Produksi Padi NTT Anjlok 7,7 Persen di 2024 Akibat El Nino
Badan Pusat Statistik (BPS) NTT melaporkan penurunan signifikan luas panen dan produksi padi pada 2024 akibat dampak El Nino yang menyebabkan kekeringan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan penurunan signifikan pada luas panen dan produksi padi di NTT pada tahun 2024. Penurunan ini disebabkan oleh dampak El Nino yang memicu kekeringan di berbagai wilayah di NTT. Data yang dirilis BPS menunjukkan penurunan yang cukup memprihatinkan bagi sektor pertanian di provinsi tersebut.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan bahwa luas panen padi di NTT pada tahun 2024 hanya mencapai 168.730 hektare. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 8,65 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 184.700 hektare. Penurunan ini terutama disebabkan oleh kekeringan yang melanda sejumlah daerah penghasil padi utama di NTT.
Lebih lanjut, Matamira menjelaskan bahwa dampak El Nino yang terjadi sejak tahun 2023 hingga 2024 telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan luas panen dan produksi padi di NTT. Meskipun ada hujan, curah hujan tidak merata dan intensitasnya terbatas, sehingga berdampak pada areal persawahan yang masih bergantung pada curah hujan.
Dampak El Nino terhadap Produksi Padi NTT
Kekeringan yang disebabkan oleh El Nino memberikan dampak yang paling signifikan di beberapa kabupaten penghasil padi utama di NTT, yaitu Kabupaten Kupang, Sumba Timur, dan Sumba Barat. Ketiga daerah ini menjadi penyumbang terbesar penurunan luas panen padi di NTT pada tahun 2024. Penurunan ini berdampak langsung pada jumlah produksi padi secara keseluruhan.
Penurunan luas panen padi terbesar terjadi pada caturwulan I (Januari-April) tahun 2024, mencapai 14,95 hektare atau 29,24 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan betapa signifikannya dampak kekeringan di awal tahun terhadap sektor pertanian padi di NTT.
Tidak hanya luas panen yang menurun, produksi padi juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Produksi padi pada tahun 2024 tercatat sebesar 707.790 ton gabah kering giling (GKG), turun 7,70 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 766.810 ton GKG. Penurunan produksi ini secara langsung berkaitan dengan penurunan luas panen.
Penurunan Produksi Terendah dalam Tiga Tahun Terakhir
Penurunan produksi padi pada caturwulan I tahun 2024 juga sangat signifikan, mencapai 58.940 ton GKG atau turun 28,83 persen dibandingkan tahun 2023. Kondisi ini menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan bagi ketahanan pangan di NTT.
Menurut Matamira, penurunan luas panen dan produksi padi pada tahun 2024 merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir di NTT. Hal ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan stakeholders terkait untuk mencari solusi dalam menghadapi dampak perubahan iklim dan meningkatkan ketahanan pangan di NTT.
"El Nino pada 2024 memberikan dampak signifikan pada menurunnya luas panen dan produksi padi di NTT," kata Matamira B. Kale.
Data BPS menunjukkan bahwa penurunan produksi dan luas panen padi di NTT pada 2024 menjadi yang terendah dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mencari solusi jangka panjang dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Berikut beberapa poin penting terkait dampak El Nino terhadap sektor pertanian padi di NTT:
- Penurunan luas panen padi sebesar 8,65 persen pada tahun 2024.
- Penurunan produksi padi sebesar 7,70 persen pada tahun 2024.
- Kabupaten Kupang, Sumba Timur, dan Sumba Barat sebagai daerah terdampak terberat.
- Penurunan produksi dan luas panen terendah dalam tiga tahun terakhir.
Pemerintah Provinsi NTT perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi permasalahan ini, antara lain dengan meningkatkan sistem irigasi, diversifikasi tanaman, dan memberikan bantuan kepada petani yang terdampak kekeringan.