Fakta Menarik Ekspor Rempah: Wamenpar Ajak Mahasiswa Jadi Agen Utama Wisata Gastronomi Indonesia
Wakil Menteri Pariwisata mengajak mahasiswa menjadi agen utama pengembangan wisata gastronomi Indonesia, yang bukan hanya kuliner, tetapi kekuatan budaya dan ekonomi bangsa.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekraf), Ni Luh Made Ayu Marthini, mengajak seluruh mahasiswa perguruan tinggi untuk berperan aktif. Mereka diharapkan menjadi agen utama dalam memajukan sektor wisata gastronomi Indonesia yang kaya akan budaya. Ajakan ini disampaikan dalam Kuliah Umum Bersama Poltekpar di Lingkungan Kemenparekraf.
Ni Luh menegaskan bahwa gastronomi kini telah bertransformasi. Bukan hanya sekadar pengalaman kuliner, melainkan juga menjadi kekuatan budaya dan ekonomi yang nyata. Setiap hidangan Nusantara memiliki narasi kuat, mulai dari proses budidaya bahan pangan, distribusi, cara memasak, hingga penyajiannya yang sarat makna.
Mahasiswa diharapkan dapat melahirkan gagasan segar melalui inovasi, riset, dan dedikasi. Mereka memiliki potensi besar untuk membawa cita rasa baru bagi dunia pariwisata. Dengan demikian, mereka akan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan wisata gastronomi nasional.
Rempah, DNA Kuliner dan Potensi Ekonomi Bangsa
Salah satu ciri khas utama kuliner Nusantara adalah kekayaan rempah-rempah yang melimpah. Rempah tidak hanya memperkaya rasa masakan, tetapi juga membawa jejak sejarah, identitas, dan potensi ekonomi yang signifikan bagi bangsa. Ni Luh menilai rempah adalah DNA kuliner Indonesia.
Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki karakteristik bumbu dan rasa yang unik, menjadikan setiap masakan bukan hanya sekadar santapan, tetapi sebuah pernyataan budaya. Kekayaan ini menjadi modal utama dalam pengembangan wisata gastronomi Indonesia.
Data dari Food and Fertilizer Technology Center for the Asian and Pacific Region menunjukkan potensi ekonomi rempah Indonesia. Pada periode 2016–2020, nilai ekspor rempah Indonesia rata-rata mencapai 589 juta dolar AS per tahun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 5,63 persen per tahun.
Indonesia menempati peringkat keempat dunia sebagai produsen rempah dengan pangsa pasar global 10,1 persen. Pemerintah menargetkan perluasan ekspor dengan memprioritaskan komoditas strategis dan membuka akses ke 20 negara pengimpor utama. Negara-negara ini memiliki pertumbuhan permintaan yang lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia.
Strategi Penguatan Gastronomi Global
Pengembangan gastronomi tidak bisa dipandang hanya dari sisi kuliner semata, tetapi harus terintegrasi dengan strategi besar pariwisata nasional. Kementerian Pariwisata telah merumuskan lima program unggulan pada 2025. Program-program ini dirancang untuk memperkuat daya saing sekaligus menjaga keaslian dan keberlanjutan potensi pariwisata Indonesia.
Di antara program yang dimaksud yakni Pariwisata Naik Kelas dan Desa Wisata, yang erat kaitannya dengan pengembangan wisata gastronomi. Inisiatif ini bertujuan untuk mengangkat kualitas dan promosi destinasi kuliner di seluruh pelosok negeri.
Kementerian Pariwisata juga bekerja sama dengan UN Tourism dan Pemerintah Kabupaten Gianyar. Kolaborasi ini memproyeksikan Ubud sebagai prototipe destinasi gastronomi dunia, menunjukkan komitmen serius dalam memposisikan Indonesia. Kuliner dan rempah Nusantara juga dipromosikan ke pasar global melalui program Indonesia Spice Up The World.
Kerja sama juga dijajaki bersama Kementerian Luar Negeri untuk menggerakkan diplomasi rasa lewat inisiatif Wonderful Indonesia Gourmet. Misalnya, pada 2025 akan digelar Barista Innovation Challenge tingkat Asia Tenggara. Acara ini menjadi panggung strategis bagi promosi kopi-kopi lokal unggulan Indonesia, semakin memperkuat posisi wisata gastronomi Indonesia.