MPR Tekankan Ketahanan Energi Indonesia: Transisi Bertahap, Manfaatkan CCS
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mendorong pembangunan ketahanan energi Indonesia melalui pengembangan energi terbarukan dan teknologi CCS, serta transisi energi bertahap hingga 2035.

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menekankan pentingnya pembangunan ketahanan energi Indonesia. Pernyataan ini disampaikan saat beliau menerima kunjungan pimpinan perusahaan migas BP Indonesia dan Chevron Indonesia di Gedung Nusantara III MPR RI, Jakarta, Selasa (25/3). Kunjungan tersebut membahas strategi pengembangan energi nasional dan peran perusahaan migas dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.
Indonesia, yang kaya akan sumber daya energi fosil dan terbarukan, masih bergantung pada impor energi. Hal ini mendorong MPR untuk memprioritaskan pengembangan energi dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Eddy Soeparno menegaskan komitmen Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi dengan mengembangkan sumber energi terbarukan dan meningkatkan produksi migas sebagai substitusi impor.
Pertemuan tersebut juga membahas rencana investasi miliaran dolar dari BP Indonesia dan Chevron Indonesia dalam pengembangan bisnis karbon rendah di Indonesia. Investasi ini dinilai sangat penting untuk mendukung transisi energi dan perekonomian Indonesia.
Investasi Carbon Capture and Storage (CCS) dan Transisi Energi
Eddy Soeparno mengapresiasi rencana investasi kedua perusahaan migas tersebut dalam pengembangan carbon capture and storage (CCS). Indonesia memiliki potensi besar dalam hal penyimpanan karbon, dengan lokasi yang strategis dan biaya transportasi yang terjangkau ke negara-negara seperti Singapura, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan. Pengembangan CCS ini diyakini akan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia, termasuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan devisa negara.
Teknologi CCS akan mendukung upaya Indonesia dalam menurunkan emisi karbon, terutama dari sektor industri semen, baja, petrokimia, dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara. Dengan menangkap emisi karbon yang dihasilkan, teknologi ini berkontribusi pada pengurangan dampak lingkungan dan mendukung komitmen Indonesia terhadap keberlanjutan lingkungan.
Lebih lanjut, Eddy Soeparno menjelaskan bahwa transisi energi di Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Namun, transisi ini akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan tetap memprioritaskan ketahanan energi nasional. Penggunaan energi fosil tidak akan dihilangkan secara tiba-tiba, melainkan akan dikurangi secara bertahap sesuai dengan Kebijakan Energi Nasional terbaru.
Kebijakan Energi Nasional dan Bauran Energi 2035
Menurut Eddy Soeparno, Kebijakan Energi Nasional memproyeksikan keseimbangan antara bauran energi fosil dan terbarukan pada tahun 2035. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk melakukan transisi energi secara terencana dan bertanggung jawab, memastikan ketahanan energi tetap terjaga sambil mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Pengembangan energi terbarukan seperti matahari, panas bumi, dan angin akan menjadi fokus utama dalam transisi energi ini. Namun, peran energi fosil tetap penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi hingga tercapainya target bauran energi yang seimbang pada tahun 2035. Hal ini menunjukkan pendekatan yang realistis dan terukur dalam mencapai target transisi energi.
Dengan demikian, strategi Indonesia dalam membangun ketahanan energi berfokus pada pengembangan energi terbarukan, peningkatan produksi migas dalam negeri, dan pemanfaatan teknologi CCS. Semua upaya ini dilakukan secara bertahap dan terencana untuk memastikan transisi energi yang sukses dan berkelanjutan, tanpa mengorbankan ketahanan energi nasional.
"Indonesia akan menguatkan ketahanan energinya dengan mengembangkan sumber energi terbarukan seperti matahari, panas bumi, angin dan juga meningkatkan produksi migas sebagai substitusi impor minyak mentah dan LPG," kata Eddy Soeparno.