Sepi Pengunjung Usai Lebaran, UMKM Badui Terdampak
Menurunnya jumlah wisatawan di Badui usai Lebaran berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat adat, khususnya para pelaku UMKM.

Lebak, 2 April 2025 - Permukiman masyarakat Badui di Kabupaten Lebak, Banten, terlihat lengang dari wisatawan usai perayaan Lebaran 1446 Hijriah. Penurunan jumlah pengunjung ini terjadi setelah periode liburan Natal dan Tahun Baru 2024/2025 yang ramai. Berbagai faktor menyebabkan sepinya kunjungan, berdampak langsung pada perekonomian masyarakat setempat, khususnya para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Medi, Sekretaris Desa Kanekes, mengungkapkan bahwa selama dua hari pasca-Lebaran, jumlah wisatawan yang mengunjungi Badui masih sangat sedikit. Kondisi ini berbeda jauh dengan periode Nataru lalu, yang bahkan menimbulkan kemacetan hingga dua kilometer. Ia menambahkan, "Sudah dua hari ini masih sepi pengunjung yang datang ke sini."
Dampaknya terasa nyata bagi ratusan pelaku UMKM di wilayah tersebut. Para perajin kain tenun, penjual makanan dan minuman khas Badui, serta produsen kerajinan suvenir merasakan penurunan pendapatan yang signifikan. Harapan akan peningkatan kunjungan wisatawan di masa mendatang menjadi kunci bagi pemulihan ekonomi masyarakat adat Badui.
Dampak Menurunnya Kunjungan Wisatawan
Penurunan drastis jumlah wisatawan di Badui pasca-Lebaran disebabkan oleh beberapa faktor. Cuaca buruk berupa hujan lebat, angin kencang, dan petir turut berkontribusi. Selain itu, masih berlakunya bulan Kawalu, atau bulan larangan adat, juga membatasi aktivitas wisata.
Jali, seorang pelaku UMKM yang memproduksi kerajinan khas Badui, merasakan dampak langsung dari sepinya pengunjung. Ia mengungkapkan bahwa omzet penjualannya turun hingga 95 persen. Meskipun demikian, ia dan pedagang lainnya tetap bertahan di tempat usaha mereka, berharap kedatangan wisatawan.
Hal senada disampaikan Munah, pedagang di Kadu Ketug, Desa Kanekes. Ia mengakui penurunan jumlah wisatawan sangat signifikan. "Meski wisatawan sepi, kami tetap berjualan," ujarnya. Ia dan pedagang lain tetap menawarkan berbagai produk kerajinan Badui, seperti kain tenun, pakaian batik, kaos, tas koja, suvenir, golok, minuman jahe, gula aren, lomat, selendang, dan madu dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp350.000.
Sektor UMKM Terpukul
Sepinya pengunjung wisata di Badui menimbulkan kekhawatiran bagi para pelaku UMKM. Mereka yang menggantungkan hidup dari sektor pariwisata merasakan dampak langsung dari penurunan pendapatan. Para perajin dan pedagang berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan untuk meningkatkan kembali jumlah kunjungan wisatawan ke Badui.
Berbagai upaya promosi dan peningkatan infrastruktur wisata diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk kembali mengunjungi Badui. Keunikan budaya dan kerajinan masyarakat Badui perlu terus dijaga dan dipromosikan agar tetap menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Selain itu, penting juga untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kunjungan wisatawan, seperti cuaca dan adat istiadat setempat. Dengan pengelolaan yang baik, diharapkan sektor pariwisata di Badui dapat kembali bergairah dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat adat.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya diversifikasi ekonomi di daerah wisata. Meskipun pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian, penting bagi masyarakat untuk memiliki sumber pendapatan alternatif agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi jumlah wisatawan.