Dari Makassar hingga Pelosok: Mengungkap Makna Kemerdekaan Sejati di Mata Masyarakat Akar Rumput
Bagi masyarakat akar rumput, makna kemerdekaan jauh melampaui seremoni. Simak bagaimana mereka merayakan dan memaknai kebebasan dalam keseharian, dari Makassar hingga pelosok negeri.

Suasana perayaan Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa berbeda di Pulau Lakkang, Makassar. Bendera Merah Putih berkibar di setiap halaman rumah, diiringi sorak-sorai anak-anak yang antusias mengikuti berbagai lomba. Pemandangan ini menciptakan atmosfer meriah di pulau yang biasanya tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Perayaan sederhana namun penuh makna ini mencerminkan potret masyarakat akar rumput dalam memaknai kemerdekaan. Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar seremoni kenegaraan yang disiarkan di televisi. Ini adalah tentang hidup dalam denyut nadi keseharian, merasakan kebersamaan, serta berbagi suka dan duka.
Makna kemerdekaan sejati bagi mereka terwujud dalam ruang-ruang harapan yang terus diisi dengan keadilan sosial dan kesejahteraan. Ini adalah tentang pemenuhan kebutuhan dasar, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta kesempatan untuk mencari nafkah yang layak. Kemerdekaan menjadi realitas hidup sehari-hari, bukan sekadar jargon.
Perayaan Kemerdekaan di Pulau Lakkang: Potret Kebersamaan
Di Pulau Lakkang, Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, perayaan kemerdekaan berlangsung dengan semangat gotong royong. Kaum lelaki dewasa berperan sebagai juri lomba anak-anak, sementara para ibu sibuk menyiapkan hidangan dan minuman. Pengibaran Sang Saka Merah Putih dan kumandang lagu Indonesia Raya mengawali setiap rangkaian acara, menyemarakkan suasana di tengah rimbunan bambu.
Perayaan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan adalah momen untuk bersatu padu, dari anak-anak hingga dewasa. Setidaknya sekali dalam setahun, masyarakat dapat berkumpul dan bergembira bersama. Ini adalah wujud rasa syukur dan kebersamaan dalam mengisi kemerdekaan, sekaligus pengingat bahwa perjuangan untuk hidup lebih baik belum usai.
Makna Kemerdekaan dalam Keseharian: Kisah Pedagang, Petani, dan Nelayan
Bagi Husnah, seorang pedagang sayur keliling di Pulau Lakkang, makna kemerdekaan sangat sederhana. Ia hanya berharap dagangannya laku setiap hari dan anak-anaknya bisa bersekolah. Kemerdekaan baginya adalah ruang untuk mencari nafkah yang layak, memastikan tangki BBM sepeda motornya terisi agar dapat menjajakan sayur-mayur tanpa hambatan.
Senada dengan Husnah, Daeng Ramli, seorang petani di perbatasan Makassar dan Maros, memaknai kemerdekaan dengan kemudahan akses pupuk terjangkau. Ia juga berharap harga produksi padi yang layak dan anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan. Panen yang berhasil adalah harapan tertinggi, yang berarti mereka merdeka dari utang untuk menutupi biaya produksi.
Di Pulau Kodingareng, nelayan bernama Mustari memiliki pandangan serupa. Kemerdekaan baginya adalah terbebas dari utang kepada juragan dan mampu bermodal sendiri untuk melaut. Selama ini, banyak nelayan buruh memiliki ketergantungan tinggi pada pemilik kapal, sehingga kemandirian finansial menjadi simbol kebebasan yang sesungguhnya.
Harapan akan Keadilan Sosial dan Layanan Publik Merata
Potret masyarakat akar rumput ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar simbol upacara, melainkan bagaimana mereka bisa hidup lebih baik. Kebutuhan konsumsi sehari-hari terpenuhi dan kemampuan menyekolahkan anak menjadi indikator penting. Program pendidikan gratis yang digalakkan pemerintah diharapkan dapat meringankan beban biaya sekolah bagi mereka.
Demikian pula dengan program kesehatan gratis seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS). Masyarakat berharap layanan ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga memberikan perlakuan yang sama di rumah sakit, tanpa membedakan pasien umum atau pemegang kartu. Kemerdekaan sejati tercermin ketika layanan publik tidak ada perbedaan antara masyarakat akar rumput dan masyarakat elit.
Tantangan dan Perjuangan Masyarakat Akar Rumput
Pengamat komunikasi sosial dan budaya, Dr. Hadawiah Hatita, menegaskan bahwa makna kemerdekaan di tingkat akar rumput erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Kemerdekaan sejati terwujud ketika rakyat kecil memiliki akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang layak. Bagi mereka, kemerdekaan bukan jargon, melainkan realitas hidup sehari-hari yang harus diperjuangkan.
Petani misalnya, terus berjuang meningkatkan produksi, namun seringkali pasrah saat harga gabah anjlok akibat ulah oknum. Nelayan juga menghadapi cuaca ekstrem dan kesulitan memenuhi kebutuhan solar untuk perahu mereka. Tantangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan ekonomi negara melalui ekspor sumber daya alam tidak selalu sejalan dengan perjuangan harian masyarakat bawah.
Selain itu, nelayan juga kesulitan mengakses dana perbankan karena tidak memiliki agunan, padahal risiko kerja mereka sangat tinggi. Pemerintah diharapkan dapat memberikan solusi teknologi pengeringan ikan dan akses modal yang lebih mudah. Ini adalah bentuk tangan bijak pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kemerdekaan sederhana bagi masyarakat yang hidup dari hasil laut.
Optimisme Menuju Keadilan Sosial yang Nyata
Di balik berbagai kondisi yang dihadapi, perayaan kemerdekaan di kampung-kampung, desa-desa, dan pesisir tetap menjadi wujud rasa syukur. Lomba-lomba, pesta rakyat, kerja bakti, dan doa bersama adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Derap langkah barisan Merah Putih di kantor pemerintahan hingga istana negara menjadi penyemangat dan harapan baru bagi masyarakat akar rumput.
Berbagai program dan praktik baik dari pemerintah di lapangan diharapkan tidak ternodai oleh praktik korupsi oknum yang melukai hati masyarakat. Semua pihak optimistis bahwa sila kelima Pancasila, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," dapat terwujud. Hal ini didukung oleh pemerintahan yang bersih dan berwibawa, serta masyarakat yang kritis namun konstruktif.