Khofifah Ajak Mahasiswa UINSA Jadi Pemimpin Inklusif, Wujudkan Indonesia Emas 2045
Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendorong mahasiswa UINSA Surabaya menjadi pemimpin transformatif yang menciptakan inklusivitas dan mempercepat visi Indonesia Emas 2045, memanfaatkan teknologi digital serta kolaborasi.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, baru-baru ini mengajak mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya untuk menjadi pemimpin yang mampu menciptakan inklusivitas. Ajakan ini disampaikan dalam Tolerance Education Festival di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UINSA Surabaya, Selasa, 21 Januari 2024. Khofifah menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Khofifah menjelaskan bahwa inklusivitas, atau kesetaraan dan keterlibatan semua lapisan masyarakat, merupakan kunci utama menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan ekosistem digital sebagai pintu masuk untuk mencapai inklusivitas. Dengan ekosistem digital, layanan publik dapat diakses oleh semua orang tanpa diskriminasi.
Inklusivitas, menurut Khofifah, menjadi salah satu indikator penting kemajuan negara. Ia mendorong sivitas akademika UINSA untuk berkontribusi aktif dalam mempercepat pencapaian visi tersebut, bahkan sebelum tahun 2045. Hal ini sejalan dengan amanat Presiden Jokowi kepada Forum Rektor Indonesia untuk menelaah percepatan Indonesia Emas.
Indonesia Emas 2045, menurut Khofifah, diproyeksikan memiliki ekonomi yang tumbuh 9 persen, pendapatan per kapita mencapai 13.000 dolar AS, dan tingkat kemiskinan turun hingga 2 persen. Khofifah meyakini pencapaian ini mungkin diraih dengan sinergi, kolaborasi, dan kemitraan harmonis antar elemen bangsa.
Sebagai contoh nyata, Khofifah menceritakan pengalamannya menangani konflik di Tolikara, Papua. Setelah peristiwa pembakaran pasar, Khofifah hadir dalam peresmian pembangunan masjid sebagai simbol perdamaian. Kehadirannya dan pembangunan masjid tersebut berhasil mengembalikan kedamaian dan kehidupan berdampingan yang harmonis di masyarakat Tolikara.
Pengalaman di Tolikara menunjukkan betapa pentingnya toleransi dan harmoni. Khofifah menekankan perlunya mahasiswa aktif berinovasi dan berkolaborasi, serta memperkuat toleransi sebagai modal utama pembangunan bangsa. Keterlibatan aktif mahasiswa menjadi sangat krusial untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas.
Kesimpulannya, Khofifah mendorong mahasiswa UINSA untuk menjadi pemimpin yang inklusif dan transformatif. Dengan memanfaatkan teknologi, kolaborasi yang erat dan komitmen untuk toleransi, mahasiswa dapat berperan penting dalam mempercepat terwujudnya Indonesia Emas 2045. Kesiapan mahasiswa untuk menghadapi tantangan masa depan menjadi kunci keberhasilan visi tersebut.