THR Pekerja Segera Terbit Pekan Depan, Kemnaker Godok Formula untuk Ojol
Kementerian Ketenagakerjaan memastikan surat edaran THR untuk pekerja akan terbit pekan depan, dengan formula khusus yang masih digodok untuk pengemudi ojol agar lebih adil.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memastikan surat edaran (SE) terkait tunjangan hari raya (THR) bagi pekerja akan terbit pada pekan depan. Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI JSK) Kemnaker, Indah Anggoro Putri, seusai menghadiri Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pertumbuhan Ekonomi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (27/2).
Indah menyatakan, "Iya, pasti SE (surat edaran) THR sebelum lebaran dong, Insyaallah minggu depan (terbit)." SE tersebut akan menjadi pedoman bagi pelaku usaha dalam memberikan THR kepada pekerja swasta dan pengemudi transportasi daring.
Namun, terdapat perbedaan dalam penerapan SE THR ini. SE untuk pekerja swasta akan dipisahkan dari SE untuk pengemudi ojek online (ojol). Hal ini dikarenakan skema pembagian THR bagi pengemudi ojol masih dalam tahap pembahasan intensif di Kemnaker.
Pembahasan Formula THR untuk Pengemudi Ojol
Kemnaker tengah berupaya merumuskan formula yang tepat untuk memastikan pembagian THR bagi pengemudi ojol lebih adil. Permasalahan utamanya terletak pada perbedaan tingkat aktivitas para pengemudi. Ada pengemudi yang aktif setiap hari, dan ada pula yang hanya bekerja secara tidak tetap.
Indah menjelaskan, "Formulanya masih kita godok. Karena kan ojol (ojek online), kurol (kurir online), taksol (taksi online) ada yang aktif dan tidak aktif. Jadi kan enggak fair kalau semua disamakan. Ini kita mesti godok formulanya yang kira-kira pas."
Selain merumuskan formula yang adil, Kemnaker juga masih mempertimbangkan istilah yang tepat untuk tunjangan tersebut. Terdapat perbedaan pandangan antara pekerja dan aplikator. Aplikator cenderung mengusulkan istilah "Bantuan Hari Raya" (BHR), sementara para pekerja lebih menginginkan istilah THR.
Pemerintah juga sedang mempertimbangkan kriteria pengemudi daring yang berhak menerima THR. Perbedaan antara pengemudi yang menjadikan pekerjaan ini sebagai penghasilan utama dan yang hanya sebagai pekerjaan sampingan menjadi pertimbangan utama.
Pernyataan Pihak inDrive
Terpisah, perwakilan dari inDrive menyatakan bahwa mereka masih berdiskusi dengan pemerintah Indonesia terkait skema THR yang tepat, adil, dan sesuai regulasi ketenagakerjaan. Manajer Komunikasi inDrive Indonesia, Wahyu Ramadhan, menjelaskan bahwa tahun lalu mereka memberikan insentif khusus Ramadan, namun bukan THR.
Nominal insentif tersebut disesuaikan dengan kinerja masing-masing pengemudi. Wahyu menambahkan, "Kemarin kami sempat melakukan audiensi dengan Kementerian Ketenagakerjaan yang terkait dengan isu regulasi ketenagakerjaan antara perusahaan aplikasi ride-hailing dan juga teman-teman driver. Nah ini memang yang menjadi alasan kenapa kami masih mempertimbangkan untuk membuat program yang tepat."
Pemerintah berkomitmen untuk memberikan sesuatu bagi para pekerja platform digital sebagai bagian dari upaya mewujudkan kebijakan pelindungan bagi mereka. Penerbitan SE THR pekan depan diharapkan dapat memberikan kepastian dan keadilan bagi seluruh pekerja, termasuk pengemudi transportasi daring.
Kesimpulannya, Kemnaker tengah berupaya keras untuk memastikan semua pekerja menerima THR dengan adil dan sesuai regulasi. Pembahasan yang matang untuk pengemudi ojol diharapkan menghasilkan formula yang tepat sebelum lebaran tiba.