Ketupat Pandan: Aroma Lebaran di Palembang yang Tak Lekang Zaman
Jelang Lebaran 2025, ketupat pandan tetap menjadi primadona di Palembang, mengalahkan ketupat daun kelapa dan menunjukkan daya tahan tradisi kuliner di tengah modernisasi.

Jelang Idul Fitri 1446 Hijriah atau tahun 2025, warga Palembang tetap mempertahankan tradisi merayakan Lebaran dengan ketupat. Namun, yang menarik, bungkus ketupat pandan justru menjadi pilihan utama, mengalahkan ketupat daun kelapa yang selama ini menjadi tradisi. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya tradisi kuliner di tengah gempuran produk makanan modern.
Pada Minggu, 30 Maret 2025, di sejumlah pasar tradisional Palembang, terlihat warga, terutama ibu-ibu dan remaja putri, memburu bungkus ketupat pandan. Mereka rela mengantri di kios-kios dan lapak kaki lima untuk mendapatkan bungkus ketupat yang harum ini. Fenomena ini menunjukkan betapa ketupat, khususnya yang beraroma pandan, tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Palembang.
Gunawan, seorang pedagang di Pasar Tradisional Sekip Ujung Palembang, mengungkapkan bahwa permintaan bungkus ketupat pandan jauh melampaui ketupat daun kelapa. "Selama ini saya banyak menjual bungkus ketupat dari daun kelapa," ujar Gunawan, "namun menjelang Lebaran beberapa tahun terakhir mulai menjual yang berbahan baku daun pandan dan ternyata sangat diminati warga kota ini karena ketika dimasak ketupat tersebut mengeluarkan aroma wangi pandan."
Ketupat Pandan: Aroma Harum, Harga Lebih Mahal, Peminat Tetap Tinggi
Bungkus ketupat pandan memang dijual lebih mahal dibandingkan dengan bungkus ketupat daun kelapa. Gunawan menjual bungkus ketupat daun kelapa seharga Rp10.000 per ikat (isi 10 buah), sedangkan bungkus ketupat pandan dibanderol Rp15.000 hingga Rp17.500 per ikat. Namun, perbedaan harga ini tak menyurutkan minat pembeli. Dalam dua hari terakhir, Gunawan telah menjual 750 bungkus ketupat pandan, jauh lebih banyak dibandingkan dengan 250 bungkus ketupat daun kelapa.
Tingginya permintaan ketupat pandan menunjukkan bahwa tradisi kuliner di Palembang tetap lestari. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Syifa, salah seorang pembeli, yang mengatakan bahwa ketupat merupakan ciri khas Lebaran di Palembang. "Meskipun makanan modern telah banyak merambah Bumi Sriwijaya ini," kata Syifa, "makanan tradisional sebagai ciri khas daerah tetap dipertahankan, tanpa adanya ketupat sebagian besar warga kota ini merasa tidak berlebaran."
Ketupat pandan bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol budaya dan identitas masyarakat Palembang. Aroma pandan yang khas menjadi pengingat akan tradisi Lebaran yang turun-temurun.
Kondisi Keamanan Jelang Lebaran di Palembang
Di tengah kesibukan mempersiapkan Lebaran, pihak kepolisian juga memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) tetap terjaga. Kapolrestabes Palembang, Kombes Pol Harryo Sugihhartono, menyatakan bahwa kondisi Kamtibmas menjelang Lebaran cukup kondusif.
Untuk menjaga kondusivitas Kamtibmas selama dan setelah Lebaran, pihak kepolisian meningkatkan kesiapsiagaan personel di pusat-pusat keramaian dan daerah rawan kejahatan serta kemacetan lalu lintas. Hal ini menunjukkan komitmen pihak berwajib untuk memastikan perayaan Lebaran berjalan aman dan lancar bagi seluruh warga Palembang.
Secara keseluruhan, perayaan Lebaran di Palembang tahun ini diwarnai dengan aroma harum ketupat pandan yang tetap diminati, menunjukkan perpaduan harmonis antara tradisi dan modernisasi. Tradisi kuliner tetap lestari, dan keamanan masyarakat tetap terjaga.