Rektor Unhas: Indonesia Seharusnya Eksportir Produk Nikel, Bukan Bahan Baku!
Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, MSc., mengecam ekspor bahan baku nikel dan mendorong Indonesia untuk menjadi eksportir produk nikel guna meningkatkan pendapatan negara serta kesejahteraan rakyat.
Makassar, 26 Februari 2024 - Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, MSc., mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi ekspor nikel Indonesia yang masih berupa bahan baku mentah. Beliau menekankan perlunya Indonesia bertransformasi menjadi eksportir produk nikel olahan demi meningkatkan pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat. Pernyataan ini disampaikan usai beliau membuka Simposium Nasional bertema "Hilirisasi Nikel Indonesia" di Unhas Hotel Makassar.
Prof. Jamaluddin Jompa (JJ) mengungkapkan kegelisahannya melihat potensi nikel Indonesia yang melimpah justru diekspor dalam bentuk mentah. "Kita ini dalam kegemasan, kita yang menghasilkan nikel, kemudian bahan bakunya kita kirim ke luar negeri. Setelah jadi produknya, justru kita impor lagi ke Indonesia," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti kerugian ekonomi yang dialami Indonesia akibat kurangnya pengolahan nikel di dalam negeri.
Kekayaan alam Indonesia, khususnya nikel, seharusnya dikelola secara optimal untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Prof. JJ menekankan pentingnya kolaborasi, inovasi teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk mencapai tujuan tersebut. Beliau juga mendorong sinergi yang kuat antara pemerintah, industri, dan seluruh komponen bangsa dalam mengelola potensi nikel.
Dorongan Hilirisasi Nikel untuk Kemajuan Indonesia
Prof. JJ menjelaskan bahwa menjadi pengimpor bahan baku nikel akan jauh berbeda dengan posisi Indonesia saat ini sebagai pemilik sumber daya alam (SDA) nikel yang melimpah. Beliau melihat hilirisasi nikel sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan bangsa, sejalan dengan visi Presiden. "Seandainya Indonesia posisinya sebagai negara pengimpor bahan baku nikel, maka bisa bersikap realistis. Namun sebaliknya, justru kita yang punya SDA, apalagi hilirisasi ini sebagai bagian dari cita-cita Presiden, sehingga bukan hal yang mustahil direalisasikan pada awal tahun ini," jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. JJ juga menekankan pentingnya pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Langkah ini dianggap krusial untuk mewujudkan target Indonesia sebagai produsen baterai terbesar di dunia. Pengembangan industri ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dengan memanfaatkan teknologi dan SDM lokal, Indonesia dapat menciptakan nilai tambah yang signifikan dari nikel. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada impor produk nikel olahan dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. Kolaborasi global juga menjadi kunci untuk meningkatkan kapasitas dan teknologi pengolahan nikel.
Langkah Konkret Menuju Ekspor Produk Nikel
Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama dalam industri nikel global. Namun, hal ini membutuhkan komitmen dan langkah konkrit dari berbagai pihak. Pengembangan teknologi pengolahan nikel yang ramah lingkungan dan efisien menjadi prioritas utama. Selain itu, peningkatan kualitas SDM yang terampil dalam bidang pengolahan nikel juga sangat penting.
Pemerintah perlu memberikan dukungan kebijakan yang kondusif bagi pengembangan industri nikel dalam negeri. Hal ini termasuk memberikan insentif fiskal dan non-fiskal, serta menciptakan iklim investasi yang menarik bagi investor baik lokal maupun asing. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri juga perlu diperkuat untuk mendorong inovasi dan pengembangan teknologi.
Dengan pengelolaan yang tepat, nikel dapat menjadi sumber pendapatan negara yang signifikan dan berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Indonesia harus mampu memanfaatkan kekayaan alamnya untuk kemajuan bangsa, bukan hanya sebagai pengekspor bahan baku mentah, tetapi sebagai eksportir produk nikel yang bernilai tinggi.
Indonesia butuh lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Sudah saatnya Indonesia beralih dari posisi sebagai pengimpor menjadi pengekspor produk nikel, memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah untuk kemakmuran rakyatnya.