri 1446 Hijriah. Acara adat Tiu, tradisi menunggang kuda, menjadi daya tarik utama perayaan tahun ini. Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari ini melibatkan warga lokal dan kuda-kuda yang didatangkan dari luar daerah, menciptakan pemandangan yang meriah dan semarak.
Menurut Athar, warga Desa Jantuk, sekitar 280 kuda turut serta dalam acara adat Tiu tahun ini. Kuda-kuda tersebut merupakan gabungan dari kuda milik warga setempat dan kuda yang disewa khusus untuk memeriahkan acara tersebut. Ribuan warga memadati jalan desa untuk menyaksikan atraksi menunggang kuda ini, sebuah pemandangan yang menggambarkan kentalnya tradisi dan kebersamaan masyarakat setempat.
Adat Tiu bukan sekadar atraksi menunggang kuda, melainkan juga menjadi ajang silaturahmi yang kuat. Sebelum acara dimulai, warga Desa Jantuk, termasuk mereka yang merantau ke luar daerah dan pulang untuk acara ini, berkumpul untuk bersalam-salaman dan saling memaafkan, mempererat tali persaudaraan di momen Idul Fitri. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi warga Desa Jantuk dalam menjaga hubungan kekeluargaan dan kebersamaan.
Tradisi Menunggang Kuda Turun-Temurun
Adat Tiu, tradisi menunggang kuda di Desa Jantuk, telah dilakukan secara turun-temurun oleh warga setempat. Setiap perayaan Idul Fitri, tradisi ini selalu digelar, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan hari raya umat muslim di desa tersebut. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya akar budaya dan tradisi dalam kehidupan masyarakat Desa Jantuk.
Keunikan Adat Tiu terletak pada partisipasi warga yang sangat antusias. Warga keturunan Desa Jantuk yang tinggal di luar daerah rela pulang kampung untuk ikut serta dalam acara ini. Hal ini menunjukkan rasa memiliki dan kecintaan mereka terhadap tradisi leluhur.
Selain itu, acara ini juga menjadi bukti nyata bagaimana tradisi lokal dapat menjadi perekat sosial yang kuat di tengah masyarakat modern. Adat Tiu tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga sebagai media untuk mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan antar warga.
Pengamanan Adat Tiu
Polsek Sukamulia, dibantu oleh pemerintah desa dan panitia acara, memberikan pengamanan selama pelaksanaan Adat Tiu. Kapolsek Sukamulia, AKP Fathurrahman, menyatakan salut atas kerjasama masyarakat Jantuk dalam menjaga keamanan dan kelancaran acara tersebut. Hal ini menunjukan sinergi yang baik antara pihak keamanan dan masyarakat dalam menjaga kondusifitas acara adat.
Kerja sama yang baik antara aparat keamanan, pemerintah desa, dan panitia acara memastikan kelancaran dan keamanan selama gelaran Adat Tiu. Hal ini menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga kelestarian tradisi sekaligus memastikan keselamatan dan kenyamanan seluruh peserta dan penonton.
Berkat kerja sama yang solid, Adat Tiu tahun ini berjalan dengan lancar dan aman. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa tradisi dan keamanan dapat berjalan beriringan, menciptakan perayaan Idul Fitri yang meriah dan penuh makna.
Adat Tiu di Desa Jantuk menjadi contoh nyata bagaimana sebuah tradisi lokal dapat menjadi perekat sosial, menjaga silaturahmi, dan melestarikan budaya. Acara ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat.