Udara Jakarta Tidak Sehat, Peringkat 18 Dunia Terburuk!
Polusi udara Jakarta pagi ini masuk kategori tidak sehat, menempati peringkat ke-18 dunia terburuk berdasarkan data IQAir, dengan angka PM2.5 yang mengkhawatirkan.

Penduduk Jakarta terbangun dengan kualitas udara yang buruk pada Jumat pagi ini. Berdasarkan data IQAir, situs pemantau kualitas udara terkemuka, kualitas udara di ibukota Indonesia tersebut masuk dalam kategori tidak sehat. Data yang diambil pukul 06.00 WIB menunjukkan Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta mencapai angka 122, dengan angka partikel halus (PM2.5) yang menjadi perhatian utama.
Angka AQI 122 menempatkan Jakarta pada peringkat ke-18 sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Posisi ini tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat Jakarta. Peringkat ini juga menjadi pengingat akan pentingnya upaya kolektif untuk memperbaiki kualitas udara di kota metropolitan ini.
Perbandingan dengan kota-kota lain di dunia semakin mempertegas kondisi ini. Dhaka (Bangladesh) menempati peringkat terburuk dengan AQI 192, diikuti Mumbai (India) dengan AQI 190, Beijing (China) dengan AQI 189, Toshkent (Uzbekistan) dengan AQI 176, dan Kathmandu (Nepal) dengan AQI 169. Data ini menunjukkan bahwa Jakarta masih memiliki ruang yang cukup besar untuk memperbaiki kualitas udaranya.
Kualitas Udara Jakarta: Antara Data IQAir dan SILIKA
Terdapat perbedaan data antara IQAir dan Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta (SILIKA). SILIKA menunjukkan kualitas udara Jakarta berada pada kategori sedang atau nilai estetika, dengan rentang PM2.5 sebesar 51-100. Perbedaan ini perlu diteliti lebih lanjut untuk memahami perbedaan metodologi pengukuran dan interpretasi data.
Meskipun SILIKA menunjukkan kategori sedang, angka AQI 122 dari IQAir tetap menunjukkan adanya masalah kualitas udara yang signifikan. Kategori sedang yang ditunjukkan SILIKA mungkin hanya mencerminkan dampak terhadap tumbuhan dan nilai estetika, sementara dampak kesehatan manusia perlu dipertimbangkan lebih serius.
Perbedaan data ini menekankan pentingnya transparansi dan konsistensi dalam pengukuran dan pelaporan kualitas udara. Penting bagi kedua lembaga untuk menjelaskan perbedaan metodologi dan memastikan data yang disampaikan akurat dan dapat diandalkan oleh masyarakat.
Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Jakarta
Data ISPU dari beberapa titik di Jakarta juga menunjukkan variasi kualitas udara. Bundaran HI di Jakarta Pusat mencatat angka 56, Kelapa Gading (Jakarta Utara) 70, Jagakarsa (Jakarta Selatan) 70, Kebon Jeruk (Jakarta Barat) 94, dan Lubang Buaya (Jakarta Timur) 72. Variasi ini menunjukkan bahwa tingkat polusi udara tidak merata di seluruh wilayah Jakarta.
Data ISPU ini perlu dianalisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi sumber-sumber polusi utama di setiap wilayah. Informasi ini penting untuk menyusun strategi penanggulangan polusi udara yang lebih efektif dan terarah. Pemantauan yang lebih ketat dan detail di berbagai lokasi di Jakarta sangat diperlukan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta perlu segera mengambil langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah ini. Masyarakat juga perlu berperan aktif dengan mengurangi aktivitas yang dapat memperburuk polusi udara.
Kesimpulannya, kualitas udara di Jakarta masih menjadi masalah yang perlu ditangani secara serius. Perbedaan data dari berbagai sumber perlu dikaji lebih lanjut untuk menghasilkan strategi yang komprehensif dan efektif dalam meningkatkan kualitas udara di Jakarta demi kesehatan masyarakat.