Ramai Ziarah Kubur di Samarinda Jelang Ramadhan: Tradisi dan Berkah Ekonomi
Jelang Ramadhan 1446 H, warga Samarinda, Kalimantan Timur, ramai berziarah kubur untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal, tradisi ini juga membawa berkah ekonomi bagi pedagang bunga.

Warga Samarinda, Kalimantan Timur, khususnya umat Islam, memenuhi Tempat Pemakaman Umum (TPU) beberapa waktu sebelum bulan suci Ramadhan 1446 H. Mereka berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga untuk mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Tradisi tahunan ini menjadi pemandangan umum di berbagai TPU di Samarinda, salah satunya TPU Muslimin Abul Hasan.
Ziarah kubur menjelang Ramadhan merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama, seperti yang diungkapkan Siti Maysaroh, seorang warga Samarinda. "Biasa memang sebelum masuk bulan puasa, kami ke sini, mendoakan orang tua, karena kalau masuk Ramadhan tinggal fokus ibadah saja," ujarnya saat ditemui di TPU Abul Hasan.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar tradisi, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan dan doa bagi keluarga yang telah tiada. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak mereka, membersihkan makam, menyiramnya, menabur bunga, dan membaca Surah Yasin, seperti yang dilakukan oleh Siti Maysaroh dan keluarganya.
Tradisi Ziarah Kubur dan Dampak Ekonomi
Tradisi ziarah kubur ini ternyata juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah para pedagang bunga di sekitar TPU. Rahimah, seorang pedagang bunga di TPU Abul Hasan, misalnya, merasakan peningkatan penjualan yang signifikan.
"Ramainya sudah dari lima hari yang lalu, terutama hari Ahad kemarin. Alhamdulillah, dagangan habis terus," kata Rahimah. Ia memperkirakan puncak keramaian akan terjadi pada hari Jumat dan menjelang malam Ramadhan. Rahimah, yang telah berjualan bunga di TPU tersebut sejak tahun 1980-an, mewarisi usaha dari orang tuanya.
Ia menjual berbagai jenis bunga tabur dan kembang dengan harga bervariasi, mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000 per bungkus. "Kalau lagi ramai-ramai ini, omzet bisa sampai Rp500.000 per hari," ujarnya. Ia menambahkan bahwa peningkatan penjualan juga terjadi setelah Hari Raya Idul Fitri.
Siti Rahmah, warga yang tinggal di sekitar pemakaman, membenarkan bahwa kegiatan ziarah kubur memang ramai terjadi sepekan sebelum Ramadhan, serta pada momen Lebaran Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
Makna di Balik Tradisi Ziarah Kubur
Ziarah kubur menjelang Ramadhan memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Kegiatan ini tidak hanya sekadar mengunjungi makam, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan, doa, dan refleksi diri. Dengan mengunjungi makam keluarga, diharapkan dapat mempererat silaturahmi dengan keluarga yang telah meninggal dan mengingatkan akan kematian.
Selain itu, ziarah kubur juga dapat menjadi momentum untuk berintropeksi diri dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadhan dengan hati yang lebih tenang dan khusyuk. Dengan mengingat kematian, diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak. Dengan membawa anak-anak berziarah, diharapkan dapat menumbuhkan rasa hormat dan kasih sayang kepada keluarga yang telah meninggal, serta memahami arti penting kehidupan dan kematian.
Kesimpulan
Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan di Samarinda merupakan perpaduan antara kegiatan spiritual dan aktivitas ekonomi. Tradisi ini tidak hanya mempererat hubungan keluarga dan meningkatkan keimanan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, khususnya para pedagang bunga. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi dapat menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat dan memberikan manfaat yang berkelanjutan.