Piyu Padi Audiensi dengan Menkumham, Usul Revisi UU Hak Cipta untuk Kesejahteraan Pencipta Lagu
Gitaris Padi Reborn, Piyu, bersama Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI) mengusulkan revisi UU Hak Cipta kepada Menkumham Supratman Andi Agtas untuk melindungi hak dan kesejahteraan pencipta lagu.

Jakarta, 27 Februari 2024 - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) RI, Supratman Andi Agtas, menerima audiensi dari musisi ternama, Piyu Padi Reborn, dan para pencipta lagu lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Komposer Seluruh Indonesia (AKSI). Audiensi tersebut membahas usulan revisi Undang-Undang (UU) Hak Cipta yang bertujuan untuk meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para pencipta lagu di Indonesia. Pertemuan penting ini berlangsung di Jakarta pada Kamis lalu, menandai langkah signifikan dalam upaya memperbaiki sistem perlindungan hak cipta di industri musik Tanah Air.
Dalam konferensi pers usai audiensi, Menkumham Supratman Andi Agtas menyatakan, "Masukan yang diberikan sangat baik, ada yang terkait soal bagaimana lembaga manajemen kolektif, kemudian usulan terkait dengan sistem direct license. Semua ini kami tampung." Beliau juga menjelaskan bahwa draf revisi UU Hak Cipta saat ini masih dalam proses di parlemen dan berharap agar proses tersebut dapat segera diselesaikan sehingga pemerintah dapat mengambil sikap yang tepat dan efektif.
Meskipun pemerintah masih menunggu penyelesaian Rancangan Undang-Undang (RUU) Hak Cipta, Menkumham menegaskan komitmen tinggi pemerintah untuk memastikan UU Hak Cipta memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan di industri musik. Harapannya, revisi UU ini dapat menciptakan ekosistem musik yang lebih adil dan berkelanjutan, menjamin hak kekayaan intelektual bagi pencipta lagu maupun pihak-pihak lain yang berhak.
Usulan Revisi UU Hak Cipta: Perlindungan dan Kesejahteraan Pencipta Lagu
Piyu Padi Reborn, mewakili AKSI, menyampaikan bahwa permasalahan perlindungan hak cipta bagi pencipta lagu telah berlangsung lama sejak UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta disahkan. "Ini sebenarnya sudah memberikan sebuah perlindungan yang jelas, tapi di beberapa pasal banyak yang salah menginterpretasikannya," ungkap Piyu. Salah interpretasi pasal-pasal tersebut berdampak pada banyaknya pencipta lagu yang tidak mendapatkan haknya, terutama dalam pertunjukan musik.
Audiensi ini menjadi wadah bagi para pencipta lagu untuk menyampaikan keluhan mereka kepada Menkumham. Selama ini, banyak pencipta lagu yang belum sejahtera karena tidak mendapatkan haknya secara penuh dari pertunjukan musik atau konser. Piyu berharap revisi UU Hak Cipta dapat membawa perubahan signifikan sehingga para pencipta lagu dapat hidup lebih sejahtera dan mendapatkan haknya secara adil.
"Harapannya para pencipta lagu ini kembali sejahtera semua dan mendapatkan haknya. Masyarakat juga tidak akan lagi mendengar kisruh, carut-marut segala macam supaya semua damai serta punya potensi dan porsi yang sama dalam industri musik," tambah Piyu. Hal senada disampaikan oleh Anji (Drive) dan Badai (Kerispatih) yang turut hadir dalam audiensi tersebut.
Menkumham Tampung Usulan Sistem Direct License dan Manajemen Kolektif
Menkumham Supratman Andi Agtas menekankan pentingnya pengaturan yang jelas terkait kekayaan intelektual, termasuk manfaat dan nilai ekonomisnya. Perlindungan hukum yang kuat diperlukan untuk semua pihak yang terlibat dalam ekosistem musik, mulai dari pencipta lagu, penyanyi, penyelenggara acara, hingga masyarakat sebagai pengguna. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan semua pemangku kepentingan mendapatkan kepastian jaminan hak atas ciptaannya, terutama terkait kekayaan intelektual.
Usulan revisi UU Hak Cipta yang disampaikan AKSI mencakup beberapa poin penting, antara lain perbaikan sistem manajemen kolektif dan penerapan sistem direct license. Sistem direct license memungkinkan pencipta lagu untuk langsung bernegosiasi dan mendapatkan lisensi dari pengguna karya ciptaan mereka, sehingga transparansi dan keadilan dalam pembagian keuntungan dapat lebih terjamin.
Dengan adanya revisi UU Hak Cipta yang mengakomodasi usulan-usulan tersebut, diharapkan dapat tercipta ekosistem musik Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Hal ini akan memberikan kepastian hukum dan mendorong kreativitas para pencipta lagu di Indonesia.
Selain Piyu Padi, audiensi tersebut juga dihadiri oleh Anji (Drive), Badai (Kerispatih), dan beberapa pencipta lagu lainnya. Semoga revisi UU Hak Cipta ini dapat segera diselesaikan dan memberikan dampak positif bagi seluruh pencipta lagu di Indonesia.