Rusia Umumkan Pertemuan Kedua dengan AS di Istanbul untuk Normalisasi Hubungan
Rusia mengumumkan pertemuan kedua dengan AS di Istanbul untuk membahas normalisasi hubungan, fokus pada konflik Ukraina, Inisiatif Gandum Laut Hitam, dan masalah operasional kedutaan.

Rusia mengumumkan rencana pertemuan kedua dengan Amerika Serikat di Istanbul, Turki, untuk membahas normalisasi hubungan bilateral. Pengumuman ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dalam jumpa pers di Moskow pada Selasa, 1 April 2024. Pertemuan tersebut akan melanjutkan pembahasan yang telah dimulai sebelumnya, berfokus pada penyelesaian konflik Ukraina, pemulihan Inisiatif Gandum Laut Hitam, dan mengatasi hambatan operasional di kedutaan besar kedua negara.
Presiden Vladimir Putin telah menginstruksikan Lavrov dan Menteri Pertahanan Andrey Belousov untuk memberikan pengarahan mengenai perkembangan pembahasan dengan AS terkait situasi di Ukraina. Lavrov menekankan tiga isu utama yang menjadi fokus pembahasan: mencari solusi damai untuk konflik di Ukraina, memulihkan Inisiatif Gandum Laut Hitam yang sempat terhenti, dan menyelesaikan masalah operasional yang menghambat fungsi Kedutaan Besar Rusia di Washington dan Kedutaan Besar AS di Moskow.
Pertemuan pertama antara delegasi Rusia dan AS telah berlangsung di Istanbul. Lavrov menjelaskan bahwa komunikasi terus berlanjut melalui jalur diplomatik lain, seperti panggilan telepon dan konferensi video, menunjukkan komitmen kedua negara untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Ia juga menyinggung masalah operasional kedutaan yang telah berlangsung sejak pemerintahan Presiden Barack Obama, menunjukkan bahwa permasalahan ini telah berlangsung lama dan memerlukan penyelesaian segera.
Konflik Ukraina dan Moratorium Serangan Infrastruktur Energi
Menteri Pertahanan Belousov telah menyampaikan laporan kepada Dewan Keamanan Rusia mengenai pelanggaran moratorium serangan terhadap infrastruktur energi. Moratorium tersebut disepakati setelah pembicaraan telepon antara Presiden Putin dan Presiden AS Donald Trump pada 18 Maret. Lavrov menyatakan bahwa Ukraina telah melanggar perjanjian tersebut dengan melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia, sementara Rusia sendiri tetap mematuhi kesepakatan yang telah disetujui.
Meskipun demikian, Lavrov menegaskan bahwa Rusia telah sepenuhnya mematuhi perjanjian moratorium. Ia menyebutkan bahwa Rusia telah mengumpulkan bukti pelanggaran Ukraina dan telah membagikannya kepada pihak-pihak terkait, termasuk Penasihat Keamanan Nasional AS, Menteri Luar Negeri AS, PBB, dan OSCE. Tujuannya adalah untuk menunjukkan secara faktual posisi pemerintah Ukraina yang sebenarnya dalam konflik ini.
Lavrov juga menjelaskan bahwa Rusia telah menghancurkan tujuh pesawat nirawak Ukraina yang menuju target mereka pada saat moratorium diumumkan. Sejak saat itu, Rusia konsisten mematuhi perjanjian tersebut. Bukti-bukti tersebut disiapkan untuk menunjukkan komitmen Rusia terhadap perjanjian dan pelanggaran yang dilakukan oleh Ukraina.
Pemulihan Inisiatif Gandum Laut Hitam
Terkait Inisiatif Gandum Laut Hitam, Lavrov menyampaikan bahwa AS sedang meninjau usulan Rusia dan akan segera memberikan tanggapan. Inisiatif ini memungkinkan ekspor gandum Ukraina melalui pelabuhan Laut Hitam dan bertujuan untuk menghilangkan hambatan ekspor produk pertanian dan pupuk Rusia. Namun, bagian dari kesepakatan tersebut tidak pernah dijalankan, yang menyebabkan Rusia menolak perpanjangan inisiatif pada Juli 2023.
Pertemuan di Istanbul diharapkan dapat menghasilkan kemajuan signifikan dalam menyelesaikan isu-isu krusial ini. Baik Rusia maupun AS menunjukkan keseriusan dalam upaya normalisasi hubungan, meskipun tantangan yang ada masih cukup kompleks. Keberhasilan pertemuan ini akan berdampak besar pada stabilitas regional dan global.
Kesimpulannya, pertemuan kedua antara Rusia dan AS di Istanbul menandai upaya serius kedua negara untuk menormalkan hubungan yang tegang. Fokus pada konflik Ukraina, Inisiatif Gandum Laut Hitam, dan masalah operasional kedutaan menunjukkan kompleksitas tantangan yang dihadapi, namun juga tekad kedua negara untuk mencari solusi.