PMI Gunungkidul Diminta Lebih Profesional Tangani Bencana
Pemkab Gunungkidul meminta Palang Merah Indonesia (PMI) setempat meningkatkan profesionalisme dalam penanganan bencana dan kondisi darurat, mengingat tingginya potensi bencana di wilayah tersebut.

Gunungkidul, 24 Maret 2024 - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menekankan pentingnya profesionalisme Palang Merah Indonesia (PMI) dalam menjalankan tugas kemanusiaan, khususnya dalam penanganan bencana dan kondisi darurat. Hal ini disampaikan Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, dalam pembukaan Musyawarah Kabupaten (Muskab) PMI Kabupaten Gunungkidul Masa Bakti 2025-2030 pada Senin lalu. Peran PMI yang seringkali tak terlihat, namun memiliki tanggung jawab besar terhadap masyarakat, terutama saat bencana, menjadi sorotan utama.
Joko Parwoto menjelaskan, peran PMI tidak hanya sebatas donor darah. "Selama ini, masyarakat lebih mengenal PMI dalam kegiatan donor darah, padahal peran PMI jauh lebih luas," ujarnya. Ia berharap PMI Gunungkidul mampu mengakses pendanaan dari sumber nasional dan internasional untuk mendukung berbagai program kemanusiaan. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dan integritas dalam menjalankan tugas, mengingat tingginya potensi bencana di Gunungkidul. "Potensi bencana di Gunungkidul menjadi tantangan tersendiri, dan PMI harus siap dan ikhlas dalam memberikan pertolongan kepada masyarakat," tegasnya.
Muskab PMI Gunungkidul ini juga menjadi momentum penting untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan periode sebelumnya dan merumuskan program kerja lima tahun ke depan. Acara ini dihadiri oleh 31 peserta yang akan menentukan arah kebijakan PMI Gunungkidul untuk masa mendatang. Salah satu poin penting yang dibahas adalah peningkatan profesionalisme dalam penanganan bencana, mengingat tingginya risiko bencana di wilayah tersebut.
Pentingnya Profesionalisme dan Kebijaksanaan Pengurus PMI
Ketua PMI DIY, Gusti Prabukusumo, turut memberikan arahan dalam Muskab tersebut. Ia menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam kepengurusan PMI. Pengurus, menurutnya, harus memiliki hati yang mulia dan bersikap santun dalam berinteraksi dengan pemerintah daerah. Ia juga berharap keterlibatan perempuan dalam kepengurusan PMI Gunungkidul dapat ditingkatkan. "Pemilihan pengurus ini sempat ditunda satu tahun untuk menyinkronkan dengan kepemimpinan bupati terpilih. Dalam formatur kepengurusan yang baru, saya berharap keterlibatan perempuan dapat lebih diperhatikan," katanya.
Sementara itu, Ketua PMI Gunungkidul periode 2018-2023, Iswandoyo, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pengurus atas dedikasi dan kerja keras mereka, terutama selama masa pandemi COVID-19. "Tahun 2020-2021 adalah masa yang sangat berat bagi kami, namun kerja keras dan keikhlasan seluruh tim membuat PMI tetap hadir membantu masyarakat," kenangnya. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga dalam menghadapi tantangan ke depan.
Wakil Sekretaris PMI Gunungkidul, Lilik Rahmat Purnomo, menjelaskan tujuan Muskab ini, yaitu untuk menilai pertanggungjawaban kepengurusan sebelumnya, merencanakan program kerja lima tahun ke depan, serta memilih kepengurusan baru untuk periode 2025-2030. Ia berharap Muskab ini dapat menghasilkan kepengurusan yang lebih profesional, inovatif, dan dekat dengan masyarakat. "Dengan semangat kemanusiaan, Muskab PMI Gunungkidul diharapkan dapat melahirkan kepengurusan yang lebih profesional, inovatif, dan semakin dekat dengan masyarakat," harapnya.
Tantangan dan Harapan untuk PMI Gunungkidul
Musyawarah Kabupaten PMI Gunungkidul ini menjadi momentum penting bagi organisasi kemanusiaan tersebut untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalismenya. Dengan potensi bencana yang tinggi di Gunungkidul, PMI dituntut untuk selalu siap siaga dan mampu memberikan respon cepat dan efektif dalam setiap kejadian darurat. Peningkatan akses pendanaan, pelatihan bagi relawan, dan penguatan kerjasama dengan berbagai pihak menjadi kunci keberhasilan PMI dalam menjalankan tugas kemanusiaannya.
Selain itu, peningkatan peran perempuan dalam kepengurusan juga menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Partisipasi perempuan dalam organisasi kemanusiaan dapat memperkaya perspektif dan meningkatkan efektivitas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Dengan kepemimpinan yang bijak dan kolaboratif, PMI Gunungkidul diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat Gunungkidul.
Ke depan, PMI Gunungkidul diharapkan tidak hanya fokus pada kegiatan donor darah, tetapi juga memperluas cakupan layanannya, termasuk dalam hal kesiapsiagaan bencana, penanggulangan bencana, dan pemulihan pasca bencana. Dengan profesionalisme dan komitmen yang tinggi, PMI Gunungkidul dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Muskab ini juga menjadi ajang evaluasi dan perencanaan yang matang untuk masa depan PMI Gunungkidul. Harapannya, kepengurusan baru yang terpilih dapat membawa perubahan yang signifikan dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat Gunungkidul.