Belajar dari Belanda dan Vietnam: Mengatasi Tantangan Lahan Rawa untuk Ketahanan Pangan Indonesia
Indonesia dapat belajar dari pengalaman Belanda dan Vietnam dalam mereklamasi lahan rawa sulfat masam untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengelola lahan rawa sulfat masam untuk pertanian. Namun, pengalaman negara lain, seperti Belanda dan Vietnam, memberikan pelajaran berharga dalam mengatasi kendala ini dan meningkatkan produktivitas lahan. Artikel ini akan mengulas sejarah reklamasi lahan rawa di negara-negara tersebut dan mengkaji implikasinya bagi pengembangan pertanian di Indonesia.
Belanda, sejak abad ke-18, telah berhasil mereklamasi lahan rawa, khususnya Danau Haarlemmermeer. Proses ini, yang memakan waktu lebih dari dua abad, diawali dengan upaya manual dan kemudian memanfaatkan teknologi mesin uap. Meskipun berhasil mengeringkan danau, proyek ini menimbulkan masalah baru berupa tanah masam yang beracun, menyebabkan gagal panen dan kelaparan. Namun, melalui ketekunan para ahli pertanian, masalah ini berhasil diatasi, menjadikan Haarlemmermeer kawasan pertanian yang produktif.
Vietnam juga memiliki pengalaman serupa dalam pengembangan Delta Mekong. Pengerukan lahan rawa di bawah pemerintahan kolonial Perancis, meskipun sempat terhenti karena berbagai faktor, akhirnya berhasil direvitalisasi pascaperang dengan bantuan ahli dari Amerika dan Belanda. Meskipun menghadapi tantangan serupa dengan Belanda, yaitu adanya tanah beracun (catclay), Vietnam berhasil menjadikan Delta Mekong sebagai kawasan pertanian padi dan akuakultur yang sangat produktif, mendukung ekspor beras dan hasil lautnya.
Reklamasi Lahan Rawa: Pelajaran dari Negara Lain
Pengalaman Belanda dan Vietnam menunjukkan bahwa reklamasi lahan rawa membutuhkan waktu, teknologi, dan keahlian yang memadai. Kedua negara tersebut menghadapi tantangan berupa tanah masam yang disebabkan oleh mineral pirit (catclay). Namun, melalui riset dan pengembangan teknologi, serta kebijakan yang tepat, mereka berhasil mengatasi masalah tersebut dan menjadikan lahan rawa sebagai sumber produksi pangan yang signifikan.
Di Belanda, permasalahan tanah masam berhasil diatasi dengan penelitian intensif dan pengembangan teknik pertanian yang sesuai. Sementara di Vietnam, selain riset, keberhasilan juga ditopang oleh kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan pertanian di Delta Mekong, termasuk kampanye "Rice everywhere".
Thailand, dengan Delta Chao Phraya-nya, juga menghadapi tantangan serupa. Penelitian oleh Dr. van Bremen dan timnya pada tahun 1970-an menemukan penyebab kemasaman tanah yang sama, yaitu mineral pirit. Mereka kemudian mengembangkan sistem tata air yang mampu menjaga kadar air tanah agar pirit tetap dalam kondisi reduksi (basah) dan tidak teroksidasi menjadi catclay.
Pengalaman Indonesia dalam Mereklamasi Lahan Rawa
Indonesia juga memiliki pengalaman dalam mereklamasi lahan rawa, terutama pada periode 1970-1980-an. Proyek P4S (Proyek Pengembangan Prasarana dan Sarana Pertanian) berhasil membuka lahan rawa seluas 1,8 juta hektar, meningkatkan produksi padi dan meraih penghargaan FAO atas keberhasilan swasembada pangan pada tahun 1986.
Para ahli Indonesia, seperti Prof. Tejoyuwono Notohadiprawiro, menghadapi berbagai tantangan dalam mereklamasi lahan rawa. Namun, dengan keahlian dan inovasi, mereka berhasil mengatasi berbagai kendala dan menjadikan lahan rawa sebagai lahan pertanian yang produktif. Contohnya, Kabupaten Banyuasin dan Ogan Ilir di Sumatera Selatan mampu menghasilkan padi hingga 7-8 ton/hektare dengan pengaturan muka air tanah yang tepat.
Sistem tata air yang dikembangkan, seperti sistem garpu di Kalimantan dan sistem sirip ikan di Sumatera, juga berperan penting dalam keberhasilan ini. Sistem-sistem tersebut dirancang oleh para ahli dari UGM dan ITB, dan terbukti efektif dalam meningkatkan produktivitas lahan rawa pasang surut.
Ancaman Alih Fungsi Lahan
Meskipun telah mencapai kemajuan signifikan, lahan rawa pasang surut di Indonesia kini menghadapi ancaman baru, yaitu alih fungsi lahan. Data dari Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan menunjukkan bahwa alih fungsi lahan sawah terbesar di Sumatera dan Kalimantan adalah untuk perkebunan kelapa sawit. Hal ini mengancam keberlanjutan produksi pangan dan perlu diatasi dengan kebijakan yang tegas dan komitmen dari para pemangku kepentingan.
Kesimpulannya, Indonesia dapat belajar banyak dari pengalaman Belanda, Vietnam, dan Thailand dalam mereklamasi dan mengelola lahan rawa sulfat masam. Dengan menggabungkan kearifan lokal, riset teknologi, dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.