Pemetaan Proyek Hilirisasi Mineral untuk Pendanaan BPI Danantara
Kementerian ESDM sedang memetakan proyek hilirisasi mineral nikel, bauksit, dan tembaga untuk mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dengan memprioritaskan proyek bernilai tambah tinggi.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengumumkan pemetaan proyek hilirisasi mineral, khususnya nikel, bauksit, dan tembaga, sebagai langkah awal untuk mendapatkan kucuran dana dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi proyek-proyek dengan nilai tambah terbesar yang layak mendapatkan prioritas pendanaan. Pengumuman ini disampaikan setelah menghadiri Rapat Kerja dengan Komite II DPD RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Senin (24/2).
Kementerian ESDM akan berkolaborasi dengan Kepala Danantara, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, serta mengacu pada peta jalan hilirisasi yang telah disusun sebelumnya. Proses ini akan memilah proyek-proyek prioritas untuk dieksekusi dalam waktu dekat. Sumber pendanaan akan berasal dari Danantara, atau kemungkinan kolaborasi dengan investor lain, sesuai dengan kebutuhan dan potensi masing-masing proyek.
Peningkatan kebutuhan domestik akan nikel dan bauksit menjadi pertimbangan utama dalam menentukan prioritas pendanaan. Pemerintah akan memperhitungkan nilai tambah tertinggi dari setiap komoditas, dengan mempertimbangkan kecepatan pengembalian modal. Proyek dengan nilai tambah tinggi dan waktu pengembalian modal yang cepat akan diprioritaskan untuk memaksimalkan investasi.
Prioritas Pendanaan dan Kriteria Proyek
Yuliot Tanjung menekankan pentingnya memilih proyek yang memberikan nilai tambah tinggi agar investasi dapat kembali dengan cepat. "Kalau kami justru memprioritaskan yang tidak memberi nilai tambah tinggi, berarti nilai investasinya akan lama baliknya," tegasnya. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan efisiensi dan efektivitas penggunaan dana Danantara.
Saat ini, kriteria proyek hilirisasi yang akan mendapatkan pendanaan dari Danantara masih dalam tahap penyusunan oleh pihak Danantara. Namun, Kementerian ESDM menyatakan kesiapannya untuk membantu proses penyusunan kriteria tersebut, guna memastikan transparansi dan keberhasilan program hilirisasi.
Meskipun berbeda instansi, kerjasama antar kementerian sangat penting untuk memastikan keselarasan dan efektivitas program. "Ini kan baru pendahuluan, baru peluncuran, jadi nanti kami dari Kementerian ESDM siap untuk mendukung itu," ujar Yuliot.
Dana Danantara dan Proyek Strategis
Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutan peluncuran Danantara, menyampaikan bahwa dana kekayaan negara atau sovereign wealth fund ini akan mengelola aset senilai lebih dari 900 miliar dolar AS. Dana awal yang diproyeksikan mencapai 20 miliar dolar AS akan diprioritaskan untuk 20 proyek strategis.
Proyek-proyek strategis tersebut mencakup berbagai sektor, termasuk hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga, pembangunan pusat data, pengembangan kecerdasan buatan, pembangunan kilang minyak dan pabrik petrokimia, peningkatan produksi pangan dan protein, pengembangan akuakultur, serta pengembangan energi terbarukan. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Presiden berharap Danantara dapat memfasilitasi kemitraan strategis antara BUMN, swasta, dan UMKM dalam berbagai proyek, termasuk infrastruktur, energi terbarukan, dan pendidikan. Dengan demikian, Danantara diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Secara keseluruhan, pemetaan proyek hilirisasi mineral oleh Kementerian ESDM merupakan langkah strategis untuk memastikan efektivitas penggunaan dana Danantara. Dengan memprioritaskan proyek-proyek bernilai tambah tinggi, pemerintah berharap dapat memaksimalkan dampak investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.