TNI-Polri Sepakat Usut Insiden Tarakan Secara Profesional: Sinergitas Tetap Terjaga
Pangdam VI/Mulawarman dan Kapolda Kaltara sepakat menyelesaikan insiden penyerangan Mapolres Tarakan oleh oknum TNI secara profesional dan berkeadilan, dengan menekankan pentingnya sinergi TNI-Polri.
Insiden penyerangan Mapolres Tarakan oleh sejumlah oknum TNI pada Senin (24/2) telah ditangani dengan komitmen tinggi oleh TNI dan Polri untuk menjaga sinergitas. Peristiwa bermula dari dugaan pengeroyokan anggota Yonif 614/RJP oleh personel Polres Tarakan pada Sabtu (22/2), yang berujung pada aksi balasan di Mapolres Tarakan. Kejadian ini terjadi di Tarakan, Kalimantan Utara, dan melibatkan berbagai pihak, termasuk Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha dan Kapolda Kalimantan Utara Irjen Pol Hary Sudwijanto.
Peristiwa ini telah menimbulkan kerusakan pada fasilitas Mapolres Tarakan. Akibatnya, kedua institusi sepakat untuk menyelesaikan insiden ini secara profesional dan berkeadilan, menindak tegas oknum yang terbukti melanggar aturan. Proses mediasi awal antara anggota Polres Tarakan dan anggota Yonif 614/RJP telah menghasilkan kesepakatan biaya pengobatan, namun janji tersebut tidak ditepati, memicu aksi balasan.
Sebagai bentuk komitmen menjaga sinergitas TNI-Polri, Pangdam VI/Mulawarman dan Kapolda Kalimantan Utara langsung berkoordinasi untuk meredam situasi dan mencegah eskalasi. Mereka menegaskan komitmen untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kalimantan Utara. "Kedua institusi menegaskan komitmen untuk menjaga sinergi TNI-Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kalimantan Utara," kata Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Rudy Rachmat Nugraha.
Kronologi dan Penyelesaian Insiden Tarakan
Insiden berawal dari dugaan pengeroyokan seorang anggota Yonif 614/RJP oleh lima personel Polres Tarakan pada Sabtu (22/2). Mediasi awal menghasilkan kesepakatan pemberian biaya pengobatan Rp10 juta oleh anggota Polres Tarakan kepada korban, namun kesepakatan ini tidak direalisasikan. Hal ini memicu sekitar 20 anggota Yonif 614/RJP mendatangi Mapolres Tarakan pada Senin (24/2) sekitar pukul 23.30 WITA.
Kedatangan mereka bertujuan mencari lima anggota Polres Tarakan yang diduga terlibat pengeroyokan. Aksi spontanitas ini mengakibatkan pelemparan batu yang merusak kaca dan pintu pos jaga Mapolres Tarakan. Sebagai bentuk tanggung jawab, personel Yonif 613/RJA telah memperbaiki fasilitas Mapolres yang rusak. Langkah ini menunjukkan komitmen TNI dalam menjaga hubungan baik dengan Polri.
Pangdam VI/Mulawarman juga mengunjungi anggota Polres Tarakan yang dirawat di RSUD M. Yusuf S.A. Tarakan, sebagai wujud kepedulian dan upaya membangun kembali hubungan harmonis. Selain itu, beliau memberikan pengarahan kepada seluruh personel Yonif 613/RJA dan Yonif 614/RJP, menekankan pentingnya kedisiplinan, profesionalisme, dan menjaga hubungan baik dengan seluruh aparat keamanan, termasuk Polri.
Langkah-langkah Rekonsiliasi dan Pencegahan
- Penyelidikan dan penindakan terhadap personel yang terbukti melanggar aturan dari kedua institusi.
- Perbaikan fasilitas Mapolres Tarakan yang rusak oleh personel Yonif 613/RJA.
- Kunjungan Pangdam VI/Mulawarman ke anggota Polres Tarakan yang dirawat di rumah sakit.
- Pengarahan Pangdam VI/Mulawarman kepada personel Yonif 613/RJA dan Yonif 614/RJP tentang kedisiplinan dan profesionalisme.
Kedua institusi sepakat untuk menyelesaikan insiden ini secara profesional dan berkeadilan, dengan menindak tegas setiap personel yang terbukti bersalah. Komitmen ini diharapkan dapat mencegah kejadian serupa di masa mendatang dan memperkuat sinergi TNI-Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban di Kalimantan Utara. Langkah-langkah rekonsiliasi yang diambil menunjukkan komitmen bersama untuk menjaga keharmonisan dan soliditas demi kepentingan bangsa dan negara.
Dengan adanya langkah-langkah tersebut, diharapkan TNI dan Polri dapat kembali fokus pada tugas utama mereka dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kalimantan Utara. Kodam VI/Mulawarman dan Polda Kalimantan Utara berkomitmen untuk memperkuat sinergi dan soliditas demi kepentingan bangsa dan negara. Kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi kedua institusi untuk selalu mengedepankan profesionalisme dan komunikasi yang baik dalam setiap tindakan.