Jamaah Tarekat Qadiriyah di Mataram Shalat Id Lebih Awal
Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Mataram melaksanakan Shalat Idul Fitri 1444 H lebih awal dari penetapan pemerintah, Minggu (30/3), dengan tetap mengedepankan toleransi.

Mataram, 30 Maret 2024 (ANTARA) - Perbedaan waktu pelaksanaan Shalat Idul Fitri kembali terjadi. Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), melaksanakan Shalat Idul Fitri 1444 Hijriah pada Minggu, 30 Maret 2024, lebih awal dari penetapan pemerintah yang jatuh pada Senin, 31 Maret 2024. Shalat Id yang khidmat ini dihadiri lebih dari seribu jamaah dan dikawal ketat oleh aparat kepolisian.
Keputusan untuk melaksanakan Shalat Id lebih awal ini disampaikan langsung oleh Pimpinan Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Mataram, Tuan Guru Haji (TGH) Bayanul Arifin Akbar. Beliau menjelaskan bahwa jamaah telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama 30 hari penuh, dimulai pada Jumat, 28 Februari 2024. Dengan selesainya puasa 30 hari, maka Shalat Id dilaksanakan pada Minggu pagi sekitar pukul 07.15 WITA.
Shalat Id dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Masjid Raudhatul Khair Lingkungan Kebon Lauq, Kelurahan Pagutan, dan Lingkungan Presak Barat, Kelurahan Pagutan. Jamaah yang hadir berasal dari berbagai wilayah di Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, seperti Karang Bayan, Terong Tawah Presak, Terong Tawah Tengah, Bajur, Tempit, Petemon, Karang Bata, Babakan, dan Turida. Jumlah jamaah yang hadir mencapai lebih dari seribu orang.
Pelaksanaan Shalat Id dan Himbauan Toleransi
TGH Bayanul Arifin Akbar menjelaskan bahwa pelaksanaan Shalat Id jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Mataram tidak berbeda dengan pelaksanaan Shalat Id pada umumnya. Shalat Id terdiri dari dua rakaat, dilanjutkan dengan khutbah, dzikir, dan doa. Beliau berharap perbedaan waktu pelaksanaan Shalat Id ini dapat disikapi dengan sikap toleransi dan saling menghargai.
"Walaupun terjadi perbedaan waktu pelaksanaan, harapan saya, kita bisa jadikan ini rahmat. Setiap perbedaan itu kan rahmatan lil-alamin. Yang penting, bagaimana cara kita saling menghargai dan saling menghormati perbedaan itu, toleransilah cara kita menyikapi perbedaan," kata TGH Bayanul Arifin Akbar.
Beliau juga berpesan kepada jamaah untuk tetap menjaga sikap toleransi dan menghormati mereka yang masih menjalankan ibadah puasa dan akan melaksanakan Shalat Id pada hari Senin. "Yang sudah Lebaran, janganlah macam-macam di jalan, apalagi ngerokok karena masih ada saudara kita yang melaksanakan ibadah puasa yang insyaallah akan melaksanakan Shalat Id pada hari Senin (31/3) besok," pesannya.
Pengamanan selama pelaksanaan Shalat Id dilakukan oleh aparat Polsek Mataram. Kepala Polsek Mataram, AKP Mulyadi, menyatakan bahwa pelaksanaan Shalat Id berjalan dengan khidmat, aman, dan lancar tanpa adanya gangguan.
Konteks Perbedaan Penentuan 1 Syawal
Perbedaan penentuan 1 Syawal antara pemerintah dan beberapa kelompok masyarakat, seperti Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Mataram, merupakan fenomena yang sering terjadi di Indonesia. Perbedaan ini umumnya disebabkan oleh perbedaan metode hisab (perhitungan) dan ru'yat (pengamatan) hilal (bulan sabit). Pemerintah Indonesia menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang menggabungkan perhitungan astronomis dan pengamatan hilal. Sementara itu, beberapa kelompok masyarakat mungkin menggunakan metode yang berbeda.
Meskipun perbedaan ini terkadang menimbulkan polemik, penting untuk tetap menjaga toleransi dan saling menghormati perbedaan pendapat. Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan merupakan kunci untuk menjaga kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Perbedaan ini juga menjadi pengingat pentingnya dialog dan komunikasi antar kelompok masyarakat untuk memahami perbedaan metode dan pandangan dalam menentukan 1 Syawal. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta pemahaman yang lebih baik dan mengurangi potensi konflik.
Kesimpulan
Pelaksanaan Shalat Idul Fitri oleh Jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Mataram lebih awal menjadi bukti nyata keberagaman dalam praktik keagamaan di Indonesia. Keberhasilan pelaksanaan Shalat Id yang aman dan lancar, serta seruan untuk tetap menjaga toleransi, menjadi contoh yang baik bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menghadapi perbedaan.