Kuburan Massal Ulee Lheue Dipadati Peziarah di Hari Lebaran: Momen Haru Doa untuk Korban Tsunami Aceh
Ribuan peziarah memadati Kuburan Massal Ulee Lheue di Banda Aceh pada Lebaran untuk mendoakan korban tsunami Aceh 2004, mengenang tragedi dan mendoakan keluarga yang hilang.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah, suasana khidmat menyelimuti Kuburan Massal Ulee Lheue di Banda Aceh. Kuburan massal yang menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi lebih dari 14.264 korban tsunami Aceh 2004 ini dipadati oleh para peziarah. Mereka datang dari berbagai penjuru untuk mendoakan para korban tragedi dahsyat yang terjadi 21 tahun silam. Ziarah ini menjadi momen haru bagi keluarga yang kehilangan orang terkasih dalam bencana gempa bumi berkekuatan 9,2 SR dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004.
Ibrul, salah satu peziarah, mengungkapkan bahwa setiap tahun, baik di Idul Fitri maupun Idul Adha, ia selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke kuburan massal ini. Ia datang untuk mendoakan kedua orang tuanya yang menjadi korban tsunami. "Setiap tahun dua kali saya datang untuk mengirimkan Al Fatihah dan Yasin untuk kedua orang tua yang sudah meninggal saat kejadian tsunami," katanya dengan suara bergetar menahan haru. Meskipun sudah 21 tahun berlalu, kenangan akan kedua orang tuanya masih sangat membekas di hatinya, terlebih ia merupakan anak tunggal.
Kisah serupa juga disampaikan oleh Darma. Ia berziarah untuk mendoakan saudara-saudaranya yang menjadi korban tsunami. "Ada ibu, ayah, kakak, dan adik, serta saudara-saudara lain yang saya doakan di sini," ujarnya. Keluarganya berada di Kajhu, Aceh Besar saat bencana terjadi. Karena jenazah mereka tidak ditemukan, Darma menduga mereka dimakamkan di Kuburan Massal Ulee Lheue. "Jenazah mereka tidak ditemukan di daerah Kajhu, jadi kemungkinan besar mereka dimakamkan di sini," katanya, menggambarkan kepasrahan dan harapannya menemukan kedamaian bagi keluarga yang telah tiada.
Momen Ziarah di Hari Raya Idul Fitri
Kuburan Massal Ulee Lheue menjadi saksi bisu atas tragedi tsunami Aceh 2004. Lebih dari 250 ribu jiwa melayang akibat bencana dahsyat tersebut. Di kuburan massal ini, ribuan korban dimakamkan tanpa nisan, mencerminkan betapa besarnya jumlah korban yang harus direlakan. Di hari Lebaran, suasana ziarah dipenuhi dengan lantunan doa dan isak tangis haru dari para peziarah yang datang untuk mengenang dan mendoakan keluarga mereka.
Banyak peziarah yang datang dengan membawa bunga dan membacakan surat Yasin. Mereka menghabiskan waktu berlama-lama di kuburan massal, mengucapkan doa dan mengenang kembali peristiwa yang telah merenggut banyak nyawa. Suasana hening dan khidmat menyelimuti area pemakaman, menunjukkan rasa duka dan penghormatan yang mendalam bagi para korban.
Ziarah di hari Lebaran ini tidak hanya menjadi momen untuk mendoakan korban, tetapi juga sebagai bentuk mengenang dan menghargai perjuangan para korban tsunami. Kejadian ini telah menjadi bagian sejarah Indonesia yang tak terlupakan, dan ziarah ini menjadi pengingat penting bagi generasi mendatang untuk selalu waspada terhadap bencana alam.
Makna Ziarah bagi Keluarga Korban
Bagi keluarga korban, ziarah ke Kuburan Massal Ulee Lheue memiliki makna yang sangat mendalam. Ini merupakan wujud penghormatan terakhir dan cara mereka untuk tetap terhubung dengan orang-orang terkasih yang telah tiada. Meskipun jenazah tidak ditemukan, ziarah ini memberikan rasa tenang dan damai bagi mereka yang ditinggalkan.
Bagi Ibrul dan Darma, ziarah ini menjadi cara mereka untuk tetap mengingat dan mendoakan orang tua dan saudara-saudaranya. Mereka berharap agar arwah para korban diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Ziarah ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persatuan dan kesolidaritan dalam menghadapi bencana.
Di tengah kesedihan, terlihat pula semangat persatuan dan kebersamaan di antara para peziarah. Mereka saling berbagi cerita dan memberikan dukungan moral satu sama lain. Momen ini menunjukkan bahwa tragedi tsunami Aceh 2004 telah menyatukan masyarakat dalam duka dan kesedihan, namun juga dalam kekuatan dan semangat untuk bangkit kembali.
Kuburan Massal Ulee Lheue bukan hanya sekadar tempat pemakaman, tetapi juga menjadi monumen peringatan akan tragedi tsunami Aceh 2004. Ziarah di hari Lebaran ini menjadi bukti nyata bahwa kenangan akan para korban akan selalu diingat dan dihormati oleh masyarakat Aceh.
Semoga para korban diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.