Pentingnya Bahasa Isyarat: Jembatan Inklusi untuk Teman Tuli, Dorongan Fatma Gus Ipul
Fatma Gus Ipul menekankan pentingnya masyarakat mempelajari bahasa isyarat untuk meningkatkan kepedulian dan komunikasi inklusif dengan teman tuli, serta mendorong peningkatan fasilitas terapi di sentra-sentra Kemensos.
Jakarta, 25 Februari 2024 - Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos), Fatma Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Fatma Gus Ipul, menyoroti pentingnya masyarakat Indonesia memahami bahasa isyarat. Hal ini disampaikannya dalam sebuah kegiatan pengenalan bahasa isyarat di Sentra Mulya Jaya Kemensos, Jakarta. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap penyandang disabilitas rungu wicara.
Fatma Gus Ipul menjelaskan bahwa pemahaman bahasa isyarat merupakan langkah awal untuk membangun komunikasi yang inklusif dengan teman tuli. "Sebelum kita bisa meningkatkan kepedulian dan kesadaran kita terhadap mereka, kita harus lebih dulu memahami bahasa isyarat yang sekarang ini akan kita pelajari," ujarnya. Kegiatan ini diselenggarakan oleh DWP Kemensos sebagai upaya nyata untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan meningkatkan empati terhadap kelompok rentan ini.
Lebih lanjut, Fatma menekankan relevansi pembelajaran bahasa isyarat dengan tugas Kemensos. Para pekerja sosial Kemensos sering berinteraksi dengan berbagai Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS), termasuk penyandang disabilitas sensorik rungu wicara. Dengan memahami bahasa isyarat, diharapkan tercipta komunikasi yang efektif dan lebih berempati dalam memberikan layanan.
Pentingnya Inklusi dan Fasilitas Terapi
Dalam acara tersebut, DWP Kemensos juga memberikan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi) kepada lima anak penyandang disabilitas. Bantuan senilai Rp16,5 juta ini berupa alat penunjang terapi dan nutrisi. Fatma Gus Ipul menekankan pentingnya terapi dalam rehabilitasi sosial penyandang disabilitas, dan berharap agar fasilitas terapi di seluruh sentra Kemensos di Indonesia dapat ditingkatkan.
Berbagai alat bantu terapi diserahkan, antara lain balance board, bola kacang, bowling set, alat melatih otot jari, kartu set fonem artikulasi, magic workbook, magic draw set, permainan edukatif, alat elevasi lateralisasi lidah, sikat terapi sensory, dan walker. Hal ini menunjukkan komitmen Kemensos untuk mendukung penyandang disabilitas agar dapat mengembangkan potensi mereka secara optimal.
Fatma juga menjelaskan tujuan kunjungan ke Sentra Mulya Jaya, yaitu untuk memahami lebih dalam layanan yang diberikan dan memastikan terpenuhinya hak-hak kesehatan masyarakat rentan, termasuk penyandang disabilitas. "Kita ingin tahu apa yang ada di sentra ini, supaya bisa lebih mengenal apa yang menjadi tanggung jawab atau bagian dari pelayanan kita terhadap hak-hak kesehatan masyarakat rentan, masyarakat miskin ekstrem, dan para penyandang disabilitas," jelasnya.
Kesaksian dari Penerima Manfaat
Salah satu penerima manfaat pelatihan vokasional, Lala (13), seorang penyandang disabilitas rungu wicara, berbagi pengalamannya. Setelah mengikuti pelatihan menjahit selama empat bulan, Lala telah mampu membuat keset dan tas souvenir. "Sudah bisa bikin keset dan tas souvenir," kata Lala, menggunakan bahasa isyarat.
Kisah Lala menunjukkan bahwa dengan pelatihan dan dukungan yang tepat, penyandang disabilitas mampu berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. Ia berharap dapat terus mengembangkan keterampilannya dan membuktikan kesetaraannya dengan masyarakat umum.
Selain penyerahan bantuan dan pengenalan bahasa isyarat, DWP Kemensos juga meninjau layanan di klinik pratama Sentra Mulya Jaya dan kelas pelatihan vokasional lainnya, seperti menjahit, kerajinan tangan, tata boga, dan penatu. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi penyandang disabilitas.
Melalui berbagai inisiatif ini, Kemensos berharap dapat meningkatkan kualitas hidup dan pemberdayaan penyandang disabilitas di Indonesia. Pentingnya pembelajaran bahasa isyarat menjadi kunci utama dalam membangun komunikasi yang efektif dan menumbuhkan empati di masyarakat.