Aksi Buyback Himbara: Sentimen Positif, Namun Investor Tetap Wait and See
Pengamat menilai aksi buyback saham Himbara berdampak positif pada pasar saham Indonesia, meskipun investor masih menunggu efek jangka panjangnya.

Apa, Siapa, Di mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana? Aksi buyback saham oleh Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), yaitu BRI dan Mandiri, telah disetujui pada RUPST (Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan) tanggal 24 dan 25 Maret 2025. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan investor dan menyesuaikan diri dengan kondisi pasar yang fluktuatif. Keputusan ini diambil sebagai respons atas tekanan jual yang kuat di pasar saham. Aksi ini diharapkan memberikan dampak positif pada pasar saham Indonesia, meskipun investor masih menunggu dan melihat efek jangka panjangnya. Sumber pendanaan berasal dari kas internal perusahaan.
Langkah ini diambil setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kebijakan yang memperbolehkan pembelian kembali saham tanpa melalui RUPS, sebagai upaya untuk menstabilkan pasar yang sedang bergejolak. Kebijakan ini diumumkan pada 18 Maret 2025, sebagai tindak lanjut dari pertemuan dengan pemangku kepentingan pasar modal pada 3 Maret 2025. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan mengurangi tekanan jual.
Fixed Income & Macro Strategist PT Mega Capital Indonesia, Lionel Priyadi, menyatakan bahwa respons pasar terhadap aksi buyback ini sejauh ini positif. Namun, ia menekankan pentingnya untuk tetap waspada dan mengamati perkembangan pasar dalam jangka panjang, mengingat tekanan jual yang masih signifikan.
Analisis Aksi Buyback Himbara terhadap Pasar Saham
BRI telah menyetujui rencana buyback saham hingga Rp3 triliun, sedangkan Bank Mandiri hingga Rp1,17 triliun. Kedua bank akan melakukan buyback melalui Bursa Efek dan di luar Bursa Efek, baik bertahap maupun sekaligus, dan akan diselesaikan dalam waktu maksimal 12 bulan sejak RUPST.
Aksi buyback ini merupakan strategi korporasi untuk menstabilkan harga saham dan meningkatkan kepercayaan investor. Dengan membeli kembali sahamnya sendiri, perusahaan menunjukkan keyakinan pada prospek bisnisnya dan memberikan sinyal positif kepada pasar.
Meskipun kebijakan OJK yang mempermudah proses buyback memberikan fleksibilitas bagi perusahaan, investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain yang mempengaruhi kinerja pasar saham secara keseluruhan.
Dampak Jangka Panjang dan Pertimbangan Investor
Meskipun respons pasar saat ini positif, Lionel Priyadi mengingatkan bahwa ini belum menjamin dampak positif jangka panjang. Tetap ada tekanan jual yang perlu diwaspadai. Investor masih dalam posisi wait and see, menunggu bukti nyata dari efektivitas strategi buyback ini.
Selain aksi buyback, investor juga memperhatikan potensi perubahan manajemen di Himbara. Hal ini menjadi faktor lain yang mempengaruhi keputusan investasi mereka.
Ke depan, perlu pemantauan yang cermat terhadap perkembangan pasar dan kinerja Himbara untuk menilai dampak sebenarnya dari aksi buyback ini terhadap pasar saham Indonesia.
Secara keseluruhan, aksi buyback saham Himbara memberikan sentimen positif di pasar, namun investor tetap bersikap hati-hati dan menunggu perkembangan lebih lanjut. Keberhasilan strategi ini bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi makro dan kinerja perusahaan itu sendiri.
Kesimpulan: Aksi buyback Himbara memberikan dampak positif sementara di pasar saham. Namun, efek jangka panjangnya masih perlu dipantau, dan investor tetap bersikap waspada.