Rupiah Menguat di Tengah Kekhawatiran Retaliasi Kebijakan Tarif AS
Nilai tukar rupiah menguat signifikan seiring kekhawatiran retaliasi global terhadap kebijakan tarif proteksionis Amerika Serikat yang berpotensi memicu resesi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mengalami penguatan yang signifikan pada Jumat pagi, mencapai Rp16.653 per USD, menguat 93 poin atau 0,55 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.746 per USD. Penguatan ini didorong oleh kekhawatiran akan retaliasi negara-negara lain terhadap kebijakan tarif proteksionis yang diterapkan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Analis memprediksi penguatan ini akan berlanjut, meskipun sentimen risk off di pasar ekuitas global dapat membatasi dampaknya.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS dipicu oleh kekhawatiran akan retaliasi global terhadap kebijakan tarif Trump. Ia memprediksikan rupiah akan terus menguat, didorong oleh potensi resesi di AS akibat kebijakan tersebut. "Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS yang melemah oleh kekhawatiran retaliasi negara-negara terhadap tarif Trump akan berpotensi menyebabkan resesi di AS," ujar Lukman kepada ANTARA.
Kanada, sebagai salah satu negara yang terkena dampak kebijakan tarif AS, telah menyatakan akan melawan kebijakan tersebut dan membangun ekonomi terkuat di G7. Meskipun berhasil menghindari tarif terburuk untuk barang-barang berdasarkan USMCA, Kanada tetap akan dikenakan tarif 25 persen dan 10 persen untuk barang-barang lain, termasuk tarif 25 persen untuk impor mobil asing dan baja serta aluminium.
Retaliasi Global: Kanada, Uni Eropa, dan China
Tidak hanya Kanada, Uni Eropa (UE) juga tengah mempersiapkan langkah balasan atas tarif 20 persen yang dikenakan AS terhadap barang-barang asal Eropa. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menyatakan UE sedang merampungkan paket langkah balasan dan siap mengambil langkah lebih lanjut jika negosiasi gagal. China juga menunjukkan sikap yang sama, menolak keras tarif timbal balik dan berjanji akan mengambil tindakan balasan untuk melindungi hak dan kepentingannya. China menghadapi tambahan tarif sebesar 34 persen, di luar bea masuk 20 persen yang telah diberlakukan sebelumnya.
Kebijakan tarif AS yang diumumkan pada 2 April 2024, dengan tarif dasar 10 persen dan potensi tarif lebih tinggi bagi negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar, telah memicu reaksi keras dari berbagai negara. Gedung Putih juga mengumumkan rencana penerapan tarif 10 persen untuk semua impor asing pada 5 April 2025, dan tarif lebih tinggi untuk negara-negara dengan defisit perdagangan terbesar mulai 9 April 2025.
Lukman Leong memperkirakan China, UE, dan Kanada akan melakukan retaliasi terhadap kebijakan tarif AS. Namun, ia menilai Indonesia kemungkinan tidak akan melakukan tindakan balasan mengingat kekuatan ekonomi domestik yang relatif lebih kecil. "Pemerintah sebaiknya berusaha menegosiasi dan wait and see perkembangan lebih jauh," sarannya.
Faktor Lain yang Mempengaruhi Penguatan Rupiah
Selain retaliasi global, data Institute for Supply Management (ISM) jasa AS yang lebih lemah dari perkiraan juga turut menekan dolar AS. Data ini mencerminkan kekhawatiran para profesional terhadap ekonomi AS ke depannya. Namun, sentimen risk off di pasar ekuitas global akan membatasi penguatan rupiah.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Lukman memprediksi kurs rupiah akan berada di kisaran Rp16.600-Rp16.800 per dolar AS. Penguatan rupiah ini menunjukkan dampak signifikan dari kekhawatiran global terhadap kebijakan ekonomi AS dan potensi retaliasi yang akan terjadi.
Meskipun penguatan rupiah terlihat positif, situasi ini tetap perlu dipantau dengan cermat. Dampak jangka panjang dari kebijakan tarif AS dan retaliasi global masih belum dapat diprediksi secara pasti, dan pemerintah Indonesia perlu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan skenario.