Efisiensi Anggaran Ancam 750 Agenda MICE di Bali, Potensi Kerugian Rp3,15 Triliun
750 agenda MICE di Bali terdampak efisiensi anggaran pada triwulan I-2025, berpotensi menimbulkan kerugian hingga Rp3,15 triliun dan mengancam 2.500 pekerja di sektor pariwisata.

Denpasar, 21 Maret 2025 - Dewan Industri Event Indonesia (IVENDO) Bali mengungkapkan kabar yang mengkhawatirkan bagi industri pariwisata Pulau Dewata. Sebanyak 750 agenda konferensi, perjalanan, konvensi, dan pameran (MICE) diprediksi terdampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pada triwulan pertama tahun 2025. Dampaknya signifikan, tidak hanya pada sektor MICE itu sendiri, tetapi juga pada sektor-sektor pendukung seperti perhotelan, transportasi, dan UMKM.
Ketua DPD IVENDO Bali, Grace Jeanie, menyampaikan keprihatinannya terkait potensi kerugian ekonomi yang mencapai angka fantastis. "Jika tren ini berlanjut sepanjang tahun, industri event di Bali diperkirakan mengalami potensi kerugian hingga Rp3,15 triliun," ujarnya dalam keterangan pers di Denpasar, Jumat lalu. Kerugian tersebut mencakup hilangnya pendapatan bagi penyelenggara acara (EO), vendor, tenaga kerja lepas, dan sektor-sektor penunjang lainnya.
Angka tersebut bukan sekadar prediksi, melainkan hasil survei IVENDO Bali kepada 44 pelaku industri MICE di Bali. Lebih dari 85 persen responden mengaku mengalami penurunan pendapatan akibat pemangkasan anggaran perjalanan dinas, rapat, dan seminar pemerintah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak berkelanjutan terhadap perekonomian Bali yang selama ini sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Ancaman PHK dan Penurunan Kunjungan Wisatawan Bisnis
Tidak hanya kerugian finansial yang menjadi sorotan, dampak efisiensi anggaran juga mengancam stabilitas lapangan kerja. Sekitar 2.500 pekerja tetap dan tidak tetap di sektor MICE Bali berisiko kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan pendapatan. Hal ini tentu akan berdampak luas pada perekonomian masyarakat Bali.
Lebih lanjut, Grace Jeanie menjelaskan bahwa penurunan jumlah agenda MICE juga akan berdampak pada penurunan kunjungan wisatawan bisnis. Akibatnya, tingkat okupansi hotel akan menurun, penggunaan layanan transportasi berkurang, dan konsumsi di restoran serta destinasi wisata ikut terpengaruh. Kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan berbagai sektor di Bali.
IVENDO Bali menekankan pentingnya peran industri event dalam perekonomian global dan nasional. Mengutip studi Oxford Economics tahun 2018, industri event global menyumbang 2,5 triliun dolar AS kepada perekonomian dunia dan menciptakan 26 juta lapangan kerja. Di Indonesia sendiri, sektor ini berkontribusi sekitar Rp120 triliun terhadap PDB dan menopang ekonomi sekitar 278.000 pekerja.
Solusi dan Harapan IVENDO Bali
Menimbang dampak signifikan efisiensi anggaran terhadap industri MICE Bali, IVENDO Bali mengajukan beberapa solusi dan harapan kepada pemerintah. Pertama, peninjauan kembali kebijakan efisiensi anggaran agar tidak berdampak terlalu besar pada sektor pariwisata. Kedua, pemberian insentif industri event berupa keringanan pajak dan biaya perizinan, terutama bagi UMKM dan tenaga kerja lokal.
Ketiga, penguatan digitalisasi dan penyelenggaraan agenda MICE secara hibrida dengan memanfaatkan teknologi digital. Hal ini diharapkan dapat mengurangi biaya penyelenggaraan tanpa harus membatalkan agenda. Keempat, kolaborasi antara swasta dan pemerintah (KPBU) untuk mendukung industri event. Terakhir, diversifikasi pariwisata, misalnya dengan pengembangan pariwisata terkait kebugaran atau wellness, untuk menyokong ekonomi Bali.
Dengan mempertimbangkan kontribusi signifikan industri MICE terhadap perekonomian Bali dan Indonesia secara keseluruhan, diharapkan pemerintah dapat memberikan perhatian serius terhadap permasalahan ini dan mengambil langkah-langkah strategis untuk meminimalisir dampak negatifnya.