Menag Pesan Dai 3T: Rendah Hati, Jangan Cari Popularitas!
Menteri Agama berpesan kepada 1.000 dai dan daiyah yang bertugas di wilayah 3T untuk menjaga kerendahan hati dan tidak menjadikan dakwah sebagai ajang popularitas, serta menekankan pentingnya doa untuk orang tua dan ibadah sunnah.
Jakarta, 27 Februari 2024 - Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, memberikan amanat penting kepada 1.000 dai dan daiyah yang akan bertugas di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) selama bulan Ramadhan. Pesan tersebut disampaikan pada acara pelepasan resmi para pendakwah di Jakarta, Kamis lalu. Acara ini menandai dimulainya penugasan para dai ke berbagai pelosok negeri, sekaligus menjadi momentum penting bagi peningkatan layanan keagamaan di Indonesia.
Menag menekankan agar para dai senantiasa menjaga sikap rendah hati dalam menjalankan tugas dakwah. Beliau mengingatkan bahwa kesuksesan dakwah bukan diukur dari popularitas, melainkan dari dampak positif yang diberikan kepada masyarakat. "Orang yang puas dengan pujian sudah selesai, tetapi mereka yang terus dikritik akan berkembang. Jangan mencari popularitas di tempat tugas," tegas Menag Nasaruddin Umar.
Selain penugasan ke wilayah 3T, Kemenag juga menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses layanan keagamaan bagi diaspora Indonesia di luar negeri. Lima dai terbaik, para juara MTQ tingkat nasional, akan dikirim ke Australia, Jerman, dan Selandia Baru. Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah untuk memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri.
Amanat Menag: Kerendahan Hati dan Doa untuk Orang Tua
Dalam arahannya, Menag Nasaruddin Umar tidak hanya menekankan pentingnya kerendahan hati, tetapi juga mengingatkan para dai akan pentingnya menjaga kesucian diri melalui wudhu. Beliau menjelaskan bahwa setiap tetesan air wudhu dapat menghapus dosa-dosa masa lalu. Lebih lanjut, beliau juga mengingatkan para dai untuk selalu mengingat dan mendoakan orang tua mereka.
"Ananda sekalian, tolong doakan orang tua. Anda tidak akan menjadi seperti ini tanpa mereka. (Jangan sampai) sibuk memimpin doa untuk orang lain, tetapi lupa mendoakan orang tua sendiri. Ziarahi makam ibu dan bapak. Cium, jangan hanya tangannya, tapi juga kakinya," pesan Menag dengan penuh haru.
Selain itu, Menag menganjurkan para dai untuk memperbanyak ibadah sunnah, seperti membaca Surah Al-Kahfi, Yasin, Ar-Rahman, dan Al-Mulk, serta menjalankan shalat sunah, termasuk shalat tasbih di tengah malam. Hal ini diharapkan dapat memperkuat spiritualitas para dai dalam menjalankan tugas mulia mereka.
Program Tahunan dan Harapan untuk Masa Depan
Program pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan program tahunan Kemenag yang telah berjalan sejak 2021. Setiap Ramadhan, Kemenag mengirimkan para dai terbaik untuk memberikan pelayanan keagamaan di daerah-daerah terpencil. Program ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam pemerataan akses layanan keagamaan di seluruh Indonesia.
Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menambahkan bahwa saat ini dibutuhkan para pendakwah yang tidak hanya berdakwah, tetapi juga mampu mengajak masyarakat untuk membangun negara. "Negara membutuhkan tangan-tangan kreatif dan niat baik para dai. Bantu negara ini dengan mengajak masyarakat bekerja keras sesuai bidangnya," ujarnya.
Abu Rokhmad juga meminta para dai untuk aktif melaporkan aktivitas dakwah mereka, memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan pesan positif, dan membuat laporan berbasis data untuk mengukur dampak dari kegiatan dakwah yang dilakukan. Hal ini penting untuk memastikan efektivitas program dan terus meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan.
Tantangan Dakwah di Era Modern
Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengungkapkan meningkatnya permintaan layanan keagamaan dari diaspora Indonesia di luar negeri sebagai peluang bagi Indonesia untuk menjadi kiblat dalam kajian dan praktik keislaman global. Hal ini terlihat dari tingginya jumlah mahasiswa asing di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), yang mencapai 70 persen.
Namun, beliau juga menyoroti tantangan sosial dalam dakwah, seperti meningkatnya angka perceraian dan menurunnya angka pernikahan. "Pada 2023, jumlah pernikahan hanya 1,3 juta, sementara angka perceraian lebih dari 400 ribu. Ini menjadi ancaman bagi ketahanan keluarga. Dai tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama, tetapi juga melakukan analisis sosial agar dakwah lebih efektif," jelasnya.
Para dai diharapkan mampu memberikan solusi atas permasalahan sosial tersebut dengan pendekatan yang holistik dan berwawasan ke depan. Dengan demikian, dakwah tidak hanya sekedar menyampaikan ajaran agama, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang lebih baik.
Sebagai penutup, penugasan para dai ke wilayah 3T dan diaspora Indonesia merupakan langkah strategis Kemenag dalam memperluas akses layanan keagamaan dan memperkuat nilai-nilai keislaman, baik di dalam maupun luar negeri. Komitmen ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan memperkuat ketahanan bangsa Indonesia.