Tragedi Gempa Myanmar: Satu WN China Tewas, Bantuan Internasional Mengalir
Gempa bumi dahsyat di Myanmar mengakibatkan satu warga negara China tewas dan 15 lainnya luka-luka; bantuan internasional, termasuk dari Indonesia dan ASEAN, segera disalurkan.

Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Kota Sagaing, Myanmar, pada Jumat (28/3) pukul 18.49 waktu setempat. Bencana alam ini menyebabkan jatuhnya korban jiwa, termasuk satu warga negara China yang tewas dan 15 lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini telah memicu respon cepat dari pemerintah China dan negara-negara lain di dunia, termasuk Indonesia.
Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi korban jiwa warga negaranya melalui Juru Bicara Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Senin (31/3). Kedutaan Besar dan konsulat jenderal China di Myanmar memberikan bantuan kepada keluarga korban. Presiden Xi Jinping juga menyampaikan belasungkawa kepada pemimpin Myanmar, Min Aung Hlaing.
Selain korban jiwa dari China, gempa bumi ini telah mengakibatkan lebih dari 1.700 orang meninggal dunia di Myanmar, 3.400 luka-luka, dan 300 lainnya masih dinyatakan hilang hingga Minggu (30/3) menurut otoritas Myanmar. Gempa juga dirasakan di negara-negara tetangga seperti Thailand, Bangladesh, India, Laos, dan sebagian wilayah barat daya China.
Respons Cepat Pemerintah China
Pemerintah China segera meluncurkan operasi penyelamatan dan perlindungan konsuler. Tim penyelamat dan medis dari Provinsi Yunnan tiba di Myanmar dalam waktu 18 jam setelah gempa terjadi, menjadi tim penyelamat internasional pertama yang sampai di lokasi bencana. Mereka berhasil menyelamatkan beberapa korban selamat dari reruntuhan bangunan.
Tidak hanya tim dari Yunnan, Tim Pencarian dan Penyelamatan China (CSAR), Tim Pencarian dan Penyelamatan Internasional China (CISAR), tim penyelamat dari SAR Hong Kong, dan Tim Penyelamatan Darurat Internasional dari Palang Merah China juga diterjunkan ke Myanmar pada Minggu malam (30/3). Lebih lanjut, sekitar 400 pakar, penyelamat, dan pekerja medis China turut serta dalam operasi penyelamatan.
Sebagai bentuk bantuan kemanusiaan, China telah mengalokasikan dana sebesar 100 juta yuan dan mengirimkan berbagai perlengkapan, termasuk tenda, perlengkapan pertolongan pertama, makanan, dan air minum. Bantuan tersebut telah mulai didistribusikan ke lokasi yang terdampak gempa.
Bantuan Internasional Mengalir
Bantuan internasional tidak hanya datang dari China. Negara-negara lain, termasuk Indonesia, juga turut memberikan bantuan kemanusiaan kepada Myanmar. Indonesia mengirimkan bantuan pada Minggu (30/3) berupa tenaga SAR, tenaga medis darurat, dan bantuan logistik senilai satu juta dolar AS (sekitar Rp16,5 miliar).
Menteri luar negeri negara-negara anggota ASEAN juga menekankan pentingnya penyaluran bantuan kemanusiaan yang cepat dan tanpa diskriminasi kepada korban gempa di Myanmar dan Thailand. ASEAN juga telah mengerahkan Tim Tanggap dan Asesmen Kedaruratan ASEAN (ERAT) dan memanfaatkan Sistem Logistik Darurat Bencana ASEAN (DELSA).
Di Thailand, dampak gempa juga signifikan, dengan laporan 17 orang meninggal dunia, 32 luka-luka, dan 83 orang hilang. Bantuan dari berbagai negara terus berdatangan untuk membantu para korban di kedua negara yang terdampak gempa bumi tersebut.
Tim penyelamat China berkomitmen untuk memanfaatkan waktu 72 jam emas untuk melakukan pencarian dan penyelamatan, perawatan medis bagi korban luka, dan pendistribusian bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dukungan internasional diharapkan dapat membantu Myanmar untuk pulih dari bencana dan membangun kembali kehidupan masyarakatnya.