4 Ciri Orang Beruntung Setelah Ramadhan: Pesan Pimpinan Ponpes An Nahdlah
Pimpinan Ponpes An Nahdlah Makassar, Dr. KH Alifuddin Harisah, memaparkan empat ciri orang beruntung pasca-Ramadhan, menekankan introspeksi diri dan rasa syukur.

Makassar, 31 Maret (ANTARA) - Setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh, umat Muslim diharapkan dapat meraih keberuntungan dengan mengembangkan empat ciri utama yang diajarkan Rasulullah SAW. Hal tersebut disampaikan oleh Pimpinan Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar, Dr. KH Alifuddin Harisah, LC, M.Ag, pada Senin lalu, saat menanggapi hikmah dari puasa Ramadhan. Beliau menjelaskan bahwa latihan menahan diri selama sebulan penuh hendaknya membawa perubahan positif dalam kehidupan umat Muslim.
Menurut Alifuddin, puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas spiritualitas. Oleh karena itu, momentum pasca-Ramadhan sangat penting untuk merefleksikan diri dan menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari selama bulan suci. Keberhasilan dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut akan menentukan keberuntungan seseorang di masa mendatang.
Lebih lanjut, Alifuddin menekankan pentingnya menjadikan momentum pasca-Ramadhan sebagai titik balik untuk memulai perjalanan kehidupan yang lebih baik. Dengan merenungkan hikmah puasa dan menerapkan nilai-nilai yang telah dipelajari, diharapkan umat Muslim dapat mencapai kehidupan yang lebih bermakna dan penuh keberkahan.
Empat Ciri Orang Beruntung Pasca Ramadhan
Alifuddin memaparkan empat ciri utama orang yang beruntung setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan. Pertama, senantiasa mengingat dosa-dosa yang dilakukan, baik sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini mendorong rasa takut akan kemurkaan Allah SWT, sehingga individu termotivasi untuk terus memperbaiki diri dan memperbanyak istighfar. Dengan demikian, introspeksi diri menjadi kunci utama untuk mencapai keberuntungan.
Kedua, ciri orang beruntung adalah senantiasa melupakan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Sikap ini bukan berarti mengingkari kebaikan, melainkan untuk menghindari sifat riya’ atau ingin dipuji. Dengan fokus pada perbaikan diri dan menghindari kesombongan, seseorang akan lebih mudah meraih keberuntungan.
Ketiga, orang yang beruntung senantiasa melihat ke atas dalam hal ibadah dan agama. Artinya, mereka selalu berusaha untuk mencontoh orang-orang yang lebih saleh dan terus meningkatkan kualitas ibadah mereka. Dengan meneladani keteladanan para tokoh agama, diharapkan seseorang dapat mencapai kesuksesan spiritual.
Keempat, orang yang beruntung senantiasa melihat ke bawah dalam hal keduniawian. Artinya, mereka menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih susah daripada dirinya. Sikap ini akan menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT dan mendorong kepedulian sosial. Dengan demikian, keberuntungan akan diiringi dengan rasa kepedulian dan empati terhadap sesama.
Meneladani Nabi Muhammad SAW
Alifuddin juga mengingatkan pentingnya meneladani Nabi Muhammad SAW dan orang-orang saleh di sekitarnya sebagai panutan dan penuntun dalam menjalani kehidupan. Dengan meneladani akhlak dan perilaku Rasulullah SAW, diharapkan umat Muslim dapat meraih keberuntungan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Menjadikan teladan tersebut sebagai pedoman hidup akan memberikan arah yang jelas dan terarah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Sebagai penutup, Alifuddin berharap agar umat Muslim dapat menjadikan momentum pasca-Ramadhan sebagai awal yang baru untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas spiritualitas. Dengan mengamalkan empat ciri orang beruntung tersebut, diharapkan umat Muslim dapat meraih keberuntungan dan kebahagiaan di masa mendatang. Semoga momentum pasca-Ramadhan dapat membawa perubahan positif bagi kehidupan umat Muslim di Indonesia.