Tokoh Agama dan Adat Maluku Serukan Perdamaian, Hentikan Pertikaian!
Pimpinan adat dan tokoh agama di Maluku menyerukan pesan perdamaian dan persaudaraan, mengajak masyarakat untuk menghindari pertikaian dan isu-isu yang memecah belah.

Ambon, 04 April 2024 (ANTARA) - Suasana damai kembali ditekankan di Maluku. Para tokoh agama dan adat menyerukan pesan perdamaian dan persaudaraan kepada seluruh masyarakat, imbauan ini muncul sebagai upaya mencegah potensi konflik yang dipicu oleh isu-isu menyesatkan. Seruan ini disampaikan di Ambon, menekankan pentingnya persatuan dan menghindari pertikaian antar warga.
"Beta (saya) ingin menyampaikan pesan bagi saudara-saudara di Negeri Tulehu, Negeri Tial, Negeri Sawai, dan Negeri Rumaholat dan Seluruh basudara (saudara) di seluruh Negeri di Tanah Maluku, mari katong (kita) hentikan dan hindari pertikaian, karena katong semua adalah satu saudara, satu tanah, satu hati," ungkap Ketua Majelis Latupati Kota Ambon, Reza Valdo Maspaitella.
Imbauan tersebut disampaikan dengan latar belakang filosofi hidup 'pela gandong', tradisi perjanjian antara dua negeri yang diikat sumpah, serta hubungan kekerabatan yang menjadi simbol persatuan, toleransi, dan perdamaian di Maluku. Nilai-nilai ini mengajarkan bahwa perbedaan seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk berkonflik.
Pentingnya Pela Gandong dan Nilai-nilai Persaudaraan
Tradisi Pela Gandong, lebih dari sekadar tradisi, merupakan pondasi kuat persatuan di Maluku. Nilai-nilai persaudaraan yang terkandung di dalamnya mengajarkan pentingnya saling menghargai, bersabar, dan menjaga hubungan baik antar sesama. Ketua Majelis Latupati menekankan bahwa permusuhan hanya akan merugikan semua pihak. "Tidak ada manfaat dari kebencian dan permusuhan, karena yang terluka bukan hanya kita sendiri, tetapi seluruh masyarakat, seluruh negeri," tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan pertikaian dan mencari solusi damai bersama. "Katong orang Maluku, besar karena memiliki persaudaraan, nilai-nilai adat, dan iman yang kuat. Mari katong jaga negeri, jaga hati, dan jaga persaudaraan," ajaknya.
Seruan untuk menahan diri dan mengutamakan kasih sayang juga disampaikan. "Ketika emosi memuncak, kita harus menahan diri, karena tidak ada kebaikan yang lahir dari permusuhan. Mengasihi dan memaafkan jauh lebih mulia daripada membenci dan melawan," pesan Reza Valdo Maspaitella.
Dukungan dari Tokoh Agama
Dukungan terhadap seruan perdamaian juga datang dari Ketua Sinode GPM, Elifas Maspaitella. Ia menekankan bahwa perdamaian merupakan cita-cita tertinggi umat manusia, khususnya umat beragama. "Saya kira pesan itu bukan sekedar nasehat kosong. Itu adalah cita-cita tertinggi dari semua umat manusia di dunia, apalagi umat beragama, karena itu, kita harus selalu menahan hati dari amarah dan dendam," katanya.
Ia mengajak masyarakat untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan jalur hukum yang berlaku. "Kalau ada masalah, mari dibicarakan sebagai orang basudara, jika ada kasus tertentu, seperti sengketa batas tanah, dan apalagi jika sudah diproses sesuai hukum yang berlaku, biar mekanisme hukum yang menyelesaikannya," ujarnya.
Gereja Protestan Maluku (GPM) berkomitmen untuk terus menyampaikan pesan perdamaian dan mengajak masyarakat untuk belajar dari masa lalu serta membangun masa depan yang lebih baik. "Kita harus menjadi masyarakat yang cerdas untuk belajar keluar dari masa kelam, dan sembuhkan luka pahit masa lalu," tutup Elifas Maspaitella.
Ajakan untuk perdamaian ini diharapkan dapat menyatukan masyarakat Maluku dan mencegah potensi konflik di masa mendatang. Pentingnya menjaga persaudaraan dan nilai-nilai adat 'pela gandong' menjadi kunci utama dalam menciptakan suasana damai dan harmonis di Provinsi Maluku.