Harga Telur Ayam di Jaksel Naik 20 Persen Jelang Ramadhan, Pedagang Antisipasi Panic Buying
Jelang Ramadhan, harga telur ayam di Jakarta Selatan meroket hingga 20 persen, pedagang Pasar Santa dan Cipete melaporkan kenaikan signifikan dan mengantisipasi aksi borong oleh konsumen.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, Bagaimana? Jelang Ramadhan 1446 H/2025 M, harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional Jakarta Selatan (Jaksel) mengalami kenaikan signifikan hingga 20 persen. Kenaikan ini dilaporkan oleh para pedagang di Pasar Santa dan Pasar Cipete, Jakarta Selatan. Kenaikan harga terjadi pada awal tahun dan terus berlanjut hingga menjelang bulan puasa. Penyebab kenaikan harga belum dijelaskan secara pasti, namun pedagang memperkirakan kenaikan ini dipicu oleh tingginya permintaan menjelang Ramadhan, sehingga memicu antisipasi aksi borong (panic buying).
Para pedagang di Pasar Santa dan Cipete telah merasakan dampak kenaikan harga ini. Mereka mencatat kenaikan harga telur ayam dari Rp28.000 per kilogram menjadi Rp32.000 per kilogram. Kenaikan harga ini memaksa pedagang untuk mempersiapkan stok lebih banyak untuk memenuhi permintaan yang diprediksi akan melonjak tajam selama bulan Ramadhan.
Selain telur, harga komoditas lain juga mengalami fluktuasi. Harga cabai misalnya, mengalami kenaikan dan penurunan yang cukup signifikan, sementara harga bawang tergolong stabil. Kondisi ini membuat para pedagang harus lebih cermat dalam mengelola stok dan harga jual barang dagangannya.
Kenaikan Harga Telur dan Antisipasi Panic Buying
Dwi Cahyo, salah satu pedagang di Pasar Santa, mengungkapkan bahwa menjelang Ramadhan, pembeli cenderung membeli telur dalam jumlah besar untuk beberapa hari sekaligus. "Kalau menjelang puasa, biasanya orang belinya sekali beli untuk dua hari, langsung borong," ujarnya. Hal ini mendorong pedagang untuk mempersiapkan stok yang cukup agar dapat memenuhi permintaan konsumen.
Sementara itu, Yono, pedagang di Pasar Cipete, menjelaskan bahwa harga telur per butir masih tetap Rp2.000, sehingga harga per kilogramnya menjadi Rp34.000 (dengan asumsi 17 butir per kilogram). Meskipun harga per butir tetap, kenaikan harga per kilogram tetap dirasakan karena jumlah butir per kilogram tetap.
Kedua pedagang tersebut berharap pemerintah dapat membantu mengendalikan harga dan stok pangan menjelang Ramadhan untuk mencegah panic buying yang dapat merugikan pedagang dan konsumen.
Pemantauan Harga dan Stok Pangan oleh Pemerintah
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian Jakarta Selatan telah melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pokok di beberapa pasar tradisional dan swalayan. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa sebagian besar komoditas pangan dalam kondisi aman.
Namun, beberapa komoditas mengalami kenaikan harga, seperti beras (1 persen), minyak goreng (2 persen), daging ayam (1 persen), telur ayam (3 persen), dan cabai rawit merah (7 persen). Meskipun mengalami kenaikan, kenaikan harga tersebut masih dianggap wajar dan masih dalam koridor yang dapat diterima.
Pemprov DKI Jakarta berencana melakukan operasi pasar di 193 titik untuk memastikan kestabilan harga dan stok pangan menjelang Ramadhan. Langkah ini diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat dan mencegah terjadinya kelangkaan dan lonjakan harga yang signifikan.
Kesimpulan: Kenaikan harga telur ayam di Jakarta Selatan menjelang Ramadhan menjadi perhatian utama. Pedagang mengantisipasi lonjakan permintaan dan pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga dan stok pangan melalui pemantauan dan operasi pasar.