Sulawesi Tenggara Sukses Terapkan Budi Daya Maggot untuk Atasi Kemiskinan Ekstrem
Gubernur Sulawesi Tenggara meresmikan budidaya maggot di Konawe sebagai solusi inovatif untuk mengurangi kemiskinan ekstrem dan memberdayakan ekonomi masyarakat.

Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka, baru-baru ini meresmikan budidaya maggot di Desa Lahotutu, Kecamatan Wonggeduku Barat, Kabupaten Konawe. Inisiatif ini merupakan bagian dari program aksi Quick Win 100 Hari gubernur untuk mengatasi kemiskinan ekstrem di daerah tersebut. Peresmian dilakukan di rumah Pak Aswan, warga setempat yang telah berhasil membudidayakan maggot dan menghasilkan dampak ekonomi positif bagi keluarganya.
Program ini diluncurkan sebagai solusi inovatif untuk mengurangi angka kemiskinan. Budidaya maggot dipilih karena dianggap efektif dan dapat dijalankan di lahan sempit, sangat cocok bagi masyarakat miskin ekstrem yang umumnya tidak memiliki lahan luas. Selain itu, budidaya maggot juga ramah lingkungan karena memanfaatkan sampah organik.
Peresmian tersebut tidak hanya menandai dimulainya program budidaya maggot, tetapi juga mencakup pemberian bantuan modal usaha sebesar Rp2 juta kepada 50 ibu rumah tangga di wilayah tersebut. Gubernur berharap bantuan ini dapat dimaksimalkan dan bergulir untuk meningkatkan pendapatan keluarga serta diperluas ke daerah lain di masa mendatang.
Budidaya Maggot: Solusi Inovatif Atasi Kemiskinan Ekstrem
Gubernur Andi Sumangerukka mengungkapkan kekagumannya terhadap kreativitas Pak Aswan yang mampu memanfaatkan sampah organik menjadi produk bernilai ekonomi, seperti kursi dan meja. Hal ini menunjukkan potensi besar budidaya maggot dalam memberdayakan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan pentingnya kreativitas dan inovasi dalam mengatasi kemiskinan. Ia berharap program ini dapat menginspirasi masyarakat lain untuk mengembangkan usaha serupa dan meningkatkan taraf hidup mereka.
"Pak Aswan ini selain memang dia punya hobi dia juga orang yang kreatif, ternyata sampah itu bisa digunakan sebagai apa saja, salah satunya menjadi kursi dan meja, ini artinya kreatifitas, jadi masyarakat tidak usah khawatir, kalau kita kreatif apa saja itu bisa jadi," ujar Gubernur Andi Sumangerukka.
Dukungan Pemerintah dan Tantangan ke Depan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sultra, Andi Makkawaru, menjelaskan bahwa program budidaya maggot telah diujicobakan sejak tahun 2024 sebagai bagian dari upaya mengatasi kemiskinan ekstrem. Maggot dipilih karena membutuhkan lahan yang tidak luas, sesuai dengan keterbatasan lahan yang dimiliki masyarakat miskin ekstrem.
Andi Makkawaru menambahkan bahwa program ini telah diterapkan di empat wilayah, yaitu Konawe Selatan, Konawe, Kota Kendari, dan Muna. Di lokasi Pak Aswan, tingkat keberhasilan program ini mencapai hampir 80 persen. Kendala utama yang dihadapi adalah kurangnya pemahaman sebagian ibu rumah tangga tentang budidaya maggot.
Meskipun demikian, DLH optimis program ini akan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Mereka berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat agar dapat menjalankan budidaya maggot secara efektif dan berkelanjutan.
Program ini diharapkan dapat memberikan solusi jangka panjang dalam mengatasi kemiskinan ekstrem di Sulawesi Tenggara. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal dan kreativitas masyarakat, diharapkan akan tercipta kemandirian ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan program budidaya maggot di Konawe ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dan kreativitas dapat menjadi kunci dalam mengatasi permasalahan sosial ekonomi. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan program ini dapat diperluas dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.