11.644 Perempuan di Papua Terinfeksi HIV/AIDS, Dinkes Papua Ungkap Penyebabnya
Dinas Kesehatan Papua melaporkan 11.644 perempuan terinfeksi HIV/AIDS, angka yang lebih tinggi daripada laki-laki, dan mengungkap penyebab utama peningkatan kasus tersebut.
Jayapura, 4 April 2025 - Sebuah data mengejutkan datang dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua. Tercatat sebanyak 11.644 perempuan di Papua terinfeksi virus HIV/AIDS, penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Angka ini lebih tinggi dibandingkan jumlah laki-laki yang terinfeksi, yaitu 9.463 orang. Data ini disampaikan langsung oleh Kepala Dinkes Papua, dr. Ari Pongtiku, kepada ANTARA di Jayapura. Penyebab utama peningkatan kasus ini diidentifikasi sebagai perilaku berganti-ganti pasangan seksual.
Hingga Desember 2024, total kasus HIV/AIDS di Papua mencapai 21.129 orang. Sebanyak 22 kasus lainnya tidak dapat diidentifikasi jenis kelaminnya. Kasus ini tersebar di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Papua, dengan prediksi peningkatan kasus di masa mendatang. Oleh karena itu, penanganan lintas sektoral sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan serius ini.
Dinkes Papua menekankan pentingnya pengobatan rutin bagi penderita HIV/AIDS dengan obat Anti Retroviral (ARV). Obat ARV diberikan secara gratis melalui puskesmas dan rumah sakit. Penggunaan ARV secara rutin dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah penularan ke orang lain. "Dengan meminum ARV, kekebalan tubuh si penderita kembali meningkat," jelas dr. Ari Pongtiku. "Dan obat tersebut diberikan secara gratis."
Sebaran Kasus HIV/AIDS di Papua
Sebagian besar kasus HIV/AIDS di Papua ditemukan pada kelompok usia 15-49 tahun, dengan jumlah mencapai 19.288 orang. Sementara itu, kasus pada anak usia kurang dari satu tahun hingga 14 tahun tercatat sebanyak 602 kasus. Kasus pada kelompok usia di atas 50 tahun dan usia tidak diketahui mencapai 1.239 kasus.
Kota Jayapura mencatatkan angka tertinggi kasus HIV/AIDS dengan 8.864 kasus. Disusul oleh Kabupaten Jayapura dengan 5.480 kasus, Biak Numfor (3.374 kasus), Kepulauan Yapen (2.069 kasus), Keerom (522 kasus), Waropen (286 kasus), Supiori (253 kasus), Mamberamo Raya (76 kasus), dan Kabupaten Sarmi (205 kasus).
Distribusi kasus yang tidak merata ini menunjukkan perlunya strategi penanggulangan yang terfokus dan disesuaikan dengan kondisi spesifik di setiap wilayah. Pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat, sangat krusial untuk menekan angka penularan HIV/AIDS di Papua.
Pentingnya Pencegahan dan Pengobatan
Dr. Ari Pongtiku menegaskan bahwa tingginya angka penularan HIV/AIDS di Papua erat kaitannya dengan perilaku berganti-ganti pasangan seksual. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi mengenai pencegahan HIV/AIDS perlu ditingkatkan secara massif. Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan, termasuk pengobatan ARV, harus dijamin agar semua penderita HIV/AIDS dapat mendapatkan perawatan yang memadai.
Langkah-langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat, dikombinasikan dengan kesadaran masyarakat, menjadi kunci dalam upaya menekan angka penularan HIV/AIDS di Papua. Perlu adanya kolaborasi yang kuat antara pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat untuk mencapai tujuan tersebut.
Data yang disampaikan oleh Dinkes Papua ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan bahaya HIV/AIDS dan perlunya upaya bersama untuk mencegah penyebarannya. Dengan meningkatkan kesadaran, mengakses informasi yang akurat, dan menerapkan perilaku hidup sehat, kita dapat turut berkontribusi dalam memerangi epidemi HIV/AIDS di Papua.