Indonesia Kirim Bantuan Tahap Ketiga untuk Korban Gempa Myanmar
Menko PMK Pratikno tegaskan keseriusan Indonesia dalam memberikan bantuan kemanusiaan tahap ketiga untuk korban gempa bumi di Myanmar, meliputi logistik, obat-obatan, dan alat kesehatan senilai Rp20 miliar.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan M7,7 mengguncang Myanmar pada akhir Maret 2024, menimbulkan krisis kemanusiaan yang signifikan. Indonesia, sebagai negara tetangga sesama anggota ASEAN, langsung merespon dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Bantuan tahap ketiga ini dikirimkan pada Kamis, 3 April 2024, melalui jalur udara dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, secara langsung melepas bantuan tersebut dan menegaskan komitmen Indonesia untuk membantu Myanmar. Pernyataan ini disampaikan usai proses pelepasan bantuan, menekankan keseriusan pemerintah dalam meringankan penderitaan korban gempa. Bantuan ini merupakan bukti nyata solidaritas Indonesia terhadap sesama negara ASEAN yang tengah menghadapi bencana.
Penyerahan bantuan tahap ketiga ini menandai komitmen berkelanjutan Indonesia dalam misi kemanusiaan. Sebelumnya, dua tahap pengiriman bantuan telah dilakukan pada Senin, 31 Maret dan Selasa, 1 April 2024. Total bantuan yang telah dikirimkan hingga tahap ketiga ini mencapai nilai yang signifikan, menunjukkan skala besar dukungan yang diberikan Indonesia.
Bantuan Logistik untuk Myanmar
Bantuan tahap ketiga yang dikirimkan ke Myanmar terdiri dari berbagai jenis logistik penting untuk mendukung upaya penyelamatan dan pemulihan pasca-bencana. Dua pesawat dikerahkan untuk mengangkut total 124 ton bantuan dengan nilai lebih dari Rp20 miliar. Bantuan tersebut meliputi obat-obatan, alat-alat kesehatan yang sangat dibutuhkan untuk perawatan medis korban, serta makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Jenis bantuan yang dikirimkan dipilih secara cermat berdasarkan kebutuhan mendesak di lapangan. Prioritas diberikan pada barang-barang yang dapat langsung digunakan untuk menyelamatkan jiwa dan meringankan penderitaan para korban. Hal ini menunjukkan perencanaan yang matang dan responsif terhadap situasi darurat di Myanmar.
Pemerintah Indonesia berharap bantuan ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi para korban gempa di Myanmar. Komitmen ini sejalan dengan prinsip kemanusiaan dan solidaritas antarnegara ASEAN.
Tim SAR Indonesia di Myanmar
Sebuah tim misi kemanusiaan dari Indonesia telah diterjunkan ke Myanmar untuk membantu upaya pencarian dan penyelamatan (SAR). Tim ini terdiri dari personel Indonesia Search and Rescue (INASAR), anggota TNI, dan perwakilan lembaga terkait. Tim tiba di Bandara Naypyidaw pada Selasa, 1 April 2024, dan langsung menuju Base of Operation (BoO) di wilayah Naypyidaw.
Di Myanmar, Tim INASAR berkoordinasi dengan tim SAR dari negara lain, dengan Tim SAR Singapura sebagai koordinator wilayah sektor pencarian di Naypyidaw dan Mandalay. Koordinasi ini penting untuk memastikan efisiensi dan efektivitas upaya SAR gabungan.
Tim Indonesia aktif melakukan berbagai kegiatan, termasuk koordinasi dengan pejabat pemerintah Myanmar dan melakukan asesmen lokasi bencana. Mereka juga melakukan operasi SAR, berhasil mengevakuasi beberapa korban jiwa, dan memberikan pelayanan medis kepada warga Myanmar yang membutuhkan.
Kerja sama dengan AHA Center juga difasilitasi untuk memperlancar proses koordinasi dan penugasan tim di lapangan. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk bekerja sama dengan organisasi internasional dalam misi kemanusiaan.
Penanganan Korban dan Upaya Pemulihan
Tim INASAR, yang terbagi menjadi tim Alfa dan Bravo, dikerahkan ke lokasi-lokasi yang telah ditentukan untuk melakukan operasi SAR. Mereka berhasil mengevakuasi beberapa korban jiwa dari reruntuhan bangunan. Selain operasi SAR, tim juga memberikan pelayanan medis kepada warga Myanmar yang terdampak gempa.
Proses evakuasi dan pelayanan medis menunjukkan dedikasi dan profesionalisme Tim INASAR Indonesia. Bantuan yang diberikan tidak hanya terbatas pada logistik, tetapi juga mencakup upaya penyelamatan dan perawatan medis langsung kepada korban.
Keberhasilan evakuasi korban dan pelayanan medis menjadi bukti nyata kontribusi Indonesia dalam upaya pemulihan pasca-bencana di Myanmar. Hal ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk membantu meringankan penderitaan korban dan mendukung upaya pemulihan di Myanmar.
Indonesia, melalui pengiriman bantuan kemanusiaan dan penugasan tim SAR, menunjukkan komitmen nyata dalam membantu Myanmar mengatasi dampak gempa bumi. Solidaritas dan kerja sama internasional menjadi kunci dalam menghadapi bencana kemanusiaan berskala besar seperti ini. Semoga bantuan yang diberikan dapat memberikan dampak positif bagi para korban dan mempercepat proses pemulihan di Myanmar.