Silaturahmi Lebaran di Bengkalis: Wakil Bupati Sambut Hangat Warga Tionghoa, Katolik, dan Perantau Brunei
Wakil Bupati Bengkalis Bagus Santoso menerima kunjungan silaturahmi dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk warga Tionghoa, Katolik, dan perantau dari Brunei, pada Lebaran pertama 1446 Hijriah.

Pada Senin, 31 Maret 2024, bertepatan dengan Lebaran pertama 1446 Hijriah, Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Riau, mencatat momen istimewa. Wakil Bupati Bengkalis, Bagus Santoso, menyambut hangat kunjungan silaturahmi dari berbagai lapisan masyarakat di rumah dinas. Kunjungan tersebut mencakup warga etnis Tionghoa, umat Katolik, dan bahkan perantau dari Brunei Darussalam. Momen ini menunjukkan semangat kebersamaan dan toleransi yang tinggi di tengah keberagaman masyarakat Bengkalis.
Kedatangan masyarakat dari berbagai latar belakang, mulai dari anak-anak hingga kaum lanjut usia, dengan beragam profesi, suku, dan agama, menjadi bukti nyata kearifan lokal yang masih terjaga. Wakil Bupati Bagus Santoso mengungkapkan rasa syukur atas hal ini. "Alhamdulillah ini bukti nyata Bengkalis begitu istimewa, masyarakatnya masih menjaga tradisi silaturahim saat hari raya. Bahkan di kampung-kampung ada yang melangsungkan 'baraan' atau rombongan hari raya," katanya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan sosial dan tradisi di Bengkalis.
Kemeriahan Lebaran di Bengkalis, yang dikenal sebagai 'Negeri Junjungan', menarik minat perantau untuk kembali ke kampung halaman. Bagus Santoso mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga silaturahmi dan tradisi yang telah terjalin selama ini agar tetap lestari dan tidak terlupakan. Tradisi silaturahmi ini menjadi perekat yang memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat Bengkalis.
Silaturahmi dari Berbagai Kalangan
Salah satu kunjungan yang mencuri perhatian adalah kedatangan Pastor Paroki Dumai, Emil, beserta rombongan. Romo Emil, begitu ia akrab disapa, menyampaikan kekagumannya atas sambutan hangat yang diberikan oleh Wakil Bupati Bengkalis. "Kami yang tiba dari Dumai menggunakan beberapa mobil disambut baik dan luar biasa oleh Wakil Bupati Bengkalis. Jamuannya luar biasa, begitu hangat suasana di sini," ujarnya. Hal ini menunjukkan keramahan dan kehangatan masyarakat Bengkalis dalam menerima tamu.
Romo Emil juga menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya untuk menyebarkan semangat silaturahmi Lebaran. Ia bahkan mengerahkan umat di gereja Katolik untuk melakukan hal yang sama. Sikap ini mencerminkan semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama di Bengkalis.
Selain itu, kehadiran Prof. Gamal Abdul Nasir, seorang dosen yang telah 25 tahun tinggal di Brunei Darussalam, juga menjadi momen yang mengharukan. Beliau rela menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan Lebaran bersama keluarga dan masyarakat Bengkalis. "Ke mana pun kaki melangkah, sejauh apapun itu. Pasti akan rindu untuk kembali ke kampung halaman Bengkalis. Suasananya tak terlupakan, selalu terkenang dalam ingatan," ujarnya.
Prof. Gamal, yang mengajar Pendidikan Islam dan Bahasa Arab di Institut Pendidikan Sultan Hasanal Bolkiah, Universiti Brunei Darussalam, mengungkapkan rasa cintanya yang mendalam pada Bengkalis. "Itulah sebabnya saya selalu balik ke kampung halaman Negeri Junjungan yang kita cintai ini," tuturnya. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional antara perantau dengan kampung halamannya.
Masyarakat Multikultural Bengkalis
Kunjungan dari berbagai latar belakang etnis dan agama ini menegaskan karakteristik masyarakat Bengkalis yang multikultural dan toleran. Tradisi silaturahmi Lebaran menjadi wadah untuk mempererat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman. Momen ini juga menjadi bukti nyata bahwa Bengkalis mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal.
Kehadiran warga Tionghoa, umat Katolik, dan perantau dari Brunei Darussalam dalam acara silaturahmi Lebaran ini menunjukkan semangat inklusivitas dan toleransi yang tinggi di Kabupaten Bengkalis. Hal ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Dengan tetap menjaga tradisi silaturahmi dan menghormati perbedaan, masyarakat Bengkalis mampu menciptakan suasana yang harmonis dan damai. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga dan menjadi ciri khas masyarakat Bengkalis.
Silaturahmi Lebaran di Bengkalis tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi perekat sosial yang memperkuat persatuan dan kesatuan masyarakat. Semoga tradisi ini tetap lestari dan menjadi warisan budaya yang berharga bagi generasi mendatang.