Strategi Jitu BNC: Balik Modal, Raup Untung Rp19,88 Miliar di 2024!
Bank Neo Commerce (BNC) sukses bertransformasi, mengubah kerugian menjadi laba bersih Rp19,88 miliar di tahun 2024 melalui strategi fundamental yang kuat dan efisiensi operasional.

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) atau BNC berhasil mencatatkan sejarah baru dengan mencetak laba bersih sebesar Rp19,88 miliar pada tahun 2024. Kinerja ini sangat signifikan mengingat pada tahun 2023, BNC masih membukukan kerugian hingga Rp573 miliar. Perubahan drastis ini terjadi di Jakarta, dan diumumkan pada Kamis, 27 Maret 2024. Strategi apa yang diterapkan BNC sehingga mampu berbalik arah dari kerugian besar menjadi keuntungan yang cukup signifikan?
Direktur Utama BNC, Eri Budiono, menjelaskan keberhasilan ini berkat fokus perusahaan pada penguatan fundamental bank, peningkatan kualitas kredit, pemeliharaan pendapatan bunga, dan optimalisasi efisiensi operasional. Langkah-langkah strategis ini terbukti efektif dalam memperbaiki kinerja keuangan BNC secara menyeluruh. Keberhasilan ini merupakan bukti nyata komitmen BNC dalam meningkatkan kinerja dan memberikan hasil yang positif bagi pemegang saham.
Keberhasilan BNC dalam mengubah kerugian menjadi keuntungan merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa di tengah tantangan ekonomi global. Hal ini menunjukkan bahwa strategi yang tepat dan manajemen yang efektif mampu membawa perubahan signifikan bagi sebuah perusahaan. Ke depannya, BNC akan terus berupaya untuk mempertahankan kinerja positif ini dan terus berinovasi untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.
Strategi Penguatan Fundamental BNC
Salah satu kunci keberhasilan BNC adalah keberhasilan menekan rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) net. Angka NPL net berhasil ditekan dari 0,90 persen pada tahun 2023 menjadi 0,30 persen pada akhir tahun 2024. Penurunan NPL net ini menunjukkan peningkatan kualitas pengelolaan kredit dan penurunan risiko kredit macet. Hal ini juga menunjukkan perbaikan dalam seleksi debitur dan pengawasan kredit yang lebih ketat.
Selain itu, BNC juga berhasil menurunkan rasio beban operasional pendapatan operasional (BOPO) dari 112,27 persen pada tahun 2023 menjadi 99,34 persen pada tahun 2024. Penurunan BOPO ini menunjukkan peningkatan efisiensi operasional BNC. Bank juga berhasil menurunkan rasio beban operasional terhadap pendapatan bunga bersih atau cost to income ratio (CIR) dari 41,52 persen menjadi 31,47 persen pada Desember 2024. Penurunan CIR ini menunjukkan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan biaya operasional.
BNC juga semakin fokus pada pengelolaan penyaluran kredit yang lebih selektif dengan memperhatikan kualitas kredit secara lebih besar. Hal ini tercermin dari penurunan penyaluran kredit dari Rp10,78 triliun pada tahun 2023 menjadi Rp8,82 triliun pada tahun 2024. Meskipun terjadi penurunan penyaluran kredit, namun hal ini diimbangi dengan peningkatan kualitas kredit yang berdampak pada penurunan NPL.
Kinerja Keuangan BNC Tahun 2024
Dari sisi pendanaan, perolehan dana pihak ketiga (DPK) BNC mencapai Rp13,06 triliun pada 31 Desember 2024, sedikit menurun dari Rp13,87 triliun pada tahun sebelumnya. Namun, cost of fund berhasil turun dari 6,22 persen menjadi 6,05 persen. Hal ini menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan biaya dana.
Loan to deposit ratio (LDR) BNC tercatat sebesar 67,53 persen, sementara Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 35,30 persen dari 27,86 persen pada tahun sebelumnya. Peningkatan CAR ini menunjukkan peningkatan kesehatan permodalan BNC. Total aset mengalami sedikit penurunan dari Rp18,17 triliun menjadi Rp17,41 triliun. Pendapatan bunga bersih (NII) tercatat sebesar Rp2,74 triliun, sedikit di bawah capaian tahun 2023 sebesar Rp2,90 triliun.
Meskipun terjadi penurunan pada beberapa pos, namun secara keseluruhan kinerja keuangan BNC menunjukkan perbaikan yang signifikan. Keberhasilan BNC dalam menekan NPL, menurunkan BOPO dan CIR, serta meningkatkan CAR merupakan faktor kunci di balik transformasi dari rugi menjadi laba.
Proyeksi dan Target BNC di Tahun 2025
BNC menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 12 persen hingga 15 persen pada tahun 2025. Namun, fokus utama tetap pada kualitas kredit untuk menjaga NPL tetap sehat. BNC juga akan melakukan perluasan pasar dan diversifikasi segmen nasabah. Selain itu, pengembangan dana murah (CASA), payroll, dan cash management juga menjadi prioritas.
Kinerja BNC pada awal tahun 2025 menunjukkan tren positif dengan laba pada Januari dan Februari masing-masing sebesar Rp69,24 miliar dan Rp41,67 miliar. Direktur Utama Eri Budiono optimis bahwa BNC berada di jalur yang tepat untuk terus berkembang. “Kami percaya Bank Neo Commerce berada pada lajur yang tepat untuk terus semakin baik ke depannya. Momentum ini akan terus kami jaga,” ujar Eri.
Transformasi BNC dari perusahaan yang merugi menjadi perusahaan yang profitabel merupakan sebuah bukti nyata keberhasilan strategi yang terukur dan terarah. Keberhasilan ini patut diapresiasi dan menjadi contoh bagi perusahaan lain dalam menghadapi tantangan ekonomi dan bisnis.