Deklarasi Istiqlal: Memperkuat Jalinan Agama dan Budaya di Indonesia
Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal menekankan tiga prinsip utama yang memperkuat hubungan harmonis antara agama dan budaya di Indonesia, serta menyerukan moderasi beragama.

Jakarta, 26 Februari 2024 - Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag), Abu Rokhmad, menyatakan bahwa Deklarasi Istiqlal yang baru-baru ini ditandatangani, memuat tiga prinsip utama yang bertujuan memperkuat hubungan harmonis antara agama dan budaya di Indonesia. Deklarasi ini merupakan hasil pertemuan lintas agama yang melibatkan Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, pada September 2024 lalu. Pertemuan bersejarah ini menghasilkan sebuah dokumen penting yang menekankan pentingnya kolaborasi antarumat beragama dalam membangun perdamaian dan toleransi.
Pernyataan tersebut disampaikan Abu Rokhmad dalam acara Ngaji Budaya di Jakarta. Beliau menjelaskan, prinsip pertama deklarasi ini menegaskan bahwa agama dan budaya bukanlah entitas yang berseberangan, melainkan saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Islam di Indonesia, menurutnya, tumbuh dan berkembang melalui interaksi dinamis dengan budaya lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai inti ajaran agama. Hal ini menunjukkan bagaimana agama dapat beradaptasi dan berasimilasi dengan konteks budaya setempat tanpa kehilangan esensinya.
Lebih lanjut, Abu Rokhmad menekankan bahwa deklarasi tersebut lahir dari kesadaran akan pentingnya peran budaya dalam menyebarkan nilai-nilai Islam. Ia mencontohkan bagaimana Islam di Indonesia telah lama berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi budaya seperti seni, sastra, arsitektur, dan tradisi lokal. Dengan demikian, budaya menjadi jembatan yang efektif untuk mendekatkan ajaran agama kepada masyarakat luas, membuatnya lebih mudah dipahami dan dihayati.
Tiga Prinsip Utama Deklarasi Istiqlal
Deklarasi Istiqlal menjabarkan tiga prinsip utama yang menjadi landasan utama dalam memperkuat hubungan agama dan budaya. Prinsip pertama menekankan keselarasan antara agama dan budaya, yang saling memperkuat dan bukannya bertentangan. Islam Nusantara, sebagai contoh, menunjukkan bagaimana agama dapat beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan jati dirinya. Prinsip kedua menyoroti peran budaya sebagai media efektif dalam menyampaikan nilai-nilai keislaman, dengan menekankan pentingnya literasi budaya Islam agar pesan keagamaan dapat disampaikan secara adaptif dan relevan dengan konteks zaman.
Prinsip ketiga yang tak kalah penting adalah moderasi beragama yang berbasis pemahaman budaya. Abu Rokhmad menegaskan bahwa tantangan utama saat ini adalah munculnya paham-paham keagamaan eksklusif yang mengabaikan kearifan lokal. Moderasi beragama, menurutnya, merupakan pendekatan yang ramah terhadap kebudayaan dan menghormati keberagaman.
Deklarasi Istiqlal juga menyerukan peningkatan nilai-nilai agama untuk menghilangkan budaya kekerasan dan ketidakpedulian. Para pemimpin agama didorong untuk bekerja sama dalam menanggapi krisis global, mengidentifikasi penyebabnya, dan mengambil tindakan yang tepat. Dialog antarumat beragama dianggap sebagai sarana efektif untuk menyelesaikan konflik, terutama konflik yang dipicu oleh penyalahgunaan agama.
Pentingnya Moderasi Beragama dan Dialog Antarumat Beragama
Salah satu poin penting yang diangkat dalam Deklarasi Istiqlal adalah pentingnya moderasi beragama. Moderasi beragama, dalam konteks ini, diartikan sebagai pendekatan yang menghargai dan menghormati keberagaman budaya. Hal ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan yang dihadapi saat ini, yaitu munculnya paham-paham keagamaan yang cenderung eksklusif dan mengabaikan kearifan lokal. Deklarasi ini mendorong pemahaman yang lebih inklusif dan toleran dalam beragama.
Selain itu, deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya dialog antarumat beragama sebagai alat untuk menyelesaikan konflik, baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. Dialog yang konstruktif dan saling menghormati dianggap sebagai kunci untuk mencegah dan mengatasi konflik yang dipicu oleh penyalahgunaan agama. Hal ini menunjukkan komitmen untuk membangun perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.
Dengan ditekankannya tiga prinsip utama tersebut, Deklarasi Istiqlal diharapkan dapat menjadi pedoman dalam membangun hubungan yang lebih harmonis antara agama dan budaya di Indonesia. Deklarasi ini juga menjadi bukti komitmen bersama untuk memperkuat nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan moderasi beragama di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Deklarasi Istiqlal merupakan langkah penting dalam memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia dan menjadi contoh nyata bagaimana agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang damai dan harmonis. Semoga deklarasi ini dapat diimplementasikan secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.