Cedera Ginting: PBSI Ungkap Kronologi, Terapi 5 Tahap, dan Target Kembali ke Lapangan
PBSI menjelaskan kronologi cedera Anthony Ginting, mulai dari cedera tulang rawan hingga terapi 5 tahap untuk pemulihannya jelang kembali ke lapangan bulu tangkis.

Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Ginting, tengah berjuang melawan cedera bahu kanan yang dialaminya. Cedera ini telah memaksanya absen dari beberapa turnamen penting, termasuk All England 2025. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, memberikan penjelasan detail mengenai kronologi cedera dan proses pemulihan yang dijalani Ginting.
Ginting mengalami cedera tulang rawan dan peradangan otot di bahu kanan selama persiapan menuju Olimpiade Paris 2024. Meskipun telah mendapat penanganan awal, cedera tersebut belum sepenuhnya pulih. Setelah Olimpiade, rasa nyeri yang tak tertahankan memaksa Ginting menjalani pemeriksaan komprehensif dan terapi menyeluruh untuk memaksimalkan performa tangannya. "Ginting mengalami cedera tulang rawan dan peradangan otot di bagian bahu kanan. Cedera ini dialami Ginting pada saat persiapan jelang Olimpiade. Pada saat itu sudah dilakukan penanganan awal namun belum cukup komprehensif karena sudah mendekati Olimpiade," jelas Eng Hian.
Meskipun sempat diharapkan pulih untuk All England 2025, cedera Ginting kambuh dan memaksanya absen. Kondisi ini semakin memburuk setelah ia digantikan oleh Alwi Farhan di Kejuaraan Asia 2025 di Ningbo, China. Hal ini menandai betapa seriusnya cedera yang diderita Ginting dan membutuhkan penanganan intensif.
Terapi 5 Tahap untuk Pemulihan Ginting
Setelah menjalani MRI dan pemeriksaan ulang oleh dokter spesialis ortopedi konsultan bahu dan dokter spesialis kedokteran olahraga, Ginting menjalani program penanganan yang meliputi lima tahap dan membutuhkan waktu minimal tiga bulan. Program ini difokuskan pada terapi penguatan otot-otot penunjang sekitar bahu agar lebih kuat dan mengurangi risiko cedera di masa mendatang. "Setelah dilakukan MRI dan pemeriksaan ulang maka dokter spesialis orthopedi konsultan bahu dan dokter spesialis kedokteran olahraga memberikan program penanganan yang meliputi lima tahap dan memakan waktu minimal tiga bulan," ungkap Eng Hian.
Saat ini, Ginting telah memasuki fase kedua terapi. Diharapkan pada fase ini, ia sudah mulai dapat berlatih ringan menggunakan bahu kanannya. "Di fase dua diharapkan Ginting sudah mulai bisa berlatih ringan menggunakan bahu kanannya. Untuk program latihan fisik yang tidak memakai bahu kanan tetap bisa dilakukan," tambah Eng Hian. PBSI optimistis program terapi ini akan mengembalikan Ginting ke performa terbaiknya.
Meskipun demikian, proses pemulihan Ginting tidak mudah dan membutuhkan kesabaran. Cedera yang kambuh telah membatasi penampilannya sepanjang tahun ini, dengan hanya satu penampilan di Malaysia Terbuka 2025. PBSI juga berupaya mengajukan penangguhan peringkat dunia Ginting untuk mencegah kehilangan poin krusial. Finalis All England 2024 ini saat ini berada di peringkat ke-24 dunia.
Dampak Cedera dan Upaya PBSI
Cedera Ginting berdampak signifikan pada karirnya. Absennya dari beberapa turnamen besar telah menghambat perolehan poin dan peringkat dunianya. PBSI menyadari hal ini dan berupaya memberikan dukungan penuh kepada Ginting, termasuk pengajuan penangguhan peringkat dunia. Hal ini menunjukkan komitmen PBSI untuk mendukung pemulihan dan perkembangan karir Ginting.
Selain terapi fisik, dukungan mental dan emosional juga penting bagi Ginting dalam proses pemulihannya. PBSI diharapkan dapat memberikan dukungan yang komprehensif, tidak hanya dari segi medis, tetapi juga dari segi psikologis. Dukungan ini akan membantu Ginting tetap termotivasi dan fokus pada proses pemulihannya.
Proses pemulihan cedera membutuhkan waktu dan kesabaran. PBSI dan tim medis akan terus memantau perkembangan Ginting dan menyesuaikan program terapi sesuai kebutuhan. Semoga Ginting segera pulih dan kembali berlaga di lapangan bulu tangkis dengan performa terbaiknya.
Ke depannya, PBSI perlu mengevaluasi program latihan dan pencegahan cedera untuk atlet-atletnya. Pencegahan cedera yang lebih efektif akan membantu meminimalisir risiko cedera dan menjaga performa atlet secara konsisten.