Babel Alami Deflasi 0,64 Persen, Harga Listrik hingga Ikan Tenggiri Turun
Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatat deflasi year on year (y-on-y) sebesar 0,64 persen pada Februari 2025, dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengumumkan bahwa Provinsi Babel mengalami deflasi year on year (y-on-y) sebesar 0,64 persen pada Februari 2025. Hal ini menunjukkan penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 104,00 menjadi 103,33. Deflasi ini terjadi di tengah penurunan harga beberapa komoditas utama, terutama di sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Penurunan harga ini berdampak signifikan terhadap IHK secara keseluruhan.
Kepala BPS Provinsi Kepulauan Babel, Toto Haryanto Silitonga, menjelaskan bahwa deflasi y-on-y ini disebabkan oleh penurunan harga pada beberapa kelompok pengeluaran. Penurunan harga yang paling signifikan terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, yang mencapai 15,60 persen. Selain itu, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga mengalami penurunan sebesar 0,13 persen. Penurunan harga ini memberikan kontribusi besar terhadap deflasi yang terjadi di Babel.
Meskipun demikian, beberapa kelompok pengeluaran lainnya justru mengalami inflasi. Kenaikan harga terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (1,58 persen), pakaian dan alas kaki (1,86 persen), dan beberapa sektor lainnya. Perlu dicatat bahwa meskipun terjadi deflasi secara keseluruhan, beberapa komoditas tetap mengalami kenaikan harga, sehingga dampaknya terhadap masyarakat perlu dikaji lebih lanjut.
Faktor Penyebab Deflasi
Beberapa komoditas yang memberikan andil besar terhadap deflasi y-on-y antara lain tarif listrik, beras, cabai merah, sawi hijau, tomat, jeruk, ketimun, tahu mentah, ikan tenggiri, anggur, susu bubuk untuk balita, bayam, ikan singkur, ikan pari, sawi putih, ikan dencis, bensin, sabun cair cuci piring, telepon seluler, dan ikan tamban. Penurunan harga komoditas-komoditas ini berkontribusi signifikan terhadap penurunan IHK.
Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami kenaikan harga dan berkontribusi terhadap inflasi y-on-y. Komoditas tersebut antara lain sigaret kretek mesin (SKM), emas perhiasan, minyak goreng, daging ayam ras, kopi bubuk, cumi-cumi, sepeda motor, sigaret kretek tangan (SKT), mobil, angkutan udara, akademi, perguruan tinggi, bawang putih, sigaret putih mesin (SPM), wortel, bahan bakar rumah tangga, telur ayam ras, gula pasir, susu cair kemasan, baju anak stelan, dan popok bayi sekali pakai (diapers). Kenaikan harga komoditas ini perlu menjadi perhatian pemerintah.
Secara month to month (m-to-m), Babel juga mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap deflasi m-to-m antara lain bayam, sawi hijau, cabai merah, kangkung, ikan selar, bahan bakar rumah tangga, daging ayam ras, jeruk, kacang panjang, bawang merah, ketimun, ikan bulat, ikan tongkol, ikan tamban, ikan kerisi, ikan dencis, lengkuas, jahe, ikan kembung, tomat, sabun mandi cair, ikan tenggiri, dan cabai rawit. Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi m-to-m antara lain angkutan udara, cumi-cumi, wortel, emas perhiasan, beras, udang basah, ikan singkur, bensin, kentang, bawang putih, mobil, kopi bubuk, sigaret kretek mesin (SKM), pelicin/pewangi pakaian, tissu, minyak goreng, mie kering instant, kelapa, martabak, dan sewa rumah.
Implikasi Deflasi terhadap Ekonomi Babel
Deflasi yang terjadi di Babel pada Februari 2025 perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami dampaknya terhadap perekonomian daerah. Meskipun deflasi menunjukkan penurunan harga barang dan jasa, hal ini juga bisa berdampak negatif jika penurunan harga tersebut terlalu drastis dan berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu memonitor perkembangan harga komoditas secara cermat dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang menyebabkan deflasi dan inflasi pada berbagai komoditas. Hal ini penting untuk merumuskan kebijakan yang tepat guna menjaga keseimbangan harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pemantauan harga dan kebijakan yang tepat sasaran akan sangat penting untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.
Kesimpulannya, deflasi di Babel pada Februari 2025 merupakan fenomena yang kompleks dan perlu dikaji secara menyeluruh. Pemerintah dan instansi terkait perlu bekerja sama untuk memahami penyebab deflasi dan inflasi, serta merumuskan strategi yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Babel.