Sidang Etik Segera Digelar untuk 6 Polisi Terkait Kematian Darso
Polda DIY segera menggelar sidang kode etik terhadap enam polisi yang diduga terlibat dalam kematian Darso di Semarang, Jawa Tengah, menyusul penetapan tersangka salah satu polisi oleh Polda Jateng.

Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Polda DIY) akan segera menggelar sidang kode etik terhadap enam anggota Kepolisian Resor Kota (Polresta) Yogyakarta. Keenam polisi tersebut diduga terlibat dalam kasus kematian Darso (43), warga Mijen, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kasus ini bermula dari kecelakaan lalu lintas pada 12 Juli 2024 di Yogyakarta, yang melibatkan Darso dan pengendara sepeda motor Tutik Wiyanti. Setelah kejadian, Darso diduga melarikan diri, dan kemudian dijemput oleh enam polisi tersebut di Semarang pada 21 September 2024, yang berujung pada kematian Darso pada 10 Januari 2025.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda DIY, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Ihsan, menyatakan bahwa sidang kode etik akan digelar dalam waktu dekat. "Dalam waktu dekat karena memang prosesnya ini masih terus berjalan," ujar Kombes Pol Ihsan di Mapolda DIY, Sleman, Kamis (27/2). Salah satu dari enam polisi tersebut, mantan Kanit Penegakan Hukum Satuan Lalu Lintas Polresta Yogyakarta, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hariyadi, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Tengah pada 21 Februari 2025. Lima polisi lainnya berstatus saksi.
Polda DIY menegaskan sikap kooperatif dan mendukung penuh proses hukum yang berjalan di Polda Jawa Tengah. Polda Jateng menangani proses pidana, sementara Polda DIY memproses dugaan pelanggaran etik terkait penanganan kecelakaan lalu lintas oleh keenam polisi tersebut. Keenam polisi telah dibebastugaskan dan dipindahkan ke Polda DIY. Dugaan pelanggaran etik meliputi ketidaksesuaian prosedur dalam penanganan kecelakaan, termasuk tindakan pemukulan dan penggunaan pakaian nondinas saat penjemputan Darso di Semarang. "Kami di sini menangani tentang pelanggaran anggota tersebut dalam penanganan laka lantas. Karena tidak profesional, kan sampai ada pemukulan, ada dia ke sana menggunakan pakaian yang tidak formal atau tidak pakaian dinas. Ini tentunya proses pelanggaran etiknya. Nah, ini yang menangani Polda DIY," jelas Ihsan.
Sidang Etik dan Tindakan Disiplin
Sidang kode etik bertujuan menindak anggota yang terbukti melanggar dan sebagai evaluasi serta pembenahan agar kejadian serupa tidak terulang. "Anggota yang salah pasti akan kami tindak sesuai dengan porsi kesalahannya. Putusan akhir akan ditentukan oleh Komisi Sidang Kode Etik," tegas Ihsan. Polda DIY juga menyampaikan keprihatinan dan permohonan maaf kepada keluarga korban. "Kami prihatin dan tentunya meminta maaf, khususnya kepada korban. Kami minta maaf dan prihatin atas kasus ini untuk perbuatan anggota kami," ucap Ihsan.
Proses penyelidikan menunjukkan adanya dugaan pelanggaran prosedur dalam penanganan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Darso. Selain itu, penggunaan pakaian tidak dinas oleh petugas saat melakukan penjemputan juga menjadi sorotan. Tindakan pemukulan yang dilakukan oleh petugas juga menjadi bagian dari dugaan pelanggaran etik yang akan diproses dalam sidang kode etik tersebut. Hasil sidang kode etik akan menentukan sanksi yang akan dijatuhkan kepada para anggota polisi yang terbukti bersalah.
Proses hukum yang berjalan di Polda Jawa Tengah dan proses sidang kode etik di Polda DIY berjalan paralel. Hal ini menunjukkan komitmen Polri untuk mengusut tuntas kasus ini dan memberikan keadilan kepada keluarga korban. Polda DIY menekankan pentingnya profesionalisme dan kepatuhan terhadap prosedur dalam penanganan kasus kecelakaan lalu lintas untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Transparansi dan akuntabilitas dalam proses hukum menjadi kunci kepercayaan publik terhadap institusi Kepolisian.
Kronologi Kejadian dan Penjemputan Darso
Kronologi kejadian bermula dari kecelakaan lalu lintas pada 12 Juli 2024 di Jalan Mas Suharto, Danurejan, Kota Yogyakarta. Kecelakaan tersebut melibatkan pengendara sepeda motor Tutik Wiyanti dan mobil yang dikemudikan Darso. Tutik mengalami luka di leher. Suami Tutik, Restu Yosepta Gerimona, mengejar mobil Darso yang diduga berusaha kabur setelah mengantar Tutik ke Rumah Sakit Bethesda. Mobil Darso menyerempet Restu. Restu kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Yogyakarta.
Berdasarkan foto KTP Darso yang diambil keluarga korban, enam personel Unit Gakkum Satlantas Polresta Yogyakarta menjemput Darso di Semarang pada 21 September 2024 untuk penyelidikan. Namun, pada 10 Januari 2025, keluarga Darso melaporkan anggota Satlantas Polresta Yogyakarta ke Polda Jawa Tengah atas dugaan penganiayaan yang mengakibatkan kematian Darso. Peristiwa ini kemudian memicu proses hukum dan sidang kode etik yang tengah berjalan.
Kasus ini menyoroti pentingnya penegakan hukum yang profesional dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Proses hukum yang transparan dan akuntabel diharapkan dapat memberikan rasa keadilan bagi keluarga korban dan mencegah terulangnya kejadian serupa. Polda DIY dan Polda Jawa Tengah bekerja sama untuk mengungkap seluruh fakta dan memberikan sanksi yang setimpal kepada pihak-pihak yang terbukti bersalah.
Penting untuk diingat bahwa proses hukum masih berjalan dan semua pihak harus menunggu hasil penyelidikan dan sidang kode etik untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang kasus ini. Kepolisian diharapkan mampu menjaga integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi dan melayani masyarakat.