NTP NTT Turun 0,16 Persen di Februari 2025, Sektor Perikanan Justru Naik
Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,16 persen di Februari 2025, meskipun sektor perikanan menunjukkan peningkatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melaporkan penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,16 persen pada Februari 2025. Penurunan ini terjadi di tengah peningkatan NTP nasional. Kepala BPS Provinsi NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan penurunan tersebut melalui siaran daring dari Kupang pada Senin, 04 Maret 2025.
NTP di NTT pada Februari 2025 tercatat sebesar 101,43, menurun dari angka 101,60 pada Januari 2025. Angka ini jauh di bawah NTP nasional yang mencapai 123,45 pada bulan yang sama. Penurunan NTP di NTT disebabkan oleh penurunan harga komoditas pertanian, sementara harga komoditas konsumsi rumah tangga dan barang modal justru meningkat.
Matamira B. Kale menambahkan, "Pada Februari 2025, NTP di Provinsi NTT sebesar 101,43 turun 0,16 persen dari sebelumnya 101,60 pada Januari 2025. Penurunan ini dikarenakan harga komoditas pertanian yang menurun, sedangkan harga komoditas konsumsi rumah tangga dan barang modal mengalami peningkatan."
Analisis Penurunan NTP Berdasarkan Subsektor
BPS NTT juga merinci penurunan NTP berdasarkan subsektor. Subsektor tanaman pangan mengalami penurunan dari 99,81 pada Januari menjadi 99,70 pada Februari 2025. Subsektor hortikultura juga menunjukkan penurunan, dari 98,55 menjadi 98,39. Subsektor perkebunan rakyat turun dari 104,54 menjadi 104,17, dan subsektor peternakan turun dari 107,89 menjadi 107,63. Satu-satunya subsektor yang mengalami peningkatan adalah perikanan, yang naik dari 93,44 menjadi 94,10.
Lebih lanjut, data menunjukkan bahwa penurunan NTP di NTT terjadi di tengah kondisi ekonomi nasional yang berbeda. Perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor spesifik yang menyebabkan penurunan NTP di NTT, mengingat perbedaan kondisi ekonomi antara NTT dan nasional.
Pemerintah daerah perlu memperhatikan data ini dan mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kesejahteraan petani di NTT. Program-program peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi komoditas perlu dikaji ulang dan ditingkatkan efektivitasnya.
Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di NTT
Meskipun NTP mengalami penurunan, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) di NTT justru mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen, dari 104,18 pada Januari menjadi 104,24 pada Februari 2025. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan pada beberapa subsektor.
Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan 0,09 persen, subsektor peternakan naik 0,24 persen, dan subsektor perikanan naik 1,05 persen. Namun, subsektor hortikultura turun 0,07 persen dan perkebunan rakyat turun 0,17 persen.
Perlu dilakukan analisis lebih mendalam untuk memahami disparitas antara peningkatan NTUP dan penurunan NTP. Hal ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran dalam meningkatkan kesejahteraan petani di NTT.
Data ini memberikan gambaran yang kompleks mengenai kondisi pertanian di NTT. Meskipun ada sektor yang menunjukkan peningkatan, penurunan NTP secara keseluruhan menandakan perlunya perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan terkait untuk mengatasi tantangan yang dihadapi petani di NTT.
Kesimpulannya, data BPS NTT menunjukkan gambaran yang perlu dikaji lebih lanjut. Penting untuk memahami faktor-faktor di balik penurunan NTP dan peningkatan NTUP, serta merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani di Nusa Tenggara Timur.