UPTD PPA Natuna Awasi Perkembangan Korban Kekerasan Seksual: Pemulihan dan Pencegahan Trauma
UPTD PPA Natuna melakukan pemantauan berkala terhadap korban kekerasan seksual selama setahun untuk memastikan pemulihan dan mencegah trauma berkelanjutan, melibatkan keluarga dan lingkungan korban dalam prosesnya.

Natuna, Kepulauan Riau, 19 Maret 2024 - Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kabupaten Natuna secara intensif memantau perkembangan perilaku anak-anak korban kekerasan seksual selama satu tahun pasca-pendampingan. Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan pemulihan korban dan mencegah trauma berkelanjutan. Upaya ini melibatkan kerjasama aktif dengan keluarga dan lingkungan sekitar korban.
Kepala UPTD PPA Natuna, Melda Irawati, menjelaskan bahwa komunikasi rutin dengan keluarga korban menjadi kunci dalam proses pemantauan ini. "Kami berkomunikasi dengan keluarga untuk mengetahui perkembangan korban," ujarnya dalam konfirmasi kepada Antara.
Proses pemantauan ini tidak hanya sekedar mengecek kondisi fisik, namun juga meliputi aspek psikologis korban. Hal ini penting untuk memastikan agar trauma yang dialami tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar dan menghambat perkembangan korban di masa depan. UPTD PPA Natuna berkomitmen untuk memberikan dukungan penuh bagi para korban agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan normal.
Pemantauan Berkala untuk Pemulihan Trauma
Psikolog UPTD PPA Natuna, Sumarni, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan setelah proses pendampingan selesai. Tujuan utama pemantauan ini adalah untuk mengidentifikasi potensi kembalinya trauma dan gangguan aktivitas korban. Dengan pemantauan yang ketat, UPTD PPA Natuna dapat segera memberikan intervensi yang tepat jika dibutuhkan.
Selain itu, pemantauan juga bertujuan untuk mencegah terulangnya peristiwa kekerasan seksual. UPTD PPA Natuna bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan lingkungan sekitar korban aman dan kondusif. Layanan pendampingan dan kunjungan akan kembali diberikan jika korban dinilai membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Sumarni menekankan bahwa trauma akibat kekerasan seksual tidak akan hilang sepenuhnya, namun dapat dikelola. "Trauma tidak bisa hilang sepenuhnya karena tersimpan dalam ingatan. Namun, trauma dapat dikelola agar tidak berkembang menjadi masalah berkelanjutan," jelasnya.
Salah satu metode yang efektif dalam pengelolaan trauma adalah behavior activation, yaitu mendorong korban untuk kembali beraktivitas normal, seperti bersekolah, bersosialisasi, dan mengembangkan potensi diri. Dengan cara ini, korban dapat membangun kembali rasa percaya diri dan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup.
Mengembalikan Rasa Percaya Diri Korban
UPTD PPA Natuna juga mendorong korban untuk mengembangkan kemampuan atau hobi sebagai bagian dari proses pemulihan. Kegiatan positif ini membantu korban untuk mengalihkan fokus dari trauma dan menemukan kembali potensi positif dalam diri mereka. Hal ini sangat penting dalam membangun kembali rasa percaya diri dan ketahanan mental.
"Pemantauan yang kami lakukan bukan untuk membuat korban bergantung pada kami, melainkan untuk memastikan mereka dapat berdaya dan mampu menghadapi masalah yang terjadi secara mandiri," tegas Sumarni. UPTD PPA Natuna berkomitmen untuk memberdayakan korban agar mereka dapat hidup mandiri dan bebas dari trauma.
Proses pemulihan trauma membutuhkan waktu dan kesabaran. Dukungan dari keluarga, lingkungan, dan lembaga seperti UPTD PPA Natuna sangat penting dalam membantu korban untuk pulih dan kembali menjalani kehidupan yang normal dan produktif. Keberhasilan program ini bergantung pada kerjasama semua pihak yang terlibat.