WHO Identifikasi 12 Kebutuhan Kritis Korban Gempa Myanmar: Bantuan Darurat Dikirim
Gempa bumi dahsyat di Myanmar menuntut bantuan segera; WHO telah mengidentifikasi 12 kebutuhan kritis korban, termasuk medis, logistik, dan dukungan psikososial, serta telah mengirimkan bantuan senilai jutaan dolar.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Myanmar pada akhir Maret 2023 telah menimbulkan kerusakan besar dan menelan banyak korban jiwa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan cepat merespon bencana ini dengan mengidentifikasi 12 kebutuhan kritis yang harus segera dipenuhi bagi para korban. Bantuan kemanusiaan internasional pun segera digerakkan untuk membantu pemulihan di wilayah yang terdampak.
Menurut mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, daftar 12 kebutuhan kritis tersebut menjadi panduan penting dalam penyaluran bantuan. Daftar ini mencakup berbagai aspek, mulai dari penanganan medis darurat hingga dukungan kesehatan mental bagi para penyintas. Pernyataan ini disampaikannya dalam keterangan pers di Jakarta pada Kamis.
Kecepatan respon WHO sangat penting, mengingat dampak gempa yang meluas dan kebutuhan mendesak para korban. Bantuan yang terkoordinasi dan tepat sasaran menjadi kunci keberhasilan upaya pemulihan pasca bencana ini. Peran WHO dalam hal ini tak terbantahkan, memberikan arahan dan koordinasi bantuan internasional.
Kebutuhan Kritis Korban Gempa Myanmar Menurut WHO
WHO telah mengidentifikasi 12 kebutuhan kritis yang dibutuhkan Myanmar pasca gempa. Kebutuhan tersebut meliputi manajemen penanganan korban massal, perawatan trauma dan pembedahan, serta peralatan transfusi darah. Perlengkapan medis lainnya yang sangat dibutuhkan antara lain kantung jenazah, peralatan anestesi, dan obat-obatan esensial. Untuk tempat tinggal sementara, tenda darurat sangat dibutuhkan untuk para pengungsi.
Selain aspek medis, WHO juga menekankan pentingnya alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan yang bekerja di lokasi bencana. Analisis terhadap kerusakan fasilitas kesehatan juga diperlukan untuk merencanakan perbaikan dan pemulihan layanan kesehatan. Akses ke air bersih dan sanitasi yang memadai juga krusial untuk mencegah penyebaran penyakit.
Surveilans dan respons cepat terhadap wabah penyakit menular juga menjadi prioritas utama. WHO menyadari potensi peningkatan risiko penyakit menular di tengah kondisi darurat pasca bencana. Oleh karena itu, sistem pengawasan dan respon yang efektif sangat penting untuk mencegah penyebaran wabah.
Tidak hanya kebutuhan fisik, dukungan kesehatan mental dan psikososial juga menjadi bagian penting dari bantuan. Banyak korban mengalami trauma pasca bencana yang membutuhkan penanganan khusus untuk pemulihan mental mereka. WHO juga menekankan pentingnya aspek ini dalam upaya pemulihan jangka panjang.
Bantuan WHO untuk Myanmar
Dalam 24 jam pertama pasca gempa, WHO Asia Tenggara telah mengirimkan hampir 3 ton perlengkapan kesehatan ke daerah yang terdampak utama, yaitu Kota Naypyidaw dan Mandalay. Bantuan tersebut mencakup alat kesehatan, trauma kits, dan tenda kesehatan. Kecepatan pengiriman bantuan ini menunjukkan kesigapan WHO dalam merespon bencana.
WHO juga telah memobilisasi dukungan dana sebesar 5 juta dolar Amerika Serikat dari total kebutuhan bantuan sekitar 8 juta dolar AS hingga 30 hari ke depan. Upaya penggalangan dana terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat besar pasca gempa ini. Transparansi dalam penggunaan dana bantuan juga menjadi hal penting yang diperhatikan.
Sebagai bagian dari upaya transparansi, WHO secara rutin memublikasikan situation report. Laporan ini memberikan informasi terkini mengenai situasi pasca gempa di Myanmar, sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangannya dari waktu ke waktu. Sejauh ini, sudah tiga kali situation report diterbitkan, yaitu pada tanggal 29 Maret, 30 Maret, dan 1 April.
Korban Gempa dan Peran Indonesia
Berdasarkan catatan Kementerian Luar Negeri Indonesia, hingga saat ini tercatat 2.886 korban jiwa, 4.639 luka-luka, dan sekitar 300 orang dinyatakan hilang akibat gempa di Myanmar. Angka ini menunjukkan besarnya dampak gempa yang terjadi.
Beruntung, berdasarkan pemantauan dan laporan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Myanmar, sejauh ini belum ada laporan korban dari kalangan Warga Negara Indonesia (WNI). Hal ini tentu menjadi kabar baik di tengah situasi yang sulit.
Kesimpulannya, gempa bumi di Myanmar telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang besar. Respon cepat dan terkoordinasi dari berbagai pihak, termasuk WHO, sangat penting untuk membantu para korban dan memulihkan wilayah yang terdampak. Dukungan internasional terus dibutuhkan untuk memastikan keberhasilan upaya pemulihan jangka panjang.