Titik Koma: Strategi Jitu Bertahan di Industri Kopi yang Kompetitif
CEO Titik Koma, Andrew Prasetya Goenardi, ungkap strategi kunci bertahan di tengah persaingan ketat industri kopi Indonesia: fokus pada segmen pasar, branding kuat, kualitas biji kopi, dan pengembangan barista.

Jakarta, 24 Februari 2024 (ANTARA) - Persaingan di industri kedai kopi Indonesia semakin ketat. Namun, Titik Koma, salah satu jenama kedai kopi ternama, berhasil mempertahankan eksistensinya. CEO dan salah satu pendiri Titik Koma, Andrew Prasetya Goenardi, mengungkapkan sejumlah strategi kunci yang diterapkan perusahaan untuk bertahan dan berkembang di tengah red ocean industri ini. Strategi tersebut meliputi penetapan segmen pasar yang jelas, branding yang kuat, serta fokus pada kualitas produk dan pengembangan sumber daya manusia.
Andrew menjelaskan bahwa kunci utama keberhasilan Titik Koma adalah memahami posisi mereka di pasar. "Industri kopi itu kan sangat bervariasi, kita di bisnis yang red ocean. Dari yang harganya murah sampai mahal banget itu semua ada pasarnya. Cuma yang kita harus tahu, kita mau berada di mana," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin. Dengan memahami segmen pasar yang dituju, Titik Koma dapat menentukan strategi yang tepat untuk mencapai target konsumen.
Lebih lanjut, Andrew menekankan pentingnya branding yang kuat untuk membangun loyalitas pelanggan. Titik Koma, yang berdiri sejak 2016, berupaya menciptakan pengalaman unik bagi pelanggan dengan menyediakan tempat yang nyaman untuk bekerja, pertemuan bisnis, atau sekadar bersantai. Hal ini tercermin dari berbagai gerai Titik Koma yang menawarkan suasana tenang dan bahkan private meeting room untuk kebutuhan tertentu. "Kami mencoba mengakomodir apa yang dibutuhkan pasar karena tiap daerah punya preferensi yang berbeda," tambah Andrew.
Membangun Fondasi yang Kuat: Kualitas dan Pengembangan SDM
Selain branding, Titik Koma juga sangat memperhatikan kualitas biji kopi yang digunakan. Andrew menegaskan bahwa meskipun harga bahan baku kopi yang memenuhi standar Titik Koma lebih tinggi, hal tersebut sebanding dengan kualitas kopi yang disajikan. "Tujuannya adalah menyajikan kopi yang kami sendiri pun bisa menikmatinya," katanya. Komitmen terhadap kualitas ini tercermin dalam seleksi produk yang ketat. "Kami pernah mencoba menjual minuman yang sedang tren, tetapi pada akhirnya kami sadar, jika kami sendiri tidak bisa menikmatinya, maka itu bukan produk yang layak kami jual,” ucap Andrew.
Pengembangan barista juga menjadi fokus utama Titik Koma. Dengan sistem pelatihan yang ketat, Titik Koma berupaya menciptakan barista yang terampil dan inovatif dalam menyajikan kopi berkualitas. Hal ini sejalan dengan visi Titik Koma untuk tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga membangun fondasi yang kuat untuk keberlanjutan bisnis.
Andrew menekankan pentingnya manajemen yang solid dalam menjalankan bisnis kopi, terutama dalam hal operasional, keuangan, dan sumber daya manusia. Ekspansi bisnis, menurutnya, tidak dapat dilakukan secara sembarangan tanpa sistem manajemen yang terstruktur dengan baik.
Strategi Ekspansi: Solusi Waralaba
Salah satu strategi ekspansi yang diadopsi Titik Koma adalah sistem waralaba (franchise). Andrew menjelaskan, "Dengan ini, sebuah merek dapat memperluas jangkauan modal yang lebih terdistribusi, sementara mitra franchise mendapatkan keuntungan dari sistem yang sudah teruji." Sistem ini memungkinkan Titik Koma untuk memperluas jangkauan pasarnya dengan lebih efisien dan efektif.
Kesimpulannya, kesuksesan Titik Koma dalam menghadapi persaingan di industri kopi Indonesia didasarkan pada strategi yang komprehensif. Fokus pada segmen pasar, branding yang kuat, komitmen terhadap kualitas produk, pengembangan barista, dan manajemen yang solid menjadi kunci keberhasilan mereka. Strategi waralaba juga terbukti efektif dalam memperluas jangkauan bisnis.