DKI Jakarta Sempurnakan RDF Plant Rorotan: Atasi Masalah Bau dan Pemantauan Kualitas Udara
Pemprov DKI Jakarta melakukan penyempurnaan pada cerobong asap dan sistem pengolahan di RDF Plant Rorotan untuk mengatasi masalah bau dan meningkatkan transparansi dengan pemantauan kualitas udara.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menyelesaikan penyempurnaan pada fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar (RDF Plant) di Rorotan, Jakarta Utara. Penyempurnaan ini difokuskan untuk mengatasi keluhan warga terkait bau tidak sedap yang selama ini mengganggu permukiman sekitar. Penyempurnaan tersebut meliputi peningkatan sistem cerobong asap dan optimalisasi alat-alat pengolahan udara. Hal ini diumumkan langsung oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, pada Selasa, 25 Februari 2024.
Menurut Asep Kuswanto, "Ini ada improvement (penyempurnaan) di bagian cerobong supaya asap yang keluar tidak banyak lagi dan tidak berwarna hitam, dan sudah dijamin tidak berbau."
Langkah-langkah yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta tidak hanya sebatas pada penyempurnaan cerobong asap. Mereka juga memastikan seluruh sistem pendukung pengolahan sampah berfungsi optimal. Sistem ini termasuk deodorizer, cairan penghilang bau, instalasi pengolahan air limbah (WWTP), dan filter karbon untuk menyerap sisa partikel bau.
Teknologi Pengolahan Sampah dan Transparansi Data
Sebagai bentuk komitmen terhadap transparansi, Pemprov DKI Jakarta juga memasang alat pemantau kualitas udara di sekitar RDF Plant Rorotan. Data kualitas udara ini akan dipublikasikan dan dapat diakses oleh masyarakat. Asep Kuswanto menegaskan, "Kami juga memasang alat pemantau kualitas udara. Jadi nanti kami memang akan sangat transparan atau dapat dilihat masyarakat terhadap laporan kualitas udara."
RDF Plant Rorotan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 2.500 ton per hari. Dari jumlah tersebut, dihasilkan bahan bakar alternatif Refuse Derived Fuel (RDF) sebanyak 875 ton per hari. RDF ini dapat dimanfaatkan sebagai pengganti batu bara di industri semen. Residu pengolahan sampah, berupa kepingan kaleng, kayu, dan lainnya, juga dapat dimanfaatkan kembali.
Asep menjelaskan lebih lanjut mengenai proses pengolahan sampah dan residunya, "Bukan residunya adalah 2.500 dikurang 875 sama dengan sekitar 1.625 ton. Sampah Jakarta 70-80 persen adalah air. Di saat dilakukan pemrosesan di sini airnya itu dikurangi sampai di bawah 20 persen."
Tidak Ada Kompensasi untuk Warga
Terkait pertanyaan mengenai kompensasi bagi warga yang terdampak bau sebelumnya, Asep Kuswanto menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada rencana pemberian kompensasi. Ia menyatakan, "Dan kalau kembali apakah ada dana kompensasi. Saya tegaskan hingga saat ini memang tidak ada wacana pemberian kompensasi seperti halnya di Bantar Gebang, Bekasi. Karena memang ini sampah kita dan ini adalah upaya dari Pemprov DKI Jakarta untuk dapat mengolah sampah secara baik."
Dengan penyempurnaan ini, diharapkan permasalahan bau di sekitar RDF Plant Rorotan dapat teratasi sepenuhnya dan kualitas udara di sekitar lokasi dapat terus dipantau dan ditingkatkan. Transparansi data kualitas udara juga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap upaya Pemprov DKI Jakarta dalam pengelolaan sampah.