Shalat Id di Lawang Sewu: Ibadah dan Wisata Sejarah dalam Satu Kesempatan
Ratusan Muslim shalat Id di Lawang Sewu Semarang, menggabungkan ibadah dengan wisata sejarah di bangunan bersejarah peninggalan Belanda tersebut.
Pada Senin, 31 Maret 2024, ratusan Muslim melaksanakan Shalat Idul Fitri 1446 Hijriah di kompleks wisata Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah. Shalat Id yang dipimpin oleh Ustaz Makhasim ini merupakan yang pertama kali digelar di lokasi bersejarah tersebut, menggabungkan momen ibadah dengan wisata sejarah yang unik. Jamaah memenuhi halaman plaza dan selasar Lawang Sewu, menciptakan suasana khusyuk dan berkesan.
Shalat Id dimulai sekitar pukul 06.15 WIB dan berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Ustaz Makhasim dalam khotbahnya menyampaikan harapan agar shalat Id di Lawang Sewu membawa berkah bagi objek wisata dan masyarakat Semarang. "Semoga kita istikamah dalam melaksanakan ibadah dan ketaatannya," kata Ustaz Makhasim.
Uniknya, usai shalat, banyak jamaah yang memanfaatkan kesempatan untuk berfoto di sekitar bangunan Lawang Sewu yang terkenal dengan cerita-cerita mistisnya. Hal ini menunjukkan perpaduan unik antara kegiatan ibadah dan wisata sejarah dalam satu momen yang berkesan.
Menggabungkan Ibadah dan Wisata Sejarah
Bagi sebagian jamaah, seperti Mutia Dinda dari Gresik, Jawa Timur, pelaksanaan Shalat Id di Lawang Sewu merupakan pengalaman yang menarik. "Shalat sekaligus melihat langsung ikon Kota Semarang," ujarnya. Mutia biasanya shalat Id di Lapangan Simpanglima, namun tahun ini ia sengaja datang ke Lawang Sewu setelah mendapat informasi melalui media sosial.
Hal senada diungkapkan Irsyad Hidayatullah, warga Semarang yang merantau ke Jakarta. Ia merasa suasana shalat di Lawang Sewu berbeda dan berkesan. "Suasananya beda. Adem, tenang, berasa dibawa ke masa lalu," katanya. Ia bahkan tidak merasakan nuansa horor yang sering dikaitkan dengan Lawang Sewu.
Azahra Ramadhan, mahasiswi Undip Semarang yang tidak pulang kampung, juga turut merasakan pengalaman unik ini. Ia dan temannya berangkat dari Tembalang pukul 4 pagi untuk sampai di Lawang Sewu, meskipun sempat menemukan gerbang yang masih terkunci. Perjalanan sejauh 11 km dari tempat kosnya terbayar dengan pengalaman shalat Id yang berkesan di lokasi bersejarah tersebut.
Lawang Sewu: Lebih dari Sekedar Bangunan Bersejarah
Menurut Manager Historical Building and Museum PT KAI Pariwisata, Otnial Eko Pamiarso, antusiasme masyarakat untuk shalat Id di Lawang Sewu sangat tinggi. Pihak pengelola melihat kegiatan ini sebagai cara untuk menghilangkan kesan horor yang melekat pada bangunan tersebut dan menunjukkan bahwa Lawang Sewu ramah keluarga.
Pelaksanaan Shalat Id ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Di hari biasa, Lawang Sewu memang menjadi destinasi wisata utama, dan momen Idul Fitri ini memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berkunjung sambil beribadah. Otnial memastikan harga tiket masuk tetap Rp20.000 per orang.
Lawang Sewu, yang dibangun pada tahun 1900-an, merupakan gedung peninggalan Belanda yang dulunya merupakan kantor administrasi kereta api NIS. Bangunan ini juga menjadi saksi bisu Pertempuran Lima Hari di Semarang pada tahun 1945. Kini, Lawang Sewu juga memiliki museum imersif dan gua bawah tanah yang menambah daya tariknya sebagai destinasi wisata.
Melihat antusiasme yang tinggi, pengelola Lawang Sewu berencana melakukan evaluasi untuk meningkatkan kenyamanan dan kekhidmatan pelaksanaan shalat Id di masa mendatang. Semoga kegiatan ini menjadi tradisi positif yang menggabungkan nilai spiritual dan wisata sejarah.