Antisipasi Brain Drain: Belajar dari Strategi Asia Hadapi #KaburAjaDulu
Tren #KaburAjaDulu mengancam Indonesia dengan brain drain; artikel ini menelaah strategi Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan China dalam mempertahankan talenta terbaiknya.

Jakarta, 18 Februari (ANTARA) - Tagar #KaburAjaDulu yang tengah viral memicu perdebatan nasional. Banyak warga, bahkan pejabat, mengungkapkan keinginan pindah mencari penghidupan lebih baik di luar negeri. Ancaman nyata yang mengintai adalah brain drain, kehilangan talenta berkualitas ke negara lain. Namun, sejarah kebijakan di Asia menawarkan pelajaran berharga untuk mengantisipasi hal ini.
Singapura: Sistem Ikatan Beasiswa
Singapura menerapkan Scholarship Bond System. Beasiswa pemerintah, seperti Public Service Commission (PSC) Scholarship, membiayai pendidikan di universitas ternama dunia, seperti Harvard atau Oxford. Sebagai imbalannya, penerima beasiswa wajib bekerja di Singapura selama periode tertentu. Jika melanggar ikatan, mereka harus mengembalikan seluruh biaya beasiswa, yang bisa mencapai ratusan ribu dolar.
Beasiswa paling bergengsi, President's Scholarship, diberikan kepada sedikit siswa berprestasi. Banyak penerima beasiswa ini menduduki posisi penting di pemerintahan, seperti mantan Perdana Menteri Goh Chok Tong. Mereka umumnya berkarier di sektor pemerintahan, luar negeri, dan pertahanan. Sistem ini memastikan tersedianya pemimpin handal dan loyalitas nasional di kalangan elite. Seleksi ketat berdasarkan prestasi akademik, potensi kepemimpinan, dan komitmen terhadap Singapura menjadi kunci keberhasilannya.
Namun, fokus President's Scholarship yang lebih kepada pemerintahan dan pelayanan publik, bukan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), menyebabkan banyak insinyur dan peneliti berbakat di bidang teknologi memilih berkarier di Silicon Valley, China, atau Eropa.
Korea Selatan: Fokus Sains dan Teknologi
Berbeda dengan Singapura, Korea Selatan membangun sistem yang mendukung perkembangan talenta di bidang STEM. Pada 1966, Korsel mendirikan Institut Sains dan Teknologi Korea (KIST) dengan dukungan AS. Tujuannya: mengembangkan teknologi dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada keahlian asing.
KIST berperan penting dalam perkembangan industri baja, kimia, dan pembuatan kapal pada dekade 1970-an, mendorong pertumbuhan perusahaan seperti Hyundai, POSCO, dan Samsung. Sebelum KIST, banyak insinyur Korsel harus belajar di luar negeri. KIST menjadi pusat pelatihan dan pengembangan, membangun ekosistem inovasi lokal.
Pada 1971, Korsel mendirikan Korea Advanced Institute of Science (KAIST), bermodelkan MIT. KAIST mencetak ilmuwan dan insinyur kelas dunia. Banyak lulusan KAIST menjadi pemimpin di perusahaan teknologi besar seperti Samsung dan LG. KAIST berkontribusi besar pada dominasi Korsel di industri semikonduktor, robotika, dan AI.
Kerja sama KAIST dengan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Samsung dan LG membantu mengubah riset menjadi inovasi nyata, misalnya pengembangan teknologi layar OLED. KIST dan KAIST mencegah brain drain dengan menciptakan peluang di dalam negeri, membawa Korsel menjadi negara maju di bidang teknologi.
Taiwan: Hsinchu Science Park (HSP)
Taiwan juga sukses mencegah brain drain melalui Hsinchu Science Park (HSP), yang didirikan pada 1980. HSP, mirip Silicon Valley, menjadi pusat industri teknologi tinggi di Kota Hsinchu. Insentif pajak, pendanaan pemerintah, dan infrastruktur yang memadai menarik inovasi dan perusahaan rintisan.
Kemitraan HSP dengan universitas ternama seperti Universitas Nasional Tsing Hua memasok tenaga terampil di bidang semikonduktor, bioteknologi, dan teknologi komputer. HSP menjadikan Taiwan pemimpin global di bidang semikonduktor, dengan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) memproduksi lebih dari 50 persen cip canggih dunia pada 2023. HSP menciptakan lebih dari 150.000 lapangan kerja di bidang teknologi pada 2020, menarik kembali insinyur dan ilmuwan Taiwan yang bekerja di luar negeri.
China: Program Ribuan Bakat (TTP)
Republik Rakyat China memiliki Program Ribuan Bakat (TTP), diluncurkan pada 2008. TTP menarik ilmuwan dan insinyur China dari luar negeri, terutama AS dan Eropa, dengan menawarkan gaji tinggi, hibah penelitian, dan tunjangan perumahan. Awalnya, TTP juga menarik pakar asing, namun kemudian fokus pada cendekiawan dan profesional kelahiran China.
Pada 2017, lebih dari 7.000 ilmuwan dan insinyur telah kembali ke China melalui TTP. Mereka berkontribusi di bidang AI, bioteknologi, dan semikonduktor. TTP membantu perusahaan seperti Huawei dan Alibaba bersaing secara global. TTP juga mengembangkan industri semikonduktor China, mengurangi ketergantungan pada teknologi AS.
Kesimpulan: Strategi Mengatasi Brain Drain
Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan China menunjukkan bahwa pencegahan brain drain membutuhkan inisiatif pemerintah yang kuat, dengan pendanaan memadai dan peluang kerja berkualitas. Insentif seperti gaji tinggi, pendanaan riset, dan infrastruktur yang memadai sangat penting. Fokus pada industri teknologi tinggi dan sains-inovasi, serta kolaborasi dengan universitas terkemuka, juga krusial. Komitmen nasional yang kuat dalam berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia berkualitas adalah kunci keberhasilan.
Dengan mempelajari strategi negara-negara Asia ini, Indonesia dapat merancang kebijakan yang efektif untuk mencegah brain drain dan menghadapi dampak dari tren #KaburAjaDulu.