Efisiensi Rp300 Triliun: Bukan Modal Operasional untuk Danantara, Tegaskan Penasihat Prabowo
Penasihat Presiden tegaskan Rp300 triliun hasil efisiensi anggaran negara bukan untuk modal operasional Danantara, melainkan untuk investasi demi pertumbuhan ekonomi.

Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini mengumumkan rencana pemanfaatan efisiensi anggaran negara sebesar Rp300 triliun. Pengumuman tersebut langsung menimbulkan pertanyaan publik, terutama mengenai alokasi dana tersebut. Siapa yang akan mengelola dana tersebut? Untuk apa dana tersebut digunakan? Dan bagaimana mekanisme penggunaannya? Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab setelah Penasihat Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro, memberikan klarifikasi.
Bambang Brodjonegoro, seusai menghadiri Digital Economic Forum di Jakarta pada Selasa, menjelaskan bahwa dana Rp300 triliun tersebut tidak ditujukan sebagai suntikan modal operasional untuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Ia menegaskan bahwa Danantara, yang baru diluncurkan pada Senin (24/2) lalu, sudah memiliki modal yang cukup dari aset-aset BUMN yang kini berada di bawah naungannya. "Jadi struktur modalnya apa yang ada sekarang. Kalau misalnya Pak Presiden mengatakan akan ada yang diinvestasikan (Rp300 triliun) melalui Danantara, itu maksudnya bukan untuk memberikan modal kepada Danantara," jelas Bambang.
Lebih lanjut, Bambang menjelaskan bahwa dana Rp300 triliun tersebut akan diinvestasikan oleh Danantara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mendukung berbagai program pembangunan pemerintah. Ia menekankan bahwa dana ini bukanlah tambahan modal dari APBN, melainkan hasil efisiensi anggaran yang dialokasikan untuk program-program prioritas lainnya. "Tentunya kalau anggaran kan memang dalam satu disiplin APBN. APBN dipakai untuk apa? Ya untuk program-program prioritas, kan bisa saja misalkan tidak hanya makan bergizi gratis (MBG), atau untuk tiga juta rumah. Nah tiga juta rumah kan tidak harus semuanya dari APBN, tapi bisa dengan skema investasi melibatkan baik BUMN maupun perasaan swasta," tambahnya.
Dana Rp300 Triliun untuk Investasi, Bukan Modal Operasional
Bambang Brodjonegoro secara tegas membantah anggapan bahwa Rp300 triliun tersebut merupakan suntikan modal operasional untuk Danantara. Ia menjelaskan bahwa Danantara, sebagai superholding BUMN, telah memiliki modal yang cukup dari aset-aset BUMN yang berada di bawah pengelolaannya. "Ya modal Danantara adalah yang apa yang ada sekarang di BUMN. Ini kan kayak membuat semacam superholding dari BUMN. Jadi ya di jumlah semua, modalnya Pertamina, Telkom, Bank Mandiri dan semuanya," ujarnya.
Meskipun tidak mengetahui secara pasti jumlah yang dialokasikan untuk Danantara, Bambang memastikan bahwa modal operasional Danantara berasal dari BUMN yang kini dikelola dalam bentuk superholding. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah memiliki perencanaan yang matang dalam pengelolaan Danantara dan pemanfaatan dana efisiensi anggaran.
Pernyataan Bambang ini memberikan kejelasan mengenai penggunaan dana Rp300 triliun. Dana tersebut bukan untuk menutupi defisit atau menambah modal operasional Danantara, melainkan untuk diinvestasikan guna mendukung program-program pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Danantara: Sovereign Wealth Fund Indonesia
Danantara, yang diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto, merupakan Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Indonesia. SWF ini akan mengelola aset hingga lebih dari 900 miliar dolar AS, dengan proyeksi dana awal mencapai 20 miliar dolar AS. Danantara akan memegang dua holding, yakni operasional yang dipimpin oleh Dony Oskaria dan bidang investasi yang dipimpin oleh Pandi Sjahrir.
Presiden Prabowo juga menunjuk Menteri BUMN Erick Thohir sebagai Ketua Dewan Pengawas Danantara, dibantu oleh Wakil Ketua Dewan Pengawas Muliaman Hadad. Struktur kepemimpinan yang kuat ini diharapkan dapat memastikan pengelolaan aset negara secara transparan dan akuntabel.
Dengan diluncurkannya Danantara dan adanya klarifikasi mengenai penggunaan dana Rp300 triliun, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pengelolaan aset negara secara profesional dan transparan menjadi kunci keberhasilan Danantara dalam mencapai tujuannya.
Secara keseluruhan, penjelasan Bambang Brodjonegoro memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai penggunaan dana Rp300 triliun. Dana tersebut akan diinvestasikan oleh Danantara, bukan digunakan sebagai modal operasional. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengelola keuangan negara secara efisien dan efektif untuk pembangunan Indonesia.