Lebaran 2025 di Aceh: FKUB Puji Kerukunan Umat Beragama yang Tinggi
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh Barat melaporkan kerukunan umat beragama di Aceh sangat baik selama Lebaran 2025, meski terdapat perbedaan penentuan 1 Syawal.

Perbedaan penentuan 1 Syawal 1446 Hijriah tidak menghalangi terciptanya suasana Lebaran 2025 yang damai dan rukun di Aceh. Hal ini disampaikan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Aceh Barat. Ketua FKUB, Tgk H Cut Usman, menyatakan bahwa kehidupan masyarakat Muslim di Aceh Barat, dan Aceh secara umum, berjalan dengan sangat baik, ditandai dengan meningkatnya toleransi antar umat beragama.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Jumat, 4 April 2025, kepada ANTARA. Tgk Cut Usman menjelaskan bahwa perbedaan perayaan Idul Fitri di Aceh sudah berlangsung lama, berasal dari perbedaan pemahaman keagamaan dalam menentukan awal Syawal melalui hisab dan rukyat. Meskipun demikian, perbedaan ini justru dilihat sebagai sebuah rahmat yang memungkinkan umat Islam menjalankan syariat sesuai pemahaman masing-masing ulama.
FKUB Aceh Barat menekankan pentingnya sikap saling menghargai dan menghormati di tengah perbedaan ini. Mereka mengajak seluruh umat Islam untuk menghindari perselisihan dan hujatan, serta senantiasa menjaga toleransi. Kerukunan, menurut mereka, adalah kekuatan utama bagi persatuan umat Islam.
Toleransi dan Kerukunan di Tengah Perbedaan
Tgk Cut Usman lebih lanjut menjelaskan bahwa perbedaan merupakan rahmat dari Allah SWT yang perlu dijaga dan dihormati. Perbedaan ini, bukannya menjadi pemicu perpecahan, justru harus memperkuat persatuan internal umat beragama. FKUB Aceh Barat juga mengimbau para ulama, dayah, dan cendekiawan Muslim untuk saling menghormati dan memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.
Mereka menekankan pentingnya memahami bahwa perbedaan pemahaman fikih di kalangan ulama merupakan hal yang wajar. Sebagai contoh, Tgk Cut Usman menunjuk pada perbedaan pandangan di antara Imam Maliki, Hambali, Syafi’i, dan Hanafi, yang tetap hidup rukun dan saling menghormati. Keteladanan para imam besar ini diharapkan dapat ditiru oleh ulama dan masyarakat Aceh untuk menjaga kerukunan dan persatuan.
Sikap toleransi dan saling menghormati ini sangat penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya di Aceh. Dengan menghargai perbedaan, kerukunan dan kedamaian dapat terus terjaga.
Imbauan untuk Menjaga Kerukunan
FKUB Aceh Barat secara khusus mengimbau kepada seluruh masyarakat Aceh untuk senantiasa menjaga kerukunan dan toleransi, terutama selama perayaan hari besar keagamaan. Perbedaan dalam penentuan hari raya bukan menjadi penghalang untuk tetap hidup rukun dan damai. Saling menghormati dan menghargai perbedaan adalah kunci utama untuk menjaga persatuan dan kesatuan.
Dengan adanya perbedaan pemahaman fikih, FKUB berharap masyarakat dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga. Perbedaan ini seharusnya menjadi penguat tali silaturahmi, bukan menjadi sumber perselisihan. Sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain akan menciptakan suasana yang kondusif dan harmonis.
FKUB Aceh Barat berharap contoh keteladanan dari para imam besar mazhab dapat menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk senantiasa menjaga kerukunan dan persatuan. Dengan demikian, Aceh dapat terus menjadi contoh bagi daerah lain dalam hal kerukunan umat beragama.
Dengan menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa akan semakin kuat. Hal ini penting untuk membangun Aceh yang lebih maju dan sejahtera.
Kesimpulannya, laporan FKUB Aceh Barat menunjukkan bahwa perbedaan penentuan 1 Syawal tidak mengganggu kerukunan umat beragama di Aceh selama Lebaran 2025. Toleransi dan saling menghormati menjadi kunci utama terciptanya suasana yang damai dan harmonis.