Melasti dan Ramadhan: Makna Penyucian yang Bersatu di Bantul
Perayaan Melasti di Bantul, yang bertepatan dengan Ramadhan 2025, menyoroti kesamaan makna penyucian dalam dua agama dan memperkuat harmoni antarumat beragama.
Upacara Melasti tahun 2025 di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, memiliki makna yang unik karena bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, menjelaskan bahwa kedua perayaan tersebut memiliki kesamaan inti, yaitu penyucian. Peristiwa ini terjadi pada Senin, 24 Maret 2025, dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintah dan tokoh agama.
Bagi umat Hindu, Melasti merupakan ritual penyucian diri dan alam semesta, melambangkan pelepasan hal-hal negatif melalui prosesi labuhan di pantai. Sementara bagi umat Muslim, Ramadhan adalah bulan suci penuh berkah dan introspeksi diri. Bahiej menekankan bahwa perpaduan ini menunjukkan harmonisasi yang indah antarumat beragama di Indonesia.
Keberadaan upacara Melasti di tengah bulan Ramadhan menjadi bukti nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Bantul. Hal ini sejalan dengan pernyataan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, yang menegaskan komitmen Bantul dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan.
Nilai Toleransi dan Kebhinekaan dalam Upacara Melasti
Upacara Melasti di Pantai Parangkusumo bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga perwujudan nyata nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan di Indonesia. Keberadaan upacara ini di tengah bulan Ramadhan menunjukkan bagaimana perbedaan agama dapat hidup berdampingan dengan harmonis.
Pemerintah Kabupaten Bantul, dalam hal ini diwakili oleh Hermawan Setiaji, menyatakan dukungan penuh terhadap perayaan ini. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan antarumat beragama dan melestarikan kearifan lokal.
Lebih lanjut, Hermawan Setiaji menambahkan bahwa perayaan ini sejalan dengan visi Pemkab Bantul untuk mewujudkan masyarakat yang maju, kuat, demokratis, dan sejahtera dalam bingkai keberagamaan dan budaya istimewa. Ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai agama dan budaya dapat saling memperkuat dan menciptakan masyarakat yang harmonis.
Dengan adanya perayaan Melasti di bulan Ramadhan, diharapkan dapat tercipta semangat toleransi dan kebhinekaan yang lebih kuat di tengah masyarakat.
Tema Moderasi Beragama dalam Melasti 2025
Ketua Umum Panitia Nyepi 2025, I Nyoman Gunarsa, mengungkapkan bahwa perayaan Melasti tahun ini mengangkat tema 'Dengan Semangat Moderasi Beragama, Umat Hindu DIY Menjaga Harmonisasi di Era Digital dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045'. Tema ini sangat relevan dengan konteks Indonesia saat ini.
Gunarsa juga menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Nyepi 2025 telah dimulai sejak 14 Januari 2025, meliputi berbagai kegiatan ritual dan sosial kemasyarakatan. Beberapa kegiatan tersebut antara lain Dharma Tula, Upacara Girikerti, Merti Gunung, Sarasehan Lintas Iman dan Budaya, Bakti Sosial, Yoga Massal, dan Makerti Ayu Ning Segara.
Kegiatan Makerti Ayu Ning Segara, yang dilaksanakan di Pantai Parangkusumo, merupakan bagian penting dari persiapan untuk membersihkan alam. Hal ini menunjukkan komitmen umat Hindu dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan kesiapan umat Hindu dalam menyambut Hari Raya Nyepi dan sekaligus memperkuat nilai-nilai moderasi beragama di era digital.
Perpaduan antara perayaan Melasti dan bulan Ramadhan 2025 di Bantul menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan agama dapat saling memperkaya dan memperkuat nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan di Indonesia. Semoga semangat ini dapat terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.