Indonesia Akhiri Misi Kemanusiaan Gempa Myanmar: Bantuan Logistik Tahap Terakhir Dikirim
Pemerintah Indonesia resmi menutup misi kemanusiaan untuk korban gempa Myanmar setelah mengirimkan tiga gelombang bantuan logistik dan personel, dengan total bantuan mencapai 124 ton.

Jakarta, 3 April 2024 - Pemerintah Indonesia telah mengakhiri misi kemanusiaan untuk membantu para korban gempa bumi di Myanmar. Penutupan misi ini menyusul pengiriman tiga gelombang bantuan yang dilakukan sejak Senin (31 Maret) hingga Kamis (3 April) ini. Bantuan tersebut meliputi logistik dan personel dari berbagai kementerian dan lembaga, serta organisasi swasta.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, mengumumkan penutupan misi ini usai pelepasan bantuan tahap akhir di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Ia menegaskan bahwa pengiriman bantuan logistik tahap ketiga pada Kamis menjadi yang terakhir dari pemerintah. "Ini merupakan tahap ketiga, sekaligus tahap terakhir. Jadi, setelah hari ini, apabila ada masyarakat Indonesia yang ingin menyumbang ke Myanmar, ini menggunakan jalur masing-masing, jadi pemerintah sudah tidak memfasilitasi lagi," kata Suharyanto.
Total bantuan yang dikirimkan mencapai 124 ton, melibatkan 157 personel dari berbagai kementerian/lembaga seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, BNPB, dan Basarnas. Sebanyak 92 personel telah berada di Myanmar untuk menjalankan misi kemanusiaan.
Bantuan Logistik Meliputi Berbagai Kebutuhan
Bantuan logistik yang dikirimkan mencakup berbagai kebutuhan mendesak para korban gempa. Rinciannya meliputi 24 ton bantuan dari Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan yang telah tiba di Myanmar sebelumnya. Sementara itu, bantuan lainnya, termasuk dua kendaraan truk, genset, dan perlengkapan dari Basarnas, sebagian telah dikirim lebih dulu, dan sisanya diberangkatkan pada Kamis menggunakan dua pesawat, yaitu satu pesawat Garuda 747-800 dan satu pesawat kargo. Pengiriman ini membawa kurang lebih 105 ton bantuan, termasuk obat-obatan dari Kementerian Kesehatan, serta sumbangan dari Kementerian Pertanian, Basarnas, BNPB, dan sektor swasta.
Sumbangan dari sektor swasta berasal dari berbagai lembaga, antara lain Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Human Initiative, AGP, Budha Tzu Chi, dan lainnya. Semua bantuan ini didasarkan pada kebutuhan mendesak para korban gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28 Maret).
Menko PMK Pratikno menambahkan, "Kita membawa barang-barang yang dibutuhkan oleh saudara-saudara kita di Myanmar." Bantuan logistik dan personel diberangkatkan dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju Kota Naypyidaw, Myanmar, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Yangon.
Penutupan Misi dan Langkah Selanjutnya
Meskipun misi kemanusiaan pemerintah telah berakhir, masyarakat Indonesia yang masih ingin memberikan bantuan dapat melakukannya melalui jalur independen. Pemerintah Indonesia telah mengirimkan bantuan yang signifikan dan telah memastikan bahwa bantuan tersebut sampai kepada mereka yang membutuhkannya. Proses pengiriman bantuan telah terkoordinasi dengan baik, melibatkan berbagai pihak, baik dari instansi pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat.
Dengan berakhirnya misi ini, fokus pemerintah kini beralih pada monitoring dampak bantuan dan koordinasi dengan pihak terkait di Myanmar untuk memastikan bantuan tersebut digunakan secara efektif dan efisien. Pemerintah Indonesia tetap berkomitmen untuk mendukung upaya pemulihan pasca-bencana di Myanmar, meskipun melalui jalur yang berbeda dari misi kemanusiaan yang telah resmi ditutup.
Langkah selanjutnya, masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam upaya bantuan kemanusiaan di Myanmar dapat mencari informasi lebih lanjut melalui lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya yang memiliki pengalaman dan rekam jejak yang baik dalam menyalurkan bantuan internasional.